Sempat Dianggap Gila, Bule Inggris Ini Urus Sampah Plastik


Kamis, 19 April 2018 - 08:58:07 WIB
Sempat Dianggap Gila, Bule Inggris Ini Urus Sampah Plastik Karen Ball saat memungut sampah di Kepulauan Sipora, Mentawai. Dok

Laporan: Ferdi Saputra

Kabupaten Kepulauan Mentawai disebut banyak kalangan sebagai surganya para peselancar, terutama bagi para bule. Jauh-jauh mereka datang ke wilayah tersebut, tujuan mereka, cuma satu. Surfing.

Baca Juga : SKB 3 Menteri Terkait Pemakaian Seragam siswa Perlu Ditinjau Ulang

Bupati setempat, Yudas Sabaggalet di hadapan wartawan nasional yang berkunjung saat peringatan HPN februari 2018 lalu, dengan pede mengklaim, ombak selancar yang kabupaten yang ia pimpin adalah terbaik kedua di dunia setelah Hawaii di Amerika sana.

"Kami punya spot surfing ombak terbaik kedua di dunia setelah Hawaii," katanya.

Baca Juga : Jangan Ikuti! Iblis Penebar Hoaks Pertama

Namun, siapa mengira dengan ulah bule yang satu ini. Karen Ball, demikian nama bule cantik itu. Ia datang ke Mentawai tak sekedar berselancar, tapi juga mengampanyekan aksi bebas sampah plastik di Mentawai. Ia bahkan bela-belain memungut sampah plastic yang bertebaran, seperti di  Pantai Mapadegat dan beberapa tempat lainnya, termasuk di Tua Peijat, Ibu Kabupaten Kapulauan Mentawai.

Bule Inggris ini tak sendiri “mengurus” sampah di perairan Mentawai. Ia didukung suaminya, Tom (39) untuk menggencarkan kegiatan berlebel a Perfect Foundation, sebuah yayasan peduli lingkungan yang berbasis di Australia.  Lewat yayasan (NGO) ini, Karen punya mimpinya sendiri untuk surga teras samudera Indonesia itu.Ia memiliki mimpi besar menjadikan Mentawai bersih dari sampah plastik dan sampah lainnya.

Baca Juga : Surau Inyiak Djambek, Warisan Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam

Dijelaskannya, yayasan itu memayungi komunitas peduli sampah yang memberdayakan masyarakat setempat. Sebutannya, pahlawan sampah yang terbentuk komunitas pada saat Festival Pesona Mentawai,  April 2016 silam.

" Apa yang orang pikirkan tentang Mentawai, pasti keindahan alam dan pantainya. Tetapi ketika saya jalan dan melihat banyak sampah plastik, tentunya pikiran itu bisa sirna. Akibatnya, ini akan menjadikan Mentawai kotor dan akan merusak keindahan, " tandanya sambil mengajak semua warga di Mentawai khususnya dan Indonesia umumnya untuk tidak terlalu banyak menggunakan plastik saat berbelanja.

Baca Juga : Prabowo dan Habib Rizieq

"Saya berfikir mungkin banyak orang menganggap saya gila, ketika saya berbelanja sayuran di toko, sayur tersebut saya masukkan ke dalam jok motor, tanpa menggunakan plastik, "ungkapnya saat diundang pada acara Pencanangan Bulan Bakti Dasawisma, Senin lalu (16/4) di halaman Kantor Bupati Mentawai.

Sudah tahun ketiga a perfect foundation hadir di Mentawai dan melihat masalah sampah yang perlu ada tindakan yang serius. Tapi, ia sadar benar bahwa mimpinya itu tak bisa diwujudkan sendiri atau sekelompok orang saja.  Tanpa bantuan semua masyarakat Mentawai dalam hal ini menjaga kebersihan lingkungan dari limbah plastik, tentu itu akan mustahil terjadi.

Selama menjalankan aktifitas membersihkan pantai, setidaknya dalam satu bulan para pahlawan sampah itu bisa mengumpulkan sampah plastik hingga 200 kg. Volume sebanyak itu, aku Karen, hanyalah baru di seputaran Desa Tua Peijat.

Diakuinya, saat ini Instansi pemerintahan di Tua Peijat mulai menanggapi permintaannya untuk tidak membuang sampah plastik pada saat ada kegiatan rapat dan kegiatan lainnya dan mulai menyisihkan sampah setelah acara tadi.

Kalau ada acara pemerintah, pasti ada banyak botol minum dan gelas plastik, semua mereka kumpulkan karena khawatir dibuang dan bisa mencemari lingkungan, " tuturnya

Menurut Karen sampah plastik sebenarnya ada penampungnya di Tua Peijat namun dibeli dengan harga yang terlalu murah. Imbasnya, masyarakat tak antusias dan mereka jarang yang mau mencarinya.

"Harga yang ditawarkan terlalu murah. Mungkin dua ribu rupiah satu kilogram. Dan ingat,  satu kilogram itu banyak botol plastiknya," katanya

Untuk membuat keterampilan dari limbah sampah plastik itu ia mencari tahu dan belajar di beberapa tempat dan mencari referensi di internet. Selanjutnya, apa yang ia dapat diteruskan kepada sejumlah muridnya yang perempuan dan sejumlah warga di seputar Mapadegat itu.

"Saya melihat ada daur ulang sampah yang lebih bermanfaat, untuk itu kita belajar dan mengajar perempuan di Mapadegat agar mereka bisa membuat karya bermanfaat dari sampah, " Ungkapnya

Sejauh ini kata Karen, karena hal itu masih baru dan masih belajar, belum ada hasil karya tangan dari limbah plastik itu yang dipasarkan, kedepan katanya pasti akan ada karya yang sempurna dan ada nilai jual yang bagus.

Tak hanya peduli dengan lingkungan dan kebersihan di Mentawai, sebelum menggagas dan membentuk pahlawan sampah, ia telah membuka les bahasa inggris bagi masyarakat Mentawai mulai dari tingkat SD, SMP, SMA dan Umum yang penting ada kemauan untuk belajar bahasa inggris. Menurutnya, sebagai daerah wisata yang banyak dikunjungi wisatawan asing, hal itu tentu penting.

Kelas bahasa inggris itu telah ada sejak tiga tahun terakhir ini, dimana jumlah murid mencapai 100 orang, yang dibagi menjadi beberapa kelas, yang kemudian jadwal belajar bisa dipilih oleh murid sesuai dengan waktu yang bisa dimanfaatkan, misalnya anak sekolah setelah pulang sekolah begitu juga sebaliknya para pegawai bank, pegawai kontrak dan PNS di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kepulauan.

Sementara itu untuk biaya pendaftaran empat bulan pertama murid wajib membayar Rp100 Ribu, kemudian tiap empat selanjutnya murid dikenakan biaya Rp 50 Ribu.

Pembelajarannya kata Karen lebih banyak percakapan sehari-hari dengan metode belajar berdiskusi dan bermain peran hingga membuat sebuah kuis.

"Uang pendaftaran kami gunakan untuk keperluan belajar dan dan itu sangat sedikit tidak cukup, itu motivasi agar murid mau belajar, kami sangat senang mengajar, kami tidak cari uang dari itu, " Ungkapnya

Dalam satu kali pertemuan sekira 1—2 jam Tom dan Karen masing-masing mengajar di kelas yang berbeda dan memanfaatkan satu ruangan kamar dan satu kelas lagi di ruang tamu di rumah kontrakan yang berukuran kurang lebih 6x12 Meter persegi.

Di saat waktu luang Karen dan Tom memanfaatkan waktu itu untuk menikmati gulungan ombak di salah satu Spot surfing di Mapadegat, yang mana keduanya memiliki hobi berselancar.  Di samping itu ia juga mengajarkan murid-muridnya bermain selancar di ombak pantai Mapadegat, Desa Tuapejat, Kecamatan Sipora Utara.

Kendati demikian sebagai orang perantau yang jauh dari keluarga, karea dan Tom setiap tahun pulang ke negara untuk melepaskan rindu dengan keluarga, selama dua bulan tinggal di Inggris, mereka kembali lagi ke Indonesia. (*)

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Selasa, 09 Februari 2021 - 14:07:37 WIB

    SKB 3 Menteri Terkait Pemakaian Seragam siswa Perlu Ditinjau Ulang

    SKB 3 Menteri Terkait Pemakaian Seragam  siswa Perlu Ditinjau Ulang Ternyata persoalan pemakaian jilbab bagi siswi Non Muslim di SMKN 2 Padang,  belum berakhir. Pemberitaannya hiruk pikuk dan viral  diperbincangkan secara nasional dalam dunia pendidikan. Sampai Mendikbud terpancing angkat b.
  • Kamis, 04 Februari 2021 - 14:45:37 WIB

    Jangan Ikuti! Iblis Penebar Hoaks Pertama

    Jangan Ikuti!  Iblis Penebar Hoaks Pertama Kita barangkali akrab dengan cerita Nabi Adam ‘alaihissalam diciptakan oleh Allah SWT sebagai khalifah. Melalui anugerah ilmu, Allah memuliakan Nabi Adam di atas malaikat dan iblis..
  • Senin, 01 Februari 2021 - 16:58:52 WIB

    Surau Inyiak Djambek, Warisan Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam

    Surau Inyiak Djambek, Warisan Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam Syekh Muhammad Djamil Djambek adalah ulama pelopor pembaruan Islam dari Sumatra Barat awal abad ke-20, dilahirkan pada tahun 1860 di Bukittinggi, terkenal sebagai ahli ilmu falak terkemuka..
  • Senin, 04 Januari 2021 - 09:37:20 WIB

    Prabowo dan Habib Rizieq

    Prabowo dan Habib Rizieq Partai Gerindra sungguh seperti berkayuh di antara dua karang dalam bersikap terhadap kasus yang dialami Habib Rizieq Sihab (HRS), Ormas dan pengikutnya sekarang ini. .
  • Kamis, 31 Desember 2020 - 20:46:02 WIB

    Catatan Akhir Tahun (4): Selamat Tinggal Tahun Kelam

    Catatan Akhir Tahun (4): Selamat Tinggal Tahun Kelam TAHUN 2020 segera akan berakhir. Tahun 2021 segera akan tiba. "Selamat tinggal tahun 2020. Selamat tinggal tahun kelam. Selamat tinggal tahun yang penuh dengan kepahitan hidup. .
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]