Beberapa Peluang Kekalahan Mahyeldi


Sabtu,19 Mei 2018 - 20:49:29 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Beberapa Peluang Kekalahan Mahyeldi Ronny P Sasmita

 

Melirik hasil perolehan suara Mahyeldi-Emzalmi pada Pilkada Kota Padang lima tahun lalu,  rasanya peluang untuk mengalahkan Mahyeldi-Hendri Septa di hari ini tetap ada.  Sekalipun belakangan dihembuskan berita-berita bahwa pihak Mahyeldi-Septa sudah merasa di atas angin, toh bila berkaca pada canalisasi perolehan suara pada Pilkada lalu,  terlihat jelas sebenarnya kantong real suara Mahyeldi sangatlah tak memungkinkan untuk membuat beliau menang telak alias masih besar peluang untuk lawannya bergerak progresif menyamai bahkan mengalahkan beliau. 

Berdasarkan hasil rekapitulasi penghitungan suara dari 11 kecamatan pada Pilkada 2013 lalu,  pasangan Mahyeldi-Emzalmi memperoleh 148.864 suara atau 50,29 persen dan pasangan Desri Ayunda-James Helyward meraih 147.168 suara atau 49,71 persen. Total masyarakat yang menggunakan hak pilih pada pilkada putaran II sebanyak 300.227 atau 52,79 persen dengan jumlah surat suara tidak sah 4.197 (total 53,06 persen).  

Catatan pertama, jika dilihat secara detail,  total pemilih Mahyeldi Emzalmi kala itu hanya sekira 25-28 persen dari total pemilih Kota Padang yang tercatat sekira 500 ribuan pemilih.  Saya yakin,  khusus untuk pemilih Mahyeldi,  angka yang diraih sudah sangat maksimum saat itu mengingat karakter militansi kader-kader Partai PKS.  Semua pemilih tetap Mahyeldi dipastikan sudah memilih saat itu,  kecuali yang sekarat menjelang ajal atau mendadak gila, mendadak kejang-kejang tak karuan,  atau pula mendadak pingsan.  Artinya,  ada suara yang tidak untuk Mahyeldi dan Emzalmi sekira 72-75 persen dari total pemilih Kota Padang.  

Catatan kedua,  dari total raihan Mahyeldi-Emzalmi yang 50 persen lebih sekuku itu,  harus pula dipisahkan antara pemilih Mahyeldi dan pemilih Emzalmi.  Katakan saja kita belah secara adil antara keduanya,  maka Mahyeldi kebagian 75ribuan setali tiga uang dengan Emzalmi.  Jika memakai logika awal saya tadi, dengan karakter pemilih yang sudah saya jabarkan di atas,  pemilih Mahyeldi sudah ada pada titik "utilitas maksimum". Maka sebenarnya "captive market" atau pemilih fanatis Mahyeldi hanya kurang dari 20 persen total pemilih Kota Padang, katakan saja sekira 18 persenan. Nah,  dalam catatan ini,  sebenarnya peluang Mahyeldi dan Emzalmi sebenarnya sama, tak berbeda. 

Catatan ketiga, peluang progresifitas suara Mahyeldi karena jabatan lima tahun sebagai walikota Padang sejatinya sama dengan peluang progresifitas suara Emzalmi karena keduanya sama-sama menjabat.  Okelah jika kita pakai asumsi bahwa walikota jauh lebih dipandang oleh pemilih selama ini ketimbang wakil walikota. Tapi saya yakin pemilih kota Padang tak semudah itu terkelabui mengingat track record dan nama besar Emzalmi sebagai seorang birokrat kawakan juga tak lekang diingatan pemilih.  

Bahkan jika kita kaitkan dengan cerita-cerita pembangunan fisik Kota Padang,  saya cukup yakin masyarakat lebih melihat peran Emzalmi ketimbang peran Mahyeldi.  Hampir semua pemilih paham bahwa Emzalmi lebih berkompetensi di bidang pembangunan fisik kota karena latar birokratnya di dinas-dinas pekerjaan umum selama ini. Sementara Mahyeldi mengawali karirnya sebagai seorang legislator provinsial yang "makan tangan" sangat mengawang-ngawang". Saya cukup percaya,  masyarakat pemilih Kota Padang jauh lebih teliti dalam menentukan pilihan alias tidak mudah dikelabui. 

Catatan keempat,  calon wakil yang dipilih Mahyeldi jauh lebih tak terbukti ketimbang calon wakil yang menemani Emzalmi.  Bagi pemilih Kota Padang,   Hendri Septa bukanlah sesosok yang "gagah" secara politik atau punya track record yang bisa menggairahkan memori pemilih Kota Padang.  Secara elektoral,  belum bisa diukur karena beliau belum pernah ikut berlaga di arena jabatan publik. Apalagi dari sisi segmentasi,  saya bahkan curiga,  untuk menyebut Hendri Septa sebagai representator anak muda pun,  masyarakat akan kesulitan untuk mencari justifikasi faktualnya.  

Pertanyaanya,  kapan, dalam program kerja personal apa,  atau dalam kapasitas apa,  Hendri bisa kita katakan sebagai perwakilan pemilih muda?  Apalagi jika kita kaitkan dengan rumor-rumor kurang cantik yang berkembang soal calon wakil walikota yang satu ini,  terutama tentang relasi intim-orgasmiknya dengan orang tuanya yang kadung duduk di Senayan sana.  Ada banyak bahasa-bahasa yang berbau "underestimate" pada topik yang satu itu. Jika kita kaitkan dengan raihan suara Partai Amanat Nasional,  rasanya saya agak kurang yakin untuk mengatakan bahwa raihan suara Hendri Septa akan nyaris "simetris" dengan raihan suara PAN.  Nampaknya akan banyak faktor yang akan membuat raihan itu tak simetris. 

Berbeda dengan Destri Ayunda yang secara elektoral memang pernah membuktikan dirinya.  Sekalipun kalah,  tapi angka yang diraih oleh pasangan Destri dan James cukup signifikan. Anggap saja suara Destri-James dibelah rata,  maka Destri sudah punya basis suara yang cukup signifikan.  Jadi jika disederhanakan,  boleh jadi suara Destri dan Emzalmi simetris dengan suara Mahyeldi-Emzalmi lima tahun lalu.  Dengan kata lain, secara historis,  Emzalmi-Destri sebenarnya sudah mengantongi suara di atas Mahyeldi per se,  karena secara historis pula Hendri Septa dianggap belum memiliki suara.  

Pendek kata,  terlalu naif jika ada istilah yang muncul bahwa salah satu pihak,  utamanya Mahyeldi Septa,  sudah merasa menang dan merasa di atas angin.  Dan berdosa besar rasanya  jika kita ikut menyosialisasikan isu busuk yang berbunyi "bahkan jika dipasangkan dengan sendal jepit sekalipun,  Mahyeldi pasti menang". Level Mahyeldi terlalu randah jika kita sandingkan dengan sendal jepit,  kasihan Mahyeldinya,  bukan kasihan sendalnya. "Masa Mahyeldi sekelas sendal jepit doang!! ". 

Saya kira,  isu semacam itu dihembuskan hanya untuk "memfait accompli" keadaan alias menggiring opini publik saja,  tak lebih. Justru jika isu semacam itu kita ikuti,  maka Pilkada Kota Padang menjadi tidak dinamis.  Padahal yang sangat kita butuhkan adalah dinamika ide-ide dan dialektika rencana-rencana program kerja yang akan mereka tawarkan,  agar kita bisa semakin percaya diri dalam mengarahkan suara kita.  

Peluangnya ada pada seberapa kuat pihak lawan untuk menekan suara pemilih Mahyeldi sampai mepet ke posisi "captive market-nya"? Kalau itu mampu dilakukan,  maka tidak diperlukan penambahan tingkat partisipasi pemilih,  cukup dengan angka partisipasi sekira 53 persen alias seperti lima tahun lalu,  Mahyeldi bisa kalah.  Namun jika ternyata pihak lawan tak mampu memberikan atraksi yang menarik,  maka suara Mahyeldi akan "break up". Mahyeldi akan mendapat tambahan suara dari pemilih yang tidak mampu ditarik oleh pihak lawan,  sekalipun secara kategoris pemilih ini bukanlah berasal dari kantong pemilih fanatis Mahyeldi. 

Peluang lainya datang dari kantong pemilih yang tidak ikut memilih lima tahun lalu.  Anggaplah jumlahnya sekira 47 persen.  Jika kehadiran pihak lawan mampu menggairahkan tingkat partisipasi pemilih sampai ke angka 70-80 persen,  maka peluang untuk menekuk Mahyeldi semakin besar.  Yang jelas,  sebagaimana saya menggambarkan tipe dan karakter pemilih Mahyeldi di awal tulisan,  saya cukup yakin bahwa pemilih yang berjumlah 47 persen yang tidak memilih lima tahun lalu bukanlah pemilih Mahyeldi. Tapi belum bisa pula dikategorikan sebagai pemilih Emzalmi atau Destri.  

Nah,  jika pihak lawan Mahyeldi mampu menyentuh pemilih ini,  sehingga angka partisipasi bisa naik sekira 10-20 persen saja,  maka peluang memenangkan Pilkada Kota Padang akan semakin terbuka lebar. Berkaca pada kondisi kekinian,  Mahyeldi akan mendapatkan tambahan suara jika pihak lawan tidak melakukan terobosan isu dan terobosan dalam cara-cara menyentuh masa.  Sekalipun Mahyeldi tidak melakukan terobosan berarti,  jika pihak lawan pun tidak melakukannya,  maka Mahyeldi berkemungkinan akan mendapat tambahan suara. 

RONNY P SASMITA

Penikmat Kajian Ekonomi Politik dan Pencumbu Kopi di Pantai Padang


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM