Minangkabau, Harga Diri, dan Jalan Keluar


Senin, 29 Oktober 2018 - 08:54:43 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Minangkabau, Harga Diri, dan Jalan Keluar ILUSTRASI

Minangkabau, Harga Diri, dan Jalan Keluar

Oleh Andreas Mazland

(Mahasiswa Jurusan Sejarah Universitas Andalas)

Banyak orang yang berkata, terutama para generasi tua Minangkabau, bahwa orang Minangkabau zaman sekarang telah kehilangan identitasnya. Bahkan ada sebuah kalimat kasar yang berkembang di tengah-tengah masyarakat generasi tua Minangkabau bahwa “Urang Minangkabau jaman kini ko Minangnyo lah hilang, kabaunyo se nan tingga, itu pun kalau indak dijua”.

Perkataan kasar mereka ini bukan tidak berdasar. Setiap malam Minggu, kita akan dibuat muak oleh tingkah laku muda-mudi Minangkabau yang asyik-masyuk bercumbu ria di tempat-tempat romantis yang seakan-akan sengaja disediakan oleh para oknum yang ingin mengambil untung dari kegiatan zina para muda-mudi ini, terlebih di kota-kota besar di Sumatra Barat, seperti Padang contohnya. Bukan sekali atau dua kali juga kita melihat anak gadis Minangkabau diapit oleh dua lelaki di atas satu motor.

Sungguh miris kita melihat muda-mudi Minangkabau yang mulai kehilangan identitasnya sebagai suku bangsa yang beradat dan taat dalam beragama. Dulu, anak gadis Minang untuk berjalan ke luar rumah dengan berdandan saja malu, takut, segan pada gunjingan orang kampung. Jangankan anak gadis, pasangan suami istri pun merasa demikian. Bahkan menurut Drs. Yardhi (Dosen Antropologi Universitas Andalas), pasangan suami istri Minangkabau zaman dahulu tidak berani berjalan berdampingan, apalagi bergandengan tangan karena malu dilihat orang kampung. Namun, zaman sekarang, muda-mudi Minangkabau bisa seenaknya bergandengan tangan, berpelukan, berciuman tanpa ada rasa malu kepada orang-orang sekitarnya. Padahal, marwah suku bangsa Minangkabau terletak di dalam diri setiap gadis Minangkabau (bundo kanduang, limpapeh rumah nan gadang). Oleh karena itu, di dalam hukum adat, mereka harus dijaga dengan penjagaan yang sangat ketat, baik oleh mamak (paman) ataupun oleh suku.

Gadis Minangkabau adalah kebanggaan bagi setiap keluarga di alam Minangkabau. Begitu pula sebaliknya: keburukan tingkah serta adab wanita Minangkabu adalah aib bagi keluarga, suku, dan kampung.

Banyak pemuda-pemudi Minangkabau zaman sekarang yang juga telah kehilangan adab dalam menghormati orang yang lebih tua. Hal itu dapat kita lihat di pasar, di kelas, di angkutan umum, bahkan di rumah. Bisa dikatakan bahwa generasi muda Minangkabau zaman sekarang sedang berada dalam fase krisis moral. Kebanyakan dari mereka tidak lagi paham, atau memang tidak mau paham, pola masyarakat Minangkabau berinteraksi dari masa ke masa, seperti yang tertuang dalam kato nan ampek: mandaki, manurun, malereang, mandata. Bahkan tidak jarang kita mendengar bahwa golongan paling berpendidikan (mahasiswa) pun amnesia dengan kato nan ampek.

Dalam cerita-cerita lama dikatakan bahwa Minangkabau adalah suku bangsa yang beradat, menjunjung tinggi sopan dan santun. Gambaran tentang kebesaran budaya Minangkabau juga termaktub dalam pepatah lama Minangkabau yang berbunyi “Gunuang marapi masih tagak kokoh manjulang, adaik masih tagak kuaik, indak lapuak dek hujan, indak lakang dek paneh”. Namun, jika kita melihat fenomena muda-mudi Minang zaman sekarang, bisa kita katakan bahwa adat Minangkabau memang tidak akan lapuk oleh hujan, tidak juga akan lekang oleh panas, tetapi akan hancur terkikis oleh pengaruh kebudayaan asing. Lihat saja bagaimana dampaknya terhadap muda-mudi di Minangkabau. Laki-laki dan perempuan duduk bersama-sama tanpa ada batas (kumpul kebo) seperti kebudayaan barat. Mereka memakai pakaian yang terbuka dan mengundang nafsu tanpa malu. Mereka juga telah kehilangan sopan santun dalam menghormati orang yang lebih tua. Semua ini jelas-jelas sangat bertentangan dengan hukum adat dan agama di alam Minangkabau.

Jalan Keluar

Sampai kapan kita biarkan hal ini terus berlanjut? Hari demi hari terus mengikis kebudayaan kita dari akarnya. Kita harus mulai bergerak dan mempertahankan kebudayaan kita dari rongrongan kebudayaan asing yang justru merusak generasi muda kita. Akan tetapi, untuk mempertahankan kebudayaan Minangkabau yang beradat itu tidak mudah. Oleh karena itu, semua komponen masyarakat Minangkabau harus bekerja sama.

Pemerintah daerah dan nagari harus bekerja sama dalam membumikan kembali adat-istiadat Minangkabau ke dalam sendi-sendi kehidupan muda-mudi Minangkabau, kepala suku, beserta ninik mamak harus berembuk untuk memikirkan nasib suku bangsa yang beradat ini ke depannya. Kaum ulama dan cendekiawan juga harus mengaktifkan kembali sistem pendidikan surau seperti yang pernah ada dulu di alam Minangkabau. Orang tua merupakan faktor utama dari semua ini. Jika ingin generasi Minangkabau tidak kehilangan identitasnya sebagai anak Minang yang beradat dan beradab, pengawasan dari orang tua sangat dibutuhkan. Jika tidak, generasi Minangkabau akan kehilangan minangnya (jiwa kemanusian yang beradat, dan beradab) sehingga yang tersisa hanya kabaunya (jiwa yang dipenuhi nafsu duniawi, tidak tahu malu, kehilangan sopan santun, dan tidak beradab).

Mengapa unsur-unsur di atas sangat kita harapkan dapat mengembalikan kejayaan budaya Minangkabau? Nagari, suku, surau, dan keluarga inti mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam segi kehidupan dan cara berpikir anak Minangkabau. Jika kita melihat cara hidup dan berpikirnya anak Minangkabau zaman dahulu, kita akan melihat besarnya pengaruh itu (Harry A. Poeze, 1988: 3)

 Seandainya pemerintah daerah dan nagari telah membimbing muda-mudi Minangkabau dengan peraturan-peraturan yang bermanfaat, kepala suku dan ninik-mamak telah membimbing muda-mudi Minangkabau agar lebih beradat, ulama dan cendekiawan juga telah membimbing muda-mudi Minangkabau agar lebih berilmu serta beradab, dan orang tua juga telah berhasil mengawasi dan melindungi generasi muda Minangkabau dari jalan yang bertentangan dengan agama dan adat, bukan tidak mungkin generasi Minangkabau yang digambarkan Harry A. Poeze itu akan kembali hadir ke tengah-tengah kita dan mencerahkan Indonesia.



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

BERITA TERKINI Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM