Mendekatkan Telinga ke Bibir Masyarakat

Doa Orang-orang Bertapak Kasek untuk Zul Evi Astar


Senin, 30 Juli 2018 - 00:25:13 WIB
Doa Orang-orang Bertapak Kasek untuk Zul Evi Astar Zul Evi Astar mengunjungi warga Kecamatan Tigo Lurah, Kabupaten Solok yang hidup dalam keterbatasan dan ketertinggalan.

ZUL Evi Astar terus menjaga langkahnya. Datuak kaum pisang, Kamang, Agam ini menyusuri negeri-negeri pelosok. Marancah tepian Sumbar nan sunyi dari derap pembangunan. Dia ingin mendengar, merangkul dan menjadi bagian dalam pencarian solusi. Zul Evi terus mencoba memiringkan kepala agar telinganya dekat dengan bibir masyarakat yang berbisik soal harapan dan keinginan untuk keluar dari ketertinggalan.

Subuh Sabtu (28/7), deru mesin mobil SUV uang membelah temaran jalan Padang – Solok terdengar nyaring. Hari masih terlalu pagi. Jalan raya tak padat. Mobil SUV yang membawa Zul Evi Astar dan seorang temannya meliuk-liuk di pendakian Indaruang hingga Sitinjau Lauik, yang melegenda itu. Irama musik karya Beethoven terdengar lembut dari tape mobil. Suasana tenang. Nyaris tak ada percakapan di dalam mobil.

Pada perjalanan Subuh itu, Zul Evi Astar menuju Kecamatan Tigo Lareh, yang merupakan pemekaran dari Kecamatan Payuang Sekaki, Kabupaten Solok. Jauh-jauh hari, Zul Evi yang merupakan mantan Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Perwakilan Daerah (Wasekjend DPD) RI sudah diundang warga di sana untuk datang. Sekadar bersilaturahmi dan berdiskusi. Undangan itulah yang mau dipenuhi.

Kabupaten Solok bukan daerah yang asing bagi Zul Evi. Tahun 1996, dia pernah menjadi Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Solok kala jabatan bupati dipangku Gamawan Fauzi. Tiga tahun jabatan itu dipegangnya. Banyak landasan konsep pariwisata yang dibuat. Kala menjabat kepala dinas, Zul Evi acap turun ke lapangan. Melakukan penyuluhan dan pemberdayaan kepada masyarakat agar sadar wisata, sekaligus turut serta mengelola potensi pariwisata. Dia berkomunikasi langsung dengan masyarakat. Sebab itu namanya tak hilang begitu saja walau telah 22 tahun hengkang sebagai Kepala Dinas Pariwisata.  

Nagari-nagari di Kecamatan Tigo Lurah boleh dikatakan tertinggal. Jaraknya dari Kota Padang sekitar 120 kilometer. Jika jalan mulus, waktu tempuh untuk jarak 120 kilimeter sekitar tiga jam. Namun tidak ke Tigo Lurah. Perjalanan memakan waktu sampai lima jam lebih. Akses jalannya begitu sulit. Meski demikian, Zul Evi tetap bersemangat. Dia ingin bersua, merapatkan telinga ke bibir masyarakat sekaligus menimba segala keluh kesah, untuk dicarikan jalan keluarnya. “Perjalanannya memang berat. Tapi itu semua tak berarti dibandingkan kehangatan pertemuan dengan masyarakat,” terang Zul Evi yang bagala Datuak Asa kepada Haluan, Minggu (29/7) malam.

Zul Evi mendatangi banyak nagari. Dia berinteraksi dengan tokoh-tokoh masyarakat di Kenagarian Simanau, Sumiso, Rangkiyang Luluih, Batu Bajanjang dan Nagari Garabak Data, yang terkenal dengan ketertinggalan dan keterbelakangan. Ketertinggalan dari daerah lain itu pula nan dirasakan Zul Evi ketika di sana. “Ruang gerak masyarakat terbatas minimnya infrastruktur di sana,” ungkap Zul Evi.

Kedatangan Zul Evi disambut puluhan tokoh masyarakat. Rustam yang merupakan mantan Walinagari Rangkiyang Luluih adalah orang pertama yang bercengkrama dengan Bakal Calon (Vacalon) anggota DPD RI tersebut. “Kami di sini adalah orang-orang yang memiliki bahu taba (tebal-red) dan telapak tangan yang kasek (kasar-red). Kiasan itu untuk menggambarkan kalau segala sesuatunya terpaksa kami lakukan sendiri. Seperti mengangkut hasil panen. Bahu untuk memikul, tangan untuk mengangkat. Itu disebabkan di sini tak ada alat transportasi. Jalannya saja nyaris tak bisa dilalui,” papar Rustam.

Kepada Zul Evi pula para tokoh masyarakat menceritakan beribu janji perbaikan nasib yang mereka terima dari orang pemerintahan, baik di legislative maupun eksekutif. Namun, sampai sekarang janji tersebut baru sebatas di mulut. Tak banyak yang terealisasi. “Kami didatangi, dijanjikan. Mendengar janji itu kami gembira. Tapi lambat laun kegembiraan itu lenyap seiring tak terbuktinya janji yang diberikan,” papar tokoh masyarakat Tigo Lurah silih berganti.

Kecamatan Tigo Lurah memang butuh sentuhan khusus. Terutama nagari-nagari terluar seperti Garabak Data. Hingga saat ini, akses jalan masih belum bisa ditempuh dengan kendaraan roda empat, tak semuanya terjamah penerangan listrik, tidak tersentuh sinyal handphone. Seperti cerita Rustam, orang-orang mengandalkan baju dan tangan untuk mengangkut segala keperluan. Di sana, kuda beban menjadi sarana angkutan primadona untuk membawa hasil-hasil pertanian atau barang belanjaan.

Kuda beban jadi pilihan sarana transpor­tasi barang, karena jalanan menuju Nagari Garabak Data, seperti gelamai sedang dimasak dalam kancah atau sawah berlumpur dalam. Padahal Nagari Garabak Data sudah dikenal sejak abad ke-18 oleh tim peneliti Central Sumatra Expeditie (1877-1878) dari Universiteit Leiden yang dipimpin A. L. Van Hasselt, yang dibantu Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. A. L. Van Hasselt termasuk kelompok orang Eropa pertama yang mengunjungi Garabak Data. Status lahan yang kebanyakan berupa hutan lindung menjadi batu sandungan dalam pembangunan.

Kepada Zul Evi, masyarakat berharap perjuangan. Mereka ingin berjuang bersama-sama dengan Zul Evi Astar agar bisa keluar dari status tertinggal. “Langkah perjuangan itu dimulai dengan doa kami, agar bapak bisa melaju ke Senayan. Setelah itu baru sama-sama berbuat agar daerah sini tak lagi berselimut ketertinggalan,” ujar Rustam. Sama dengan Rustam, masyarakat lainnya juga mendoakan segala yang baik untuk Zul Evi.

Dipanjatkan doa dan diberi kepercayaan tak lantas membuat Zul Evi mengumbar janji. Dia pantang berjanji yang muluk-muluk. “Saya tidak akan menjanjikan apa-apa kepada bapak dan ibu. Ada baiknya kita sama-sama bergerak dan berjuang saja. Dengan segala keyakinan dan tekad bulat, saya memastikan kalau kita bisa menanggalkan baju ketertinggalan ini. Kuncinya, harus bersama-sama,” tutur Zul Evi yang merupakan mantan Kepala Dispenda Sumbar.

Kebulatan tekad tersebut disambut riang masyarakat. Mereka seolah menemukan harapan baru pada sosok Zul Evi, yang memang datang membawa solusi, bukan semata janji. Usai berdiskusi, pertemuan diakhiri dengan senda gurau penuh kehangatan. Zul Evi akhirnya pamit membawa segudang mimpi warga Tigo Lurah. Dia dilepas masyarakat dengan dada yang penuh dengan gemuruh kepercayaan. (*)

 





Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Senin, 19 November 2018 - 10:14:38 WIB
    PROSESI JENAZAH KORBAN LION AIR JT 610

    Doa Menguar di Pemakaman Tami Julian

    Doa Menguar di Pemakaman Tami Julian Jalan lintas Payakumbuh-Lintau, mendadak ramai sepanjang Sabtu (17/11) lalu. Di Jorong Aia Randah, Nagari Balai Panjang, Kecamatan Lareh Sago Halaban, karangan bunga dari berbagai perusahaan, lembaga pemerintahan dan perorang.
  • Kamis, 19 Juli 2018 - 15:55:18 WIB

    Percikan Air Ureh dan Lantunan Doa di Sawah Solok

    Percikan Air Ureh dan Lantunan Doa di Sawah Solok Ketika cara-cara ilmiah sudah tak cukup mampu mengatasi serangan hama. Petani sawah solok melantunkan doa-doa, dalam ritual doa tolak bala. Penerapan kearifan lokal inipun ternyata tak mudah, karena  dianggap sebagian ora.
  • Jumat, 02 Februari 2018 - 09:41:43 WIB

    Doa-doa untuk Kapolda dan Ketua DPRD Sumbar

    Doa-doa untuk Kapolda dan Ketua DPRD Sumbar Di luar lobi hotel, seratusan karyawan Basko Hotel dan Basko Grand Mall berdesakan menunggu Kapolda dan Ketua DPRD Sumbar keluar. Sejak pagi mereka sudah berkumpul, untuk mendengarkan keputusan lanjutan dari sejumlah negosias.

BERITA TERPOPULER Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM