Tradisi Malamang Saat Lebaran, Cara Menjaga Silaturahmi


Jumat, 15 Juni 2018 - 20:58:43 WIB
Tradisi Malamang Saat Lebaran, Cara Menjaga Silaturahmi Lamang yang sudah disajikan. Yesi
SOLOK, HARIANHALUAN.COM - Tradisi "malamang" (memasak lemang) di Minangkabau masih dipertahankan kala hari lebaran tiba.
 
Penganan yang dibuat dari beras ketan (sapuluik) yang dibungkus dalam daun pisang dan dimasak dalam seruas bambu ini, biasanya dijadikan hantaran yang dibawa seorang menantu saat manjalang (bertamu) ke rumah mertua.
 
Yen (39), warga Nagari Sumani Kecamatan X Koto Singkarak menuturkan, meskipun mertua dan suaminya telah tiada, ia masih mempertahankan tradisi ini.
 
"Sampai sekarang masih malamang, tetap diantarkan ke rumah mertua dulu. Tujuannya agar tetap menjalin silaturahmi dengan keluarga suami yang masih ada," tuturnya.
 
Hal senada juga disampaikan Neti (63), wanita yang telah berusia lanjut ini masih mempertahankan tradisi malamang, meskipun telah memiliki cucu.
 
"Dari dulu sampai sudah punya cucu, masih malamang. Selain karena rasanya yang khas dan enak, lemang merupakan tradisi dari "urang-urang dulu". Malamang dilakukan biar anak-anak tau bapaknya berasal dari mana. Sekaligus memperkenalkan tradisi ini ke anak cucu," jelasnya kepada haluan, Jumat (15/6).
 
Beras ketan (sapuluik) pembuat lemang yang dicampur santan kelapa ini merupakan makanan yang dibuat pada waktu-waktu tertentu saja, seperti lebaran.
 
Hal tersebut dikarenakan proses memasaknya yang membutuhkan waktu yang lama dan melnggunakan proses pembakaran sehingga tidak begitu banyak yang tertarik memasak lemang. Lemang lebih nikmat disantap hangat-hangat. (mg-yes)





Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

BERITA TERPOPULER Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM