Amri Berpacu Mencari Penumpang di Usia Senja


Kamis, 05 Juli 2018 - 13:23:20 WIB
Amri Berpacu Mencari Penumpang di Usia Senja Amri (68), bersiap-siap mengantar penumpang menggunakan betor yang bisa diakses secara online dan offline. RIO KURNIAWAN

HARIANHALUAN.COM-Ojek dalam jaringan (daring/online) telah jadi fenomena dalam beberapa tahun belakangan. Berbagai perusahaan pengelola ojek daring berlomba memperkaya fitur layanan yang bisa diakses pada gawai di genggaman tangan. Keuntungan materi yang diraih perusahaan dan tukang ojek (kerap disebut driver) disebut-sebut sangat menjanjikan.

Oleh Rio Kurniawan

Baca Juga : Kenaikan Tarif PPN: Kontradiksi Opsi di Tengah Pandemi

Namun, cerita manis itu belum ditemui Amri (68), pengemudi Becak Motor (betor) Daring berbasis aplikasi Go On Bike.

Kepada Haluan, Rabu (4/7), sembari menunggu pelanggan datang di Jalan S. Parman, Amri berbagi cerita. Hingga pukul 15.00 WIB, Amri bahkan mengaku belum “pecah telur”. Untuk mendapatkan penumpang, tak seperti aplikasi ojek daring lain, Amri tetap harus berkeliling.

Baca Juga : Profesi Pelayanan Publik, Harus Jadi 'Role Model' Pelaksanaan Protokol Kesehatan

“Kalau lewat aplikasi tidak terlalu banyak yang pesan. Masih sangat jarang. Agar dapat penumpang tetap harus keliling. Kalau malas tidak akan dapat,” kata Amri mengawali perbincangan.

Di usia senjanya, Amri mengaku sebelumnya ia mengemudikan becak kayuh pada 1990. Setleah itu baru ia membawa betor yang tiga bulan belakangan bergabung dalam betor online di Go On Bike. “Meski pun sudah tiga bulan, pesanan betor pakai aplikasi masih sepi. Mungkin karena belum banyak yang tahu,” katanya lagi.

Sejauh ini, untuk betor Amri mengaku keuntungan yang dapat diraih dengan berkeliling mencari penumpang masih lebih besar disbanding duduk berpangku tangan menunggu pesanan di aplikasi. Selain potensi mendapatkan penumpang lebih besar, ia pun bisa menetapkan tarif sendiri dan melakukan tawar-menawar dengan penumpang.

"Kalau di online satu kilometer itu dihitung Rp2.500. Itu pun kalau ada yang pesan. Sedangkan untuk penumpang dapat di jalan saya bisa tetapkan tarif Rp15-30 ribu tergantung jarak dan kondisi jalan yang ditempuh,” ujarnya sembari mengibaskan keringat di dahi.

Meski pun begitu, di usia yang tak lagi muda Amri mengaku tak terlalu bisa memaksakan diri mencari penumpang. Padahal, selain kebutuhan keluarga, ia juga harus memenuhi kebutuhan pribadinya paling tidak Rp35 ribu per hari. “Uang segitu selain untuk bensin betor, juga untuk makan dua kali. Sekali makan Rp5 ribu. Belum lagi kopi dan rokok,” kata lelaki asal Alai itu.

Malang tak selalu datang, pada momen-momen tertentu Amri mengaku bisa mendapatkan banyak penumpang, dan bisa menyimpang uang hingga Rp20 ribu dalam satu hari. Uang simpanan itulah yang kemudian ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan pendidikan anaknya. “Alhamdulillah anak saya ada yang masih kuliah,” ujar Amri yang mulai narik betor pukul 05.00 hingga 17.00 WIB dari rumahnya yang berada di depan SPBU Kawasan Alai.

Selain Amri, keluarganya juga bergantung pada penghasilan istrinya yang bekerja di sebuah laundry dengan penghasilan Rp350 ribu setiap bulan. Penghasilan dari keduanyalah yang digunakan untuk menghidupi tiga anak yang menjadi tanggung jawab keduanya.

Menurut Amri, betor semakin kehilangan peminat saat sudah banyak warga memiliki kendaraan pribadi. Bahkan kaum ibu pun sudah banyak ia temui pergi ke pasar menggunakan sepeda motor yang dibawa sendiri.

“Kadang dari pagi sampai siang masih duduk saja di becak karena tidak ada penumpang. Kadang saya mengeluh, tapi setelah itu teringat ada keluarga yang harus saya penuhi kebutuhannya. Akhirnya semangat datang lagi. Dalam sehari saya harus bisa bawa uang, setidaknya Rp100 ribu," tuturnya. (*)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]