Pengakuan Siswi Pelaku Sayat Lengan di Padang, Kesepian dan Ingin Mendapat Pengakuan


Jumat, 19 Oktober 2018 - 10:50:30 WIB
Pengakuan Siswi Pelaku Sayat Lengan di Padang, Kesepian dan Ingin Mendapat Pengakuan Ilustrasi (haluan)

Aksi sayat lengan yang dilakukan puluhan pelajar perempuan di Padang, rupanya tak dipicu karena mereka sedang sakau, atau terpengaruh narkoba. Perbuatan itu dilakukan hanya untuk eksistensi semata, mendapatkan pengakuan serta sebagai wujud pelampiasan terhadap kehidupan yang mereka anggap timpang.

LAPORAN: Rehasa – Padang

Kamis (18/10) sore, Haluan berkesempatan bertemu dengan satu dari 24 pelajar perempuan yang melakukan sayat lengan. Dia meminta namanya ditulis Ola. Masih berusia 15 tahun dan duduk di kelas dua SMP, Ola mengaku sudah banyak menjalani kepahitan hidup dan sempat terjerumus ke pergaulan negatif. Kondisi itulah yang memicunya untuk melakukan hal yang menyakitkan, menyayat lengannya sendiri hingga terluka.

“Maksudnya ini? Semua belum seberapa. Saya pernah hendak melakukan hal yang lebih gila dibandingkan luka-luka ini saja” ungkap Ola yang melarang Haluan menulis nama atau inisialnya sembari memperlihatkan bekas-bekas luka. Ada di tangan kirinya, bahkan juga di bagian betisnya.

Ola bercerita dengan lancar terkait pemicu dia melukai diri sendiri, hingga pergaulan tak sehat, serta kebosanannya di rumah. Dia mengaku tertekan. Mulai dari tugas sekolah yang menumpuk, hingga pekerjaan di rumah. Rasa tertekan itu yang mendorongnya untuk mencari pelampiasan. “Saya muak dengan segala kehidupan ini. Merasa ditekan dan tak punya pelampiasan. Larinya ya ke situ, menyakiti tubuh sendiri,” ungkap remaja bermata sipit tersebut.

Dari seluruh penjelasan Ola, Haluan menyimpulkan, ada tiga tingkatan perilaku merusak diri yang diklasifikasikan menurut kerentanan. Pada tingkat rendah, para pelajar memiliki pikiran negatif, stres, dan merasakan tekanan. Pada tingkat moderat, siswa menjambak rambut, memukul dan menyerang diri mereka sendiri. Sementara tingkat tertinggi termasuk memotong anggota badan dan bunuh diri. Ola pernah mencoba untuk bunuh diri.

Ola sering berfikiran negatif, baik saat sendirian mau pun ketika belajar serta berkomunikasi. Dia juga mengatakan sering mendapat tekanan dalam kelompok sekolah atau pihak keluarga sendiri.

"Saya benci kalau kawan di sekolah tak menyapa saat berpapasan. Apalagi kalau melihat kawan yang sok kaya. Ada pula kawan yang suka membully, menertawakan, dan mengatakan handphone saya jelek. Itu mendorong saya berbuat di luar kendali terhadap tubuh sendiri," kata Ola yang lahir dari keluarga sederhana. Bapaknya cuma buruh lepas.

Kadang, Ola mengaku sengaja untuk berleha-leha di luar untuk menghindari pekerjaan yang diberikan orangtuanya di rumah.

"Walau cepat pulang sekolah, saya sengaja menghabiskan waktu pergi main bersama kawan-kawan, seperti ke pasar atau ke pusat belanja. Kalau pulang cepat, tidak nyaman di rumah. Kalau sudah tak nyaman, naluri untuk melukai badan sering timbul," ungkapnya.



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com
BERITA TERKAIT

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Senin, 17 Desember 2018 - 11:01:14 WIB

    Pengakuan Pemain Rokok Ilegal: Mengeruk Untung dari Batangan Haram

    Pengakuan Pemain Rokok Ilegal: Mengeruk Untung dari Batangan Haram Pertengahan 2017 lalu, seorang cukong rokok dikabarkan merintis jalur haram rokok ilegal di Padang. Tak tanggung-tanggung, dalam sebulan sang cukong bisa menjual ratusan dus rokok. Dia memberlakukan pola berantai, dan terkena.
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM