Petaka karena Pembalakan Hutan


Rabu, 07 November 2018 - 11:11:49 WIB
Petaka karena Pembalakan Hutan Dokumentasi Haluan

PADANG, HARIANHALUAN.COM — Terkait praktik penebangan hutan di kawasan konservasi, Kabid Humas Polda Sumbar, Kombes Pol Syamsi mengatakan, Kapolda Sumbar telah mengintruksikan kepada para Kapolresta di daerah untuk melakukan penyelidikan dan melakukan pengembangan terhadap kasus pembalakan yang ada.

"Kami sudah intruksikan Kapolresta untuk mengusutnya sesuai proses hukum. Siapa saja yang terkait dalam perusakan hutan, bila ditemukan segera ditindak sesuai undang-undang," sebut Syamsi, Senin (5/11).

Kepala Dinas Pengendalian Sumber Daya Air (PSDA) Sumbar, Rifda Suriani kepada Haluan menyebutkan, pihaknya selalu mengingatkan agar jangan sampai ada penebangan di daerah hulu. Karena jika daerah hulu terbuka, limpasannya akan meningkat tinggi. Infiltrasi aliran air juga sudah tidak ada lantaran hutan yang menjadi penahan telah ditebang. Ini yang memicu terjadinya banjir bandang.

Terkait kerusakan hutan, Direktur Walhi Sumbar, Uslaini juga menyebutkan, semakin tahun lahir kritis di Sumbar semakin bertambah. Berdasarkan penelitian tim Advokasi Walhi Sumbar, saat ini hampir 80 persen lahan Daerah Aliran Sungai (DAS) telah terpakai.

“Banyak hal yang menyebabkan berkurangnya lahan. Pertama, di Hulu Sungai banyak tambang yang beroperasi tanpa izin sama sekali. Kami memiliki data banyak sekali soal itu. Kami minta ketegasan pemerintah dalam penegakan hukum karena selama ini masih sangat kurang. Sudah ada laporan dari LSM dan sebagainya, tetapi tidak ada tindakan tegas.," katanya.

Bahkan, kawasan DAS di sebagaian besar sungai di Sumbar disebut Uslaini telah beralih fungsi dan dimanfaatkan sebagai lahan pertanian baik oleh masyarakat ataupun oleh pihak swasta tanpa memperhatikan fungsi lahan itu sebagai DAS.

"Mungkin sebelumnya DAS itu ditumbuhi kayu dan sekarang sudah menjadi perkebunan dan sebagainya, sehingga tidak bisa menahan aliran air saat hujan turun," ujarnya.

Selain itu, ia melihat terjadinya pergeseran budaya dalam masyarakat saat ini. Biasanya pada kawasan rawan banjir masyarakat membikin rumah kayu yang ditinggikan. Namun, sekarang masyarakat cenderung mabuat rumah dari batu. "Terjadi pergeseran budaya masyarakat, juga berkurangnya kearifan lokal masyarakat yang hidup di kawasan rawan banjir yang semakin berkurang kesiapsiagaan," ujarnya.

Daerah Gelisah

Bupati Pesisir Selatan, Hendrajoni, mengatakan banjir yang melanda daerah itu memang dipicu maraknya aktivitas pembalakan liar dan tambang galian c yang tidak mengantongi izin resmi (ilegal).

"Selain memang masuk musim hujan. Namun begitu, saya tetap berharap masyarakat proaktif melaporkan setiap kegiatan ilegal di kawasan hutan. Masyarakat saya harap bekerja sama dengan Pemda terkait ilegal logging. Jika menemukan hal hal yang menyalahi aturan, laporkan kepada saya. Jika tidak memiliki izin, maka akan kami hentikan," ucap Hendrajoni.

Masih terkait aktivitas pembalakan, Pemkab Pessel bersama Kepolisian dan TNI sudah lama berkomitmen kuat untuk memeranginya. Namun, sejauh ini pihaknya belum mendapatkan laporan akurat siapa oknum yang bermain dibelakangnya.

"Intinya, kami mau menjalankan komitmen itu atau tidak. Sebab, di tingkat bawah juga ada koramil dan kapolsek, tentu mereka tahu. Tidak mungkin mereka tidak tahu. Jangan takut untuk melapor karena keselamatan jiwa, harta, dan keluarga tentu akan dijamin, sesuai pasal 76, UU Nomor 18 Tahun 2013 tentang pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan,” ucapnya.

Di Agam, kurangnya serapan air menjadi faktor utama penyebab banjir. Koordinator Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Agam Raya, Afniwirman, mengatakan, pihaknya terus mengupayakan peningkatan fungsi serta penjagaan terhadap lahan dan hutan sehingga memberikan manfaat sistem penyangga kehidupan.

“Sekarang banyak kerja sama dengan masyarakat untuk melindungi hutan, dan mendorong kelompok untuk menanami lahan lahan kosong dengan tanaman. Sejauh ini mendapatkan sambutan dari masyarakat. Walau dengan kondisi terbatas, kami terus maksimalkan penjagaan hutan,” katanya.

Saat ini, pengawasan dan perlindungan hutan di Kabupaten Agam juga dibantu tenaga Satuan Tugas (Satgas) Perlindungan Hutan Berbasis Nagari (PHBN). Petugas tersebut di Agam sekitar 47 personil, yang bertugas di sembilan kecamatan. Nagari yang sudah memiliki Satgas PHBN antara lain, IV Koto Palembayan, Salareh Aia, Baringin, III Koto Silungkang (Palembayan), Simarasok, Padang Tarok (Baso), Kamang Ilia (Kamang Magek), Koto Tangah (Tilatang Kamang), dan Nagari Pagadih (Palupuh). Sitalang, Sitanang (Kecamatan Ampek Nagari), Lubuk Basung (Lubuk Basung), Tanjung Sani, Koto Kaciak (Tanjung Raya), dan Matur Mudik (Matur).

“ Kecamatan yang sudah memiliki Satgas PHBN di Agam adalah Ampek Nagari, Lubuk Basung, Tanjung Raya, Matur, Palembayan, Baso, Kamang Magek, Tilatang Kamang, dan Kecamatan Palupuh,” katanya.

Tenaga PHBN sudah banyak membantu tugas perlindungan dan pengamanan hutan di Kabupaten Agam, walau kala itu mereka tidak memperoleh insentif. Jasa mereka itu sangat dihargai. Di harapkan ke depan, partisipasi dalam perlindungan dan pengamanan hutan akan lebih tinggi lagi, agar hutan di Agam benar-benar aman dari segenap gangguan, terutama para pencuri kayu.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Agam, M Lutfi menuturkan, wilayah yang sangat rentan terkena banjir antara lain, Tanjung Mutiara, Ampek Nagari, dan Tiku Limo Jorong yang selalu menjadi langganan karena kondisi daerah yang rendah.

Kendati demikian, Rifda juga mengatakan bahwa pembangunan sabo di hulu sungai akan memakan biaya yang sangat besar. Sementara di sisi lain, anggaran untuk menormalisasi sungai di Sumbar sangat terbatas. Tahun ini, PSDA Sumbar hanya mendapat kucuran dana Rp70 miliar.

"Membangun infrastruktur butuh biaya besar. Bisa saja kami gunakan cara yang lebih alami yang justru lebih bagus. Akan tetapi, tentu butuh kerja sama yang baik dari para kepala daerah di kawasan hulu yang harus rutin membersihkan hulu sungai, paling tidak sekali enam bulan," kata Rifda.

Dinas PSDA Sumbar masih terus melakukan berbagai upaya dalam normalisasi sungai di Sumbar. Beberapa sungai yang saat ini menjadi fokus normalisasi di antaranya, Banda Luruih Kota Padang, Batang Unayang, Batang Surantiah, dan Batang Tarusan di Pesisir Selatan, Batang Lembang Kabupaten Solok, Batang Anai Kabupaten Padang Pariaman.

"Langkah-langkah normalisasi yang dilakukan bermacam-macam, tergantung bentuk dan kondisi sungai. Kalau sudah ada sedimentasi pendangkalan, kami akan melakukan pengerukan. Atau bisa juga dibuat semacam cekdam untuk menstabilisasi dasar sungai serta penguatan tebing sungai," ujarnya. (h/mg-dan/mg-pmi/kis/mg-hen)





Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Sabtu, 10 Agustus 2019 - 21:09:03 WIB

    Petaka Lontong Sayur? Dua Meninggal Dunia, Puluhan Korban Dirawat

    Petaka Lontong Sayur? Dua Meninggal Dunia, Puluhan Korban Dirawat DHARMASRAYA, HARIANHALUAN.COM– Warga Dharmasraya gempar setelah puluhan warganya dilarikan ke rumah sakit, usai makan lontong sayur. Dua korban diantaranya meninggal dunia..
  • Senin, 04 Maret 2019 - 20:34:21 WIB

    Temuan Baru, Gempa di Solsel Belum Terpetakan

    Temuan Baru, Gempa di Solsel Belum Terpetakan PADANG, HARIANHALUAN.COM -- Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menemukan, pemicu gempa di Solok Selatan diduga berasal dari percabangan (splay) dari Sesar Besar Sumatra (The Great Sumatra Fault Zone), menginga.
  • Kamis, 24 Mei 2018 - 12:23:45 WIB
    BASECAMP PERUSAHAAN DAN DUA MOBIL DIBAKAR MASSA

    Petaka Tambang Emas Pasaman

    Petaka Tambang Emas Pasaman PASAMAN, HARIANHALUAN.COM– Dua unit mobil milik aparat kepolisian ludes dibakar massa dalam kerusuhan antara warga Nagari Simpang Tonang, Kecamatan Duokoto dengan aparat kepolisian, Rabu (23/5) dini hari. Warga juga membaka.
  • Kamis, 22 September 2016 - 19:32:26 WIB

    Tenda Baralek Bawa petaka. Dua Pekerja Meregang Nyawa

    Tenda Baralek Bawa petaka. Dua Pekerja Meregang Nyawa DHARMASRAYA, HALUAN--Dua orang pekerja yang memasang tenda pelaminan (baralek) meninggal dunia akibat tersengat arus listrik PLN tegangan menengah 20 kv di Pasar Blok B Sitiung 1 Koto Agung, Kecamatan Sitiung, Kabupaten Dharm.
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM