Menjaga Tradisi Tenun dari Kolong Rumah Gadang


Rabu, 31 Oktober 2018 - 23:48:09 WIB
Menjaga Tradisi Tenun dari Kolong Rumah Gadang TENUN TRADISONAL--Anita Dona Sari (32) menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) di kolong rumah gadang di Desa Lunto Timur, Kecamatan Lembah Segar, Kota Sawahlunto, Sabtu (27/10). Warna kain tenun yang dibuatnya menggunakan pewarna alam seperti kulit kayu, hingga dedaunan. Kini hasil karyanya sudah sampai Belgia dan Moscow. RIVO SEPTI ANDRIES

Laporan: Rivo Septi Andries

Pada Sabtu siang yang terik, sekelompok wanita berbincang, sambil sesekali melepas gelak tawa di bawah kolong rumah gadang di Desa Lunto Timur, Kecamatan Lembah Segar, Kota Sawahluto. Bunyi ketukan monoton alat tenun dari balok kayu yang diayunkan wanita itu ikut membuat riuh suasana para perajin tenun.

Baca Juga : Kenaikan Tarif PPN: Kontradiksi Opsi di Tengah Pandemi

Cukup sejuk berada di bawah kolong rumah gadang yang tinggi lantainya sekitar dua meter dengan luas sekitar lapangan badminton itu. Angin yang menyelip dari pepohonan di sekitar rumah kayu itu mampu menyapu keringat para perajin yang bekerja sejak pagi.

"Sudah dari dulunya, kami menenun di bawah rumah gadang ini. Yang saya tahu dari ibu (orang tua) sudah di sini, turun termurun," ujar Anita Dona Asri perajin yang baru saja pulang dari Moscow memperkenalkan hasil tenunnya.

Baca Juga : Profesi Pelayanan Publik, Harus Jadi 'Role Model' Pelaksanaan Protokol Kesehatan

Anita Dona Asri, atau yang disapa Dona adalah satu dari beberapa wanita muda perajin di Kota Sawahlunto yang mampu membuka lapangan pekerjaan. Dari desa yang berjarak sekitar 16 kilometer dari pusat kota Sawahlunto, dara kelahiran 13 Mei 1986 itu mampu memperkerjakan 19 orang warga sekitar yang mayoritas wanita muda, bahkan desanya kini diberi predikat menjadi desa tenun.

"Ya bersyukur sudah ada belasan warga yang bekerja bersama kejaninan tenun ini," ucap anak pertama dari tiga bersaudara itu.

Dona yang mulai belajar menenun sejak masih Sekolah Dasar (SD), terus memotivasi kaum wanita di desanya untuk mengenal kerajinan tersebut. Wanita lulusan Universitas Negeri Padang ini juga pernah mendapat pelatihan dari Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Masyarakat (LP2M) Padang dalam peningkatan kualitas tenun.

"Saya mulai belajar sejak kelas 3 SD, tapi terjun dan fokus menenun itu sejak tamat kuliah atau sekitar tahun 2014. Dan dahulu seperti diketahui yang menenun itu kebanyakan wanita umur di atas 50 tahun. Dari sini saya termotifasi untuk melahirkan generasi muda yang melestarikan kerajinan ini. Kami bersama sama juga terus belajar tentang motif hingga mengenalkan pewarnaan alami atau yang berasal dari alam," tutur wanita yang pernah memperkenalkan karyanya di Pekan Raya Ekonomi dalam acara European Development Day (EDD) pada 7-8 Juni 2017 di Brussel.

Ia mengatakan, ketertarikannya dalam dunia tenun tidak terlepas dari tradisi menjaga tenun dari keluarganya. Kini dari ketekunannya itu, perlahan hasilnya mulai terlihat, kini ia mampu menghidupi keluarga dan membantu pertumbuhan ekonomi warga di desanya.

"Dari proses tenun hingga menghasilkan kain songket, saya bisa membiayai kuliah dan membantu keluarga. Saat kos dulu saya juga menenun lalu dijual hingga akhirnya tama kuliah dan balik ke kampung," kata alumni jurusan Bimbingan Konseling (BK) itu.

Ia kini merasa bangga dapat menjadi bagian dalam melestarikan budaya menenun.

"Ini tentang tradisi. Saya bersyukur masih bisa mempertahankan tradisi ini, dan senang karena saat ini sudah mulai banyak yang tertarik dengan kerajinan tenun terutama anak-anak muda. Tradisi ini bisa bertahan, ekonomi warga pun bisa terbantu," ucap anak dari pasangan Syamsir Rajo Alam dan Nuryati itu.

Warna Alami dan Motif

Dona menjelaskan, selain tradisi, proses tenun yang nantinya menghasilkan kain songket itu dipertahankan karena dinilai merupakan asli karya tangan manusia, tanpa ikut campurnya mesin.

"Ini kan handmade, bukan cetakan mesin. Dari sini dibutuhkan tangan-tangan terampil manusia, pengolahan ini juga membutuhkan waktu, memintal benang juga dari perajin inilah yang disebut hasil karya. Selain itu, dalam menjaga keunikannya, seperti proses pewarnaan cukup unik yakni berasal dari serbuk kayu surian, daun putri malu, dan bahan alam lainnya. Semua bahan berasal dari lingkungan sekitar sini," ujarnya.

Ia menjelaskan, untuk motif songketnya, ia dan teman-temannya juga mempertahankan motif lama yang sudah ada sejak dahulu.

"Motif baru ada, tapi motif lama juga kami pertahankan contoh pucuang rabuang, itiak pulang patang, tampuak manggis.Karena motif lama ini kan syarat akan filosofi-filosofi di Minangkabau. Dan setiap ada pameran saya selalu menjelaskan filosofi dari motif itu, sekalian memperkenalan budaya minang," tuturnya.

Kampung Tenun 

Kepala Dinas Koperasi Industri dan Perdagangan (Koperindag) Sawahlunto, Marwan mengatakan, perajin tenun di kota tua itu terus diberdayakan, dan Dona salah satunya yang menjadi pioner dalam memperkenalkan kejaninan itu.

"Dona salah satu pioner, dari situlah mulai banyak yang mengenal yang namanya celup alam (perwarnaan alami) yang dipelajari Dona. Di samping itu, kami terus berusaha memberikan pelatihan kepada yang sudah mahir atau pun yang baru belajar," katanya.

Ia menyampaikan, selain bentuk pelatihan, pemerintah juga memberikan bantuan dalam bentuk alat tenun atau yang disebut Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) yang terbuat dari kayu.

"Itu tiap tahunnya kami alokasikan ada sekitar 35 ATBM kepada individu atau perorang. Sedangkan jumlah perajin di sini ada sekitar 900 orang," ucapnya.

Ia menjelaskan, untuk terus memotifasi perajin tenun, pihaknya mulai menjadikan beberapa desa di Kota Sawahlunto sebagai kampung tenun.

"Sudah ada beberapa kampung tenun, seperti di Silungkang, dan Lunto ini sebagi bentuk memotifasi warga. Hal lainnya ini otomatis menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung. Dan itu tidak terlepas dari aktifitas warga yang mayoritas bertenun , bahkan masing-masing rumah ada alat tenunnya," ujar Marwan.

Lebih lanjut ia mengatakan, khusus di Lunto banyak warga yang masih mempertahankan proses pembuatannya di bawah rumah gadang. Hal itu dikarenakan kultur masyarakat setempat.

"Di lain tempat mungkin mereka menenun di dalam rumah atau tempat khusus. Ini memang kultur banyak rumah gadangnya, dan yang unik semua bahannya terletak di situ. Jika belum selesai ya dibiarkan begitu aja, atau tinggalakan begitu saja,nah besok disambung lagi," ucap Marwan.(**)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]