KISAH EBY, WAKIL SUMBAR DI AJANG PUTRI MUSLIMAH 2017

Menemukan “Hidup” Setelah Berhijab


Senin, 11 Juni 2018 - 15:17:09 WIB
Menemukan “Hidup” Setelah Berhijab Febri Wahyuni Sabran. IST

 

Tahun 2015, Febri Wahyuni Sabran mantapkan hati untuk berhijab. Seminggu setelah itu, dalam tidur, ia bermimpi naik haji. Mimpi nan terus terngiang dan menjadi puncak keyakinan bahwa pertolongan Allah selalu dekat dengan umat-NYA.

Baca Juga : Profesi Pelayanan Publik, Harus Jadi 'Role Model' Pelaksanaan Protokol Kesehatan

Oleh : Yessi Deswita

Febri nan acap disapa Eby sama seperti gadis jolong gadang lainnya. Riang menghadapi hari-hari, penuh gelora, semangat dan modis. Eby pantang ketinggalan jaman. Ia tergila-gila pada fashion. Segala diikuti, dicontoh dan dijadikan kiblat dalam berbusana. Dengan paras cantiknya, segala nan dipakai Eby selalu bagus dipandang. Banyak nan senang melihat gayanya.  Namun, dari segala keriangan, Eby perlahan mulai merasakan “kekeringan” di jiwanya. Selalu merasa kurang.

Baca Juga : Mengenangkan Sejarah Perguruan Thawalib

Rasa “kering” menjadi landasannya dalam pencarian jati diri. Gadis asal Maninjau itu mulai menakar-nakar dirinya dan mengukur ketebalan iman yang dimiliki. Eby meraba sisi terdalam di hatinya. Apa yang kurang? Sudahkah dia menjadi hamba yang benar-benar melangkah di jalan-NYA? Sampai akhir 2014, Eby tak menemukan jawaban tersebut.

Barulah di tahun 2015 Eby menemukan jalannya sendiri. Segala keresahan yang dirasakannya diejawantahkan dengan komitmen untuk berhijab. Eby meninggalkan gemerlapnya dunia fashion yang membuatnya tergila-gila selama beberapa tahun.

Baca Juga : Antara Rindu Mudik dan Kesadaran Kesehatan

“Hijab menjadi jawaban segala keresahan yang saya rasakan. Lewat berhijab, hati yang awalnya kering mulai terasa teduh. Saya menemukan jalan yang dibentangkan-NYA dan terus berusaha untuk lebih baik,” ujar Eby pada Haluan.

Hijab bagi Eby seperti tameng untuk diri. Melindungi dia dari pengaruh-pengaruh negatif di lingkungan sekitar. Sejak berhijab, dia merasa nyaman. “Saya masih banyak memperbaiki diri dan menahan-nahan hati. Alhamdulillah, dengan berhijab semuanya bisa terwujud. Terutama dalam menjaga perilaku dan akhlak saya sebagai seorang muslimah," katanya.

Baca Juga : Pengawas Sekolah untuk Peningkatan Mutu Pendidikan, Kenapa Hilang dalam PP 57/2021?

Setelah memakai hijab, Eby jauh merasa lebih baik. Namun, saat ditemui di Dilo Padang beberapa waktu lalu, Eby mengaku sedang gundah. Sedih menyaksikan banyaknya diskriminasi kepada kaum perempuan, terutama yang memutuskan untuk menggunakan cadar.

“Kesedihan itu kian terasa karena ada pula yang mengaitkan cadar dengan aksi teror. Ruang gerak perempuan-perempuan yang mengikuti ajaran agamanya seolah dibatasi dan diawasi. Sungguh itu tak masuk akal. Semuanya tak boleh terjadi dan tidak akan terjadi jika setiap orang memahami makna cadar dan hijab,” tutur Eby.

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]