Begini Kisah Lailla, Perantau Minang di Palu yang Selamat dari Terjangan Tsunami


Selasa, 02 Oktober 2018 - 10:04:18 WIB
Begini Kisah Lailla, Perantau Minang di Palu yang Selamat dari Terjangan Tsunami Lilla Anggaraini dan putrinya. Selamat dari gulungan Tsunami Palu. DADANG

Keajaiban  itu nyata dialami  Lilla Anggaraini (35), perempuan asal Situjuah Godang, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota  yang sudah lama merantau di  Palu, Sulawesi Tengah, kota yang kini  luluhlantak digulung gempa dan tsunami.


DADANG LESMANA – LIMAPULUH KOTA


Kecuali keinginan yang besar untuk pulang kampung, tak ada firasat apa pun yang menari di benak Lilla ketika meninggalkan Kota Palu beberapa jam sebelum bencana gempa bumi dan tsunami memporak-porandakan Ibukota Propinsi Sulawesi Tengah itu. 

 “Sehari sebelum bencana, saya ingin sekali pulang kampung. Sampai tengah malam  sebelum bencana, saya masih berpikir untuk pulang kampung. Dengan tekad yang kuat,  Jumat pagi  baru tiket dipesan untuk terbang ke Padang,” terang Lilla ketika berbincang dengan Haluan di rumah orangtuanya, Minggu (30/9) siang.

Lilla sudah delapan tahun merantau ke Palu, persisnya sejak menikah dengan pria asal Palu pada 2011 lalu. Pegawai swasta itu menetap di Tawaeli Kecamatan Palu Utara bersama sang suaminya yang merupakan Kepala Pusat Bima Finance Tawaeli. “Di Palu selama ini aman-aman saja. Saya menganggap kota itu sebagai kampung kedua. Saya juga kerasan tinggal di sana, walau terkadang keinginan pulang kampung datang,” paparnya.

Saat terbang dari Kota Palu  ke Padang via Jakarta dengan menumpangi pesawat Lion Air sekitar pukul 09.00 Wib, wanita yang masih berusaha untuk memiliki anak itu  tak sabar untuk sampai di kampung halaman. Lilla baru mengetahui adanya bencana gempa dan tsunami di Kota Palu ketika dalam perjalanan darat dari BIM menuju Kota Payakumbuh. “Sekitar pukul 07.00 pagi dari rumah ke bandara. Pukul 09.00 WITA sudah mau take off. Sorenya dalam perjalanan ke Payakumbuh, grup whatsApp ramai ada info gempa dan tsunami di Palu. Saya langsung terkejut mendengar kabar tersebut. Saya coba hubungin suami untuk memastikan kabar  itu,” terangnya.

Awalnya, Lilla sempat panik. Pasalnya, setiap nomor ponsel milik suami tidak bisa dihubungi. Begitu juga nomor ponsel milik keluarga dari suaminya di sana, juga tidak ada yang aktif. Lilla terus berupaya menghubungi keluarga suaminya yang lain dari dalam mobil travel selama di perjalan ke Payakumbuh.

Rasa was-was menghantui pikiran Lilla terhadap kabar serta kondisi suaminya. Sampai menjelang malam, Lilla belum mendapatkan informasi yang jelas terkait bencana yang menimpa kampung keduanya itu. “Malamnya, sekitar pukul 20.00 WIB, ponsel suami aktif. Kami bisa komunikasi. Dia sedang dipengungsian.Kakinya kecelakaan. Patah tulang akibat  gempa,” ucap Lilla.

Dari cerita suaminya  yang bernama Datumusen (37), saat gempa terjadi, dia sedang di kamar mandi untuk bersiap salat ke mesjid, tidak jauh dari rumah mereka. Saat akan mengambil air, guncangan gempa datang sangat keras sampai-sampai pintu kamar mandi tidak bisa dibuka. “Untuk menyelamatkan diri, suami malah meloncat ke jendela. Saat itu kondisi suami tidak mengalami luka apa pun,” kata Bendahara DPD Partai Nasdem Kota Palu itu.

Tetapi, kata Lilla , ketika hendak  membantu sanak famili yang berdekatan rumah, kaki Datumusen, suaminya mengalami patah tulang. “Dia terkunci dari dalam rumah tante yang di sebelah. Saat didobrak pintu masuk, malah suami kecelakaan karena benturan terlalu keras,” kata Lilla Anggraini.
Lokasi rumah, kata Lilla, berada jauh dari bibir pantai, tetapi kondisi rumah pernanen yang ditempatinya mengalami rusak. “Ada sekitar tiga kilometer rumah kami dari pantai. Alhamdulillah gelombang tsunami tidak sampai ke rumah kami. Bagian dinding di salah satu kamar roboh. Kondisi rumah, tidak terlalu rusak parah,” katanya.

Tetapi, rumah mertua hancur, rata dengan tanah. “Keluarga suami tidak ada jadi korban. Semuanya baik-baik saja. Suami saya yang dalam kecelakaan sampai hari ini belum mendapatkan pengobatan medis,”ucapnya. 
Dijelaskan Lilla,  Kecamatan Palu Utara merupakan salah satu daerah yang terdampak paling parah oleh gempa dan tsunami. Salah satunya yaitu kawasan Pelabuhan Pantolowan. Ketika ditanya, bagaimana kondisi terakhir bagi rekan-rekan sesama warga Luak Limopuluah atau warga Minangkabau yang berada di Kota Palu, Lilla belum mengetahui pasti. “Komunikasi susah, nomor ponsel pada tidak aktif. Menghubungi  suami saja sangat susah,” kata Lilla. 

Lilla Anggraini bertekad, dalam waktu dekat akan menyusul suami ke Kota Palu. Apalagi suaminya dalam kondisi luka pascagempa. “Saya sebenarnya sering pulang kampung. Juli kemarin saya ke Limapuluh Kota. Pulang kali ini sudah yang empat kali selama 2018. Rencananya, beberapa hari ke depan saya kembali lagi ke Palu untuk melihat kondisi rumah dan suami,” ucapnya lagi.

Masih mendata
Pemerintah Provinsi Sumbar sejauh ini masih mendata perantau Minang yang terkena dampak bencana gempa dan tsunami di Palu dan Donggala. Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit mengatakan, saat ini pemerintah terus berkoordinasi dengan kantor penghubung dan rantau di Jakarta untuk mendata jumlah perantau Minang yang berada di Sulteng. "Saya tadi minta kantor Penghubung Rantau di Jakarta untuk menghubungi Ikatan Perantau Minang di Palu" ujarnya, usai menjadi inspektur upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Padang,  Senin (1/10)

Menurut Nasrul Abit, dengan adanya data jumlah perantau minang, dapat mempercepat proses pemberian bantuan pada perantau yang tertimpa musibah itu. Pemprov Sumbar saat ini menggalang bantuan untuk dikirim ke Palu berupa randang, makanan khas Minangkabau. (*)





Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

BERITA TERPOPULER Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM