Syafri, Perjalanan Tanpa Kaki yang Penuh Harapan


Rabu, 15 Agustus 2018 - 18:20:43 WIB
Syafri, Perjalanan Tanpa Kaki yang Penuh Harapan Syafri, lelaki yang di usia senjanya masih berjalan mencari nafkah dengan keterbatasan fisik yang ia alami, Senin (13/8). RIO KURNIAWAN

Laporan:  RIO KURNIAWAN

Seorang lelaki senja tengah mengayuh sepeda di Kawasan Jati Kota Padang. Tangan sepeda buatan membantunya menyusuri dan tiap sudut Kota Padang. Syafri nama lelaki itu. Meski hidup dalam keterbatasan fisik, ia tetap menikmati perjalan.

Secara fisik, Syafri tidak lagi memiliki kaki setelah terkena infeksi penyakit yang tidak ia ketahui hingga saat ini. Pada 2013 lalu, kaki kirinya harus diamputasi, dua tahun berselang pada 2015 ia juga harus kehilangan kaki kanan karena terserang infeksi yang sama.

"Orang rumah sakit tidak mau memberi tau apa penyakit saya. Karena sudah parah terpaksa diamputasi. Karena saya tak terbiasa duduk bermenung, saya perbaiki satu sepeda yang saya miliki agar tetap bisa digunakan sesuai dengan kondisi tubuh saya,” kata Syafri kepada Haluan, Senin (13/8).

Syafri mengenang, sebelum kedua kakinya diamputasi, ia bekerja serabutan sebagai tukang bangunan, tukang becak, dan berjualan barang harian di Pasar Raya Padang. Namun, saat ini ia hanya bisa mengerjakan beberapa pekerjaan yang memang bisa ia lakoni dengan kondisi tanpa kaki.

"Di kondisi seperti ini, banyak yang memperhatikan dan bahkan mengikuti saya dari belakang. Tidak jarang orang-orang yang melihat saya terbawa kasihan, lalu memberi uang dan makanan. Kalau dikasih, ya, saya terima. Tetapi jujur, saya tidak mau meminta-minta," ucapnya.

Lelaki berusia 62 tahun itu mengaku selalu keluar rumah pada pukul 07.00 WIB setiap harinya. Ia mulai berjalan dari rumah di Ulak Karang menuju ke berbagai tempat agar bisa menemukan pekerjaan seperti mengantarkan barang dan sebagainya.

Syafri tinggal bersama istri dan kedua anaknya yang saat ini masih menempuh pendidikan di bangku perkuliahan. Istrinya hanya menjadi ibu rumah tangga. Syafri pun mengaku beruntung anaknya bisa berkuliah dengan bantuan beasiswa bidikmisi dari pemerintah.

“Saya ingin anak-anak saya sukses dan jadi orang. Saya semampunya memenuhi kebutuhan mereka agar kelak berhasil jadi sarjana dan dapat kerjaan yang bagus. Itu saja yang saya harapkan,” sebutnya lagi.

Meski hidup dalam keterbatasan fisik dan ekonomi, Syafri pun menekankan pada kedua anaknya untuk terus semangat dalam belajar. Ia sendiri terus merawat semangat agar apa yang ia alami tidak menjadi penyesalan yang harus diratapi berlarut-larut.

“Hidup ini terus berlalu. Kalau kita sibuk meratap, tidak akan menghasilkan apa-apa. Itu saja yang ingin terus saya pelihara dalam diri saya,” ujarnya. (*) 


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM