Rugikan Negara Hingga Miliaran Rupiah, Peredaran Rokok Ilegal Marak di Sumbar


Jumat, 02 November 2018 - 11:20:13 WIB
Rugikan Negara Hingga Miliaran Rupiah, Peredaran Rokok Ilegal Marak di Sumbar ROKOK ILEGAL — Petugas Bea Cukai dan beberapa perwakilan instansi terkairt memusnahkan barang bukti berupa rokok ilegal dengan cara dibakar di halaman kantor Bea Cukai, Teluk Bayur, Padang, (1/11). Rokok ilegal tersebut didapat dari penindakan yang dilakukan selama periode bulan Oktober 2017 hingga Juli 2018 dengan jumlah lebih dari 6 juta batang. TIO FURQAN

PADANG, HARIANHALUAN.COM --  Berdasarkan hasil Survei Rokok Ilegal Nasional 2018, Provinsi Sumatera Barat merupakan salah satu provinsi dengan peredaran rokok ilegal terbesar. Berkaitan dengan itu, pihak Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) tipe Madya Pabean B Teluk Bayur berhasil menyita rokok ilegal sebanyak 6.006.288 batang dan melakukan pemusnahan pada Kamis (1/11).

Kepala KPPBC Teluk Bayur, Hilman Satria mengatakan barang bukti (BB) rokok ilegal tersebut adalah hasil penindakan terhitung semenjak Oktober 2017 sampai Juli 2018. "Sumber rokok ilegal yang kami sita berasal dari pulau Jawa dan luar negeri. Kemudian masuk ke wilayah Sumbar, hingga tersebar ke berbagai daerah. Penindakan rokok ilegal tersebut melalui kegiatan operasi pasar, gempur dan patroli darat," jelas Hilman Satria.

Dia mengatakan, penyebaran BB itu melalui jalur darat yang dibawa menggunakan mobil dengan modus dicampur dengan barang lain. Terkait penyebaran tersebut, pihaknya telah melakukan penindakan yang dilanjutkan ke penyidikan terhadap seorang warga Pariaman.

"Baru satu yang bisa kami tindak ke penyidikan, alasannya untuk pelaku lain, bukti-bukti yang ada tidak mencukupi sesuai undang-undang," katanya.

Lebih lanjut, Hilman menjelaskan terkait pemusnahan, ia melakukannya setelah mendapatkan persetujuan dari Kepala Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Padang.

Barang-barang yang dimusnahkan adalah berupa rokok yang melanggar ketentuan di bidang cukai dengan jenis pelanggaran rokok seperti tanpa dilengkapi pita cukai, rokok menggunakan pita cukai bekas dan rokok yang dilengkapi pita cukai palsu.

"BB tersebut terdiri dari berbagai merek seperti Nio Filter, Coffee Stick Twenty, Miami, Centro, Luffman, Profile, Sport, Sakura, Maxx, Piston, RMX, Record, NZR, Euro, dan Surya Putra Gold," kata Hilman.

Terkait banyaknya jumlah rokok ilegal yang dimusnahkan itu, pihaknya memperkirakan nilai keseluruhan rokok yang dimusnahkan adalah Rp4.294.495.920. "Nah dengan nilai sebesar itu, berpotensi kerugian negara yang ditimbulkan mencapai Rp2.222.326.560," sebut Hilman.

Maka dari itu, kata Hilman lagi, pantas hasil survei rokok ilegal nasional 2018, menyatakan Sumbar merupakan salah satu provinsi dengan peredaran rokok ilegal terbesar.

"Berkaitan dengan hal itu, kami gencar melakukan berbagai strategi pengawasan untuk menekan peredaran rokok ilegal seperti Sosialisasi, penyidikan, pemberian saksi, serta membangun kominikasi sinergi dengan pihak terkait," katanya.

Dijelaskannya, bentuk sosialisasi yang dikatakannya seperti mensosialisasikan anti rokok ilegal diberbagai tempat penjualan eceran dengan memberikan informasi mengenai ciri-ciri rokok ilegal, imbauan untuk tidak menjual rokok ilegal, dan penempelan stiker "stop rokok ilegal".

"Pada saat sosialisasi, kami jelaskan bahwa setiap orang yang menjual rokok ilegal dalam jumlah berapapun dapat dikenakan sanksi pidana berupa pidana penjara maksimal lima tahun dan pidana denda paling banyak 10 kali nilai cukai yang seharusnya dibayar. Oleh karena itu, diharapkan kepada siapapun tidak menjual rokok ilegal," katanya.

Selain itu, Hilman juga mengatakan saat pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) dengan perwakilan pemerintah daerah di Sumatera Barat, mereka sepakat membangun komunikasi dan sinerji pengawasan yang baik pada bidang sosialisasi dan pengawasan rokok ilegal.

Terkait penindakan, Hilman mengatakan setelah melakukan penindakan melalui operasi pasar atau patroli darat pihaknya melakukan tindak lanjut seperti penyidikan.

"Hasil penyidikan itu, terdapat satu penindakan yang dilanjutkan ke proses penyidikan yaitu atas nama tersangka dengan inisial FR, warga Pariaman. Proses penyidikan tersebut telah ditetapkan keputusan oleh Pengadilan Negeri dengan menjatuhkan pidana kurungan selama satu tahun dan denda sejumlah Rp 429.922.110," ungkap Hilman.

Selain itu, ungkapnya lagi, pihaknya juga memberikan sanksi administrasi kepada perusahaan rokok dengan inisial "SMA" yang dilanjutkan dengan pengenaan sanksi administrasi berupa denda senilai Rp144.597.480.

"Tindak lanjut hasil penindakan berikutnya berupa Penetapan sebagai Barang Dikuasai Negara (BDN) atau barang milik negara (BMN). Setelah ditetapkan, terdapat 206 penindakkan yang barang hasil penindakan ditetapkan sebagai BDN atau BMN untuk selanjutnya dimusnahkan," jelasnya.

Pada kesempatan itu, Hilman berharap kepada seluruh lembaga terkait dan masyarakat agar dapat membantu menekan peredaran rokok ilegal. Menurutnya, sinergitas seluruh elemen masyarakat untuk sepakat menekan peredaran rokok ilegal merupakan langkah penting untuk tercapainya persoalan tersebut.

Pantauan Haluan, berdasarkan investigasi dilapangan masih banyak toko atau kios yang menjajakan rokok ilegal seperti yang telah dicap pihak Bea Cukai. Bahkan pihak toko atau kios menjual secara terang-terangan dengan cara menjajajakan di etelase.

Salah satu pemilik toko dengan inisial RS mengaku bahwa rokok yang dijualnya ilegal seperti yang disebutkan. Namun penindakan yang tidak terus menerus dari pihak terkait membuat penjual kucing-kucingan saat ada patroli rokok.

"Ya, saya tahu kok itu ilegal. Namun peminat juga banyak. Mereka (konsumen) sendiri kok yang pesan agar stok rokok jangan diputus. Pembeli mengatakan kalau rokok itu nikmat rasanya dan harga lebih murah," kata pemilik toko dengan inisial RS.

RS mengungkapkan, rokok ilegal tersebut diantar langsung ke tokonya oleh pemasok. Selain itu, dikatakannya juga stok rokok ilegal juga beredar di Pasar Raya Padang.

Berdasarkan hasil pantauan Haluan di lapangan, peredaran rokok ilegal paling banyak tersebar pada kawasan kampus di Kota Padang. Dari pengakuan konsumen yang rata rata mahasiswa, mereka memilih rokok ilegal karena harga murah dan rasanya tak kalah dibanding rokok sejenis. (h/mg-rei)

loading...

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]