Virus Mematikan Serang Ayam Petelur


Kamis, 19 Juli 2018 - 19:31:49 WIB
Virus Mematikan Serang Ayam Petelur Seorang pembeli memilih telor ayam di kawasan Pasar Raya, Padang, Kamis (19/7). Harga telor ayam beberapa hari terakhir mengalami kenaikan, dari Rp38.000 per karton menjadi Rp42.000 hingga Rp48.000 per karton. Melonjaknya harga pakan ayam petelur, yang juga disebabkan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. TIO FURQAN

LIMAPULUH KOTA, HARIANHALUAN.COM—Harga telur ayam buras naik akhir-akhir ini di Payakumbuh dan Limapuluh Kota. Menurut pedagang, kenaikan harga itu disebabkan beberapa faktor, antara lain, wabah mematikan yang menyerang ayam petelur pada tiga bulan lalu, naiknya kurs dolar, dan dampak kenaikan harga BBM.

Emrizal Jalinus (45), peternak ayam buras di Kecamatan Payakumbuh, Limapuluh Kota, menginformasikan, harga telur naik sejak akhir Ramadan. Menurutnya, faktor terbesar yang menyebabkan kenaikan harga telur adalah akibat virus mematikan yang menyerang ayam.

“Ribuan ayam mati mendadak tiga bulan lalu. Itu bukan virus flu burung, tapi ada virus lain yang menyerang ayam hingga mati mendadak secara serentak,” ujarnya, Rabu (18/7).

Ayam-ayam yang mati mendadak tersebut, kata Emrizal, merupakan ayam muda yang sedang menghasilkan telur. Kematian ayam itu berpengaruh ke sirkulasi telur untuk masyarakat di berbagai daerah.

“Kebutuhan telur banyak, tetapi ayam yang memproduksi telur sedikit,” ucapnya.

Peternak ayam buras lainnya, Akmal dari perusahaan Surya PS, mengatakan, kematian ayam secara mendadak dan kenaikan harga dolar berpengaruh besar terhadap harga telur.

“Kurs dolar naik, telur ayam juga naik karena pakan ayam masih bergantung dari pakan impor,” kata peternak yang memiliki kandang ayam di Limapuluh Kota itu.

Beberapa waktu lalu, kata Akmal, ayam buras miliknya sakit dan mati mendadak. Karena cemas, ia menjual ayam-ayam yang masih sehat untuk mengantisipasi kerugian yang jauh lebih parah.

“Intinya, produksi telur sekarang memang berkurang karena ayam banyak yang sakit dan dijual. Malahan dalam kondisi saat ini, permintaan telur terus berdatangan,” ujarnya.

Kenaikan harga telur juga terjadi di toko kelontong. Arnis, pemilik warung di Payakumbuh mengatakan, ia menjual telur Rp2.000 per butir, sedangkan biasanya Rp1.500 per butir. Ia menaikkan harga telur karena membeli telur kepada peternak dengan harga yang juga naik.

Saat ini, ia membeli satu papan telur berisi 30 butir terlur kepada peternak seharga Rp44.000, sedangkan dulu Rp36.000 per papan.

Sementara itu, Anggota DPRD Limapuluh Kota, yang merupakan perwakilan peternak ayam di DPRD setempat, Yosariadi, mengatakan, saat ini, harga telur ayam pada peternak berkisar Rp1.360 per butir sampai Rp1.460 per butir.

Mengenai kondisi peternak, ia mengatakan, kondisi peternak ayam saat ini sedang terancam, apalagi sejak adanya wabah mematikan yang menyerang ayam.

“Ada sampai 10.000 ekor ayam peternakyang mati mendadak. Itu kerugian yang cukup besar,” ucap Yosariadi.

Beban peternak, kata Yosariadi, bertambah berat karena populasi ayam yang sedang produksi berkurang akibat serangan wabah mematikan, ditambah lagi kenaikan harga dolar, dan kenaikan harga BBM, yang memengaruhi biaya transportasi mengantar telur keluar daerah.

“Peternak telur juga sedang terbebani oleh pajak penghasilan. Dengan kondisi peternak yang terancam ini, mereka juga harus membayar pajak ke pemerintah. Setiap bulan, peternak harus membayar satu persen pajak dari total omzet ke pemerintah. Kita sudah komunikasi dengan organisasi peternak telur di daerah untuk mencari solusi terbaik,” tuturnya.

Mengenai pajak, Yosariadi menjelaskan, apabila memiliki omzet Rp10 miliar, seorang peternak harus membayar pajak sampai Rp100 juta setiap bulan. Untuk menutupi kekurangan keuangan, peternak terpaksa menaikkan harga telur.

Karena itu, ia berharap pemerintah harus memberikan pelayanan terbaik kepada peternak telur karena peternak telah membayar pajak penghasilan. (h/ddg)





Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Ahad, 07 Juni 2015 - 20:47:42 WIB

    Korsel Lacak Virus MERS di Ponsel Pasien

    SEOUL, HALUAN — Pemerintah Korea Selatan (Korsel) melacak virus Middle East Respiratory Syndrome (MERS), atau sindrome pernafasan Timur Tengah, di ratusan ponsel ‘tersangka’ yang masuk karantina. “.

BERITA TERPOPULER Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM