Rizki Muhadi di Turki, Godaan untuk Tidak Berpuasa Sangat Kuat


Jumat, 01 Juni 2018 - 12:24:45 WIB
Rizki Muhadi di Turki, Godaan untuk Tidak Berpuasa Sangat Kuat Rizki Muhadi

Laporan: Yesi Deswita

Pernah gagal pada seleksi terakhir Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN) ke Korea Selatan, pemuda berdarah minang ini tak gentar. Disentuhnya sebuah buku yang pernah menemani hari-harinya pada awal perkuliahan di Universitas Andalas.

Baca Juga : Museum Raja Ali Haji, Sumber Ilmu Generasi Milenial

Segores senyum menguntai dari bibirnya sembari tangannya terus membalikkan halaman demi halaman. Hingga sampailah ia di sebuah mimpi yang pernah ia goreskan. Tulisan itu, dirabanya. Tintanya telah mengering tapi semangatnya tidak.

Masih teringat semangatnya yang menggelora, saat menulis mimpi itu. Ia kembali terpelecut. Allah Maha baik, mimpinya terus tersimpan hingga sekarang sampai jualah ia di tanah yang terkenal dengan gadis-gadisnya nun cantik, Istanbul Turki.

Baca Juga : Para Ulama Besar Terdahulu juga Pernah Ditangkap Penguasa Zalim, Begini Kisahnya

Negara ke-4 yang telah ditapakinya setelah Malaysia, Singapura dan Jepang. Menyentuh salju dengan jari jemarinya secara langsung yang mustahil bisa dirasakan di ranah minang.

"Alhamdulillah sejauh ini, saya belum pernah ke luar negeri dengan biaya sendiri. Mungkin orang berpikir saya mendapatkannya dengan mudah, tapi cukup saya simpan sendiri keluh kesah dalam mewujudkan mimpi itu menjadi nyata," imbuhnya kepada Haluan, Sabtu (26/5).

Baca Juga : Irwandi Dt. Batujuah Letakkan Standar Baru Etika Politik di Bukittinggi

Melalui Program Pemuda Magang Luar Negeri (PPMLN) 2017 dari Kemenpora yang bekerja sama dengan AIESEC, ia dipercaya sebagai salah satu dari 16 orang mahasiswa Indonesia yang diberi kesempatan dan dibiayai magang di sebuah perusahaan ternama di Turki.

"Seluruh biaya ditanggung oleh Kemenpora. Mulai dari tiket, pengurusan vissa, asuransi, uang saku untuk bulan pertama, baru setelah itu gaji dari perusahaan tempat saya magang dengan nominal yang cukup fantastis untuk ukuran fresh graduate seperti saya," tutur pria yang sekarang juga melanjutkan studi di Universiti Kebangsaan Malaysia.

Baca Juga : Tak Menyerah pada Pandemi Covid-19, Penghasilan Jutaan Rupiah Diraup Penjual Tanaman

Kini kenyataan yang harus dihadapinya adalah berpuasa di negara yang dahulu pernah dikenal sejarah pernah pemegang tampuk kekhalifahan Islam tersebut.

Rizki mengungkapkan puasa di Turki lebih berat daripada negara lain yang pernah dikunjunginya semisal Malaysia. Ia menyampaikan bahwa durasi puasa di negara yang memiliki perbedaan waktu 4 jam dengan Indonesia itu lebih panjang, kurang lebih 16-17 jam. Ia harus berpuasa dari pukul 03.30-21.00 malam.

"Saya tidak terlalu soalkan itu, godaan untuk ikut tidak puasa lah yang paling berat," sahutnya.

Ia tidak menampik masyarakat Turki amatlah baik meskipun sekilas terlihat keras, namun yang ia sayangkan masih banyak yang tidak puasa meskipun negara itu mayoritas muslim.

"Makan di depan umum tidak menjadi canggung bagi kebanyakan mereka. Restoran dan Cafe tetap ramai pengunjung di jam puasa. Bahkan saya sempat diajak untuk minum kopi oleh orang Turki di siang hari," cerita pria yang pernah menjadi Bintang Aktivis Fakultas Ekonomi Unand itu.
 

Menurutnya menyesuaikan diri dengan makanan Turki juga menjadi tantangan yang harus dihadapinya. Kerinduan akan masakan Indonesia terlebih masakan padang yang terkenal lezat se-antero negeri tidak bisa ia tutupi.

Meskipun demikian ia tetap menikmati hidupnya selama melancong di Turki. Baginya ini kesempatan emas untuk menimba ilmu dan pengalaman sebanyak-banyaknya.

"Banyak halang rintang yang saya hadapi, tapi semangat saya jangan ditanya. Akan terus berkibar membawa baik nama ibu pertiwi. Saya harap banyak generasi muda Indonesia yang juga dapat mengunjungi negara lain. Gigih mencari informasi dan terus mengasah kemampuan seperti melatih bahasa inggris kuncinya," ujar pemuda kelahiran 1996 ini.

"Lebih baik berdoa sekali tapi berusaha berkali-kali, daripada berdoa berkali-kali tapi hanya berusaha sekali. Ketika gagal menganggap itu takdir. Saya tidak menyepelekan kekuatan doa tapi agar kita ditempa menjadi pribadi yang tidak gampang menyerah," paparnya.

ia menambahkan, sejak resmi menetap di Turki pertanggal 19 September 2017 lalu hingga setahun ke depan, Ia bertutur tidak menutup kemungkinan, akan menetap dan bekerja di perusahaan tempat ia magang sekarang ataupun di perusahaan lain di Turki. Ia juga berharap kelak dapat mengimplementasikan ilmunya di Indonesia.(*)

 

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]