Prihatin Nasib Petani, Mahasiswa Sumbar Deklarasikan Gema Tani


Senin, 14 Mei 2018 - 10:00:41 WIB
Prihatin Nasib Petani, Mahasiswa Sumbar Deklarasikan Gema Tani Deklarasi--Para mahasiswa yang merupakan perwakilan dari berbagai perguruan tinggi di Sumbar, foto bersama selepas deklarasi berdirinya Gerakan Mahasiwa Petani Indonesia (Gema Tani) Wilayah Sumbar, di Sekretariat SPI Sumbar, Minggu (13/5). YUTISWANDI

PADANG, HARIANHALUAN.COM--Sedikitnya, 200 orang mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Sumatera Barat bergabung dan mendeklarasikan diri membentuk gerakan mahasiswa Petani Indonesia (Gema Tani) untuk wilayah Sumbar.

Deklarasi itu digelar di sekretariat Serikat Petani Indonesia (SPI) Wilayah Sumbar di Kota Padang, Minggu (13/5).

Baca Juga : PKL di Solsel Ditertibkan, Melanggar Bakal Disanksi Sesuai Peraturan Daerah

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah SPI Sumbar Rustam Efendi kepada Haluan mengungkapkan, pembentukan Gema Tani ini beranjak dari keprihatinan terhadap nasib petani yang kian termarginalkan saat ini.

Sementara di sisi lain, saat ini gerakan mahasiswa tidak memiliki arah perjuangan yang jelas dan konkret. 

Baca Juga : Resmi Jadi Gubernur-Wagub Sumbar 2021-2024, Ini yang akan Dilakukan Mahyeldi-Audy Usai Dilantik Presiden

Padahal kata dia, sejak awal berdiri pada 8 juli 1998 SPI telah melibatkan mahasiswa dalam perjuangan petani.

Namun antusias mahasiswa di berbagai wilayah maupun pusat untuk terlibat dalam perjuangan petani belum terlembagakan dalam satu organisasi mahasiswa berbasis perjuangan petani.

Baca Juga : Jokowi Lantik Tiga Gubernur Sekaligus, Siapa Saja Orangnya?

"Kami melihat kondisi petani kecil hari ini tidak mengalami perubahan yang signifikan. Reforma agraria yang dicanangkan 58 tahun lalu mengamanatkan distribusi tanah minimal 2 ha per Kepala Keluarga belum maksimal dilakukan oleh rezim yang berkuasa," terangnya. 

Sedangkan, berdasarkan sensus pertanian tahun 2013 sebanyak 22,9 juta rumah tangga atau 87,63% dari jumlah total rumah tangga petani.

Baca Juga : Dilepas Ketua DPRD Agam, Jenazah Syafrizal Diantar ke Pandam Pemakaman Keluarga

"Mayoritas adalah pemilik lahan kurang dari 0,5 ha atau disebut sebagai petani gurem (BPS,2013)," terangnya. 

Pihaknya memyebutkan, tidak hanya persoalan lahan tetapi masalah produksi hasil pertanian dari hulu dan hilir belum menjadi prioritas peningkatan kesejahteraan petani, hal tersebut juga memposisikan petani tidak berdaulat atas harga jual atas hasil produksinya.

Semua masalah itu kemudian bermuara pada penghasilan yang pas-pasan atau bahkan hanya cukup untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup harian keluarga.

"Pilihannya adalah bertahan atau menyerah. Jika menyerah pilihannya adalah masuk ke sektor formal-mapan menjadi buruh di perusahaan atau jika bertahan tetap dengan kehidupan susah, tanpa jaminan resiko gagal panen, ancaman hutang, sakit akibat penggunaan zat kimia beracun, dll," katanya 

Belum lagi semakin menghujamnya kebijakan-kebijakan World trade organization (WTO) yang menseragamkan sistem perdagangan untuk seluruh dunia dengan konsep free trade (Perdagangan Bebas) tentu saja dalam hal ini tidak berkeadilan terhadap petani kita yang belum siap menghadapi itu.

"Jikapun siap tentu saja kita menolak segala bentuk penjajahan, baik itu secara senjata maupun secara ekonomi-politik bercorak eksploitatif dan tidak manusiawi," katanya.

Tersebab itu, setelah melakukan berbagai diskusi di kampus-kampus yang berada di Padang yakni, Universitas Andalas, Universitas Putra Indonesia YPTK, Universitas Negeri Padang, Universitas Nahdatul Ulama.

Membentuk pemahaman yang sama bahwa mahasiswa harus mulai menatap masalah pokok, menegaskan posisi keberpihakan, serta aktif berjuang bersama rakyat khususnya petani.

Tekad itu kemudian dibulatkan setelah melakukan pendidikan dan diskursus bersama aktivis petani serta akademisi peduli petani, yakni Rustam Efendi (Ketua Dewan Pengurus Wilayah SPI Sumbar) Virtuous Setyaka (Dosen Hubungan Internasional Fisip Universitas Andalas), Didi Rahmadi (Dosen Ilmu Politik Fisip Universitas Andalas), dengan materi : Sejarah Gerakan Mahasiswa dan Kaum Tani, Organisasi, keorganisasian dan pengorganisasian, dan Ekonomi Kerakyatan.

Hal itu kemudian ditindaklanjuti dengan pendeklarasian diri sebagai Gerakan Mahasiswa Petani Indonesia Wilayah Sumatera Barat (GEMA PETANI Wilayah Sumatera Barat) dan bergerak bersama rakyat kaum tani, bersiap melawan free trade serta bertujuan agar keluarga tani mandiri secara ekonomi dan berwatak sebagai rakyat yang merdeka serta berdaulat di negara sendiri.

"Deklarasi ini merupakan deklarasi propinsi pertama dan pasti akan diikuti oleh 28 propinsi lain di Indonesia, di bawah payung perjungan Serikat Petani Indonesia (SPI)," bebernya.

Lahirnya lembaga ini kata dia, diharapkan menjadi wadah konkrit perjuangan mahasiswa Indonesia mendukung perjuangan petani dan wadah untuk melahirkan kader-kader yang memiliki garis perjuangan bersama petani dan elemen masyarakat lain, untuk mewujudkan kesejahteraan sosial yang berkeadilan, melalui pembaharuan Agraria dan kedaulatan pangan.

"Sebelum pendirian Gema petani wilayah sumatera barat, juga telah dilaksanakan pendidikan organisasi  gerakan mahasiwa petani indonesia yang dihadiri oleh 30 mahasiwa dari berbagai perguruan tinggi di sumatra Barat," tambahnya . 

Pendidikan ini dilaksanakan sebagai langkah awal berdirinya Gema Petani yang dengan pembekalan materi tentang Sejarah gerakan kaum tani dan mahasiswa oleh Virtuous Setyaka, dilanjutkan organisasi dan pengorganisasian dan serta ekonomi kerakyatan oleh Ketua SPI Rustam Efendi.

"Sudah saatnya mahasiswa dan petani bersama-sama membangun gerakan dalam mewujudkan kedaulatan pangan di negeri ini,” tambah Virtous Setyaka. 

Menjawab harapan itu, Juni Waldi selaku ketua terpilih memgatakan, dengan terbentuknya Gema Petani wilayah sumatera barat terbentuklah kader yang berjuang bersama petani serta rakyat indonesia. Selain itu untuk mewujudkan kesejahteraan sosial yang berkeadilan, melalui pembaruan agraria dan kedaulatan pangan.

“Kami berharap akan ada pembentukan dan deklarasi gema petani di wilayah lainnya dalam waktu dekat,  kemudian memulai melakukan kerja-kerja sesuai dalam amanah AD/ART Gema Petani demi terwujudnya Hak Azasi Petani dan Reforma Agraria Sejati”, pungkasnya.

Deklarasi diakhiri dengan pembacaan Deklarasi oleh 4 mahasiswa sebagai perwakilan kampus dan dibarengi sesi foto bersama. (h/ndi)

 

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]