Nurani Kapolda Sumbar untuk Iwan Mulyadi


Rabu, 07 November 2018 - 19:01:22 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Nurani Kapolda Sumbar untuk Iwan Mulyadi Kapolda Sumbar, Irjen Pol Fakhrizal (paling kiri), usai bertemu dengan Iwan Mulyadi (duduk), Nazar (tiga dari kiri) dan Wengki Purwanto (dua dari kiri) dari PBHI Sumbar, Selasa (6/11). IST

Oleh: Peri Musliadi

Kaki itu mungkin tak dapat lagi berdiri seperti dua belas tahun silam. Namun, setidaknya, masa tunggu untuk sebuah keadilan sudah tiba di ujung penantian. Iwan Mulyadi, korban salah tembak oknum polisi di Pasaman Barat pada 2006 dapat tersenyum. Uang ganti rugi imateril senilai Rp300 juta sudah di tangan. Iwan ingin membeli kebun dan kambing dengan uang itu.

Cairnya uang ganti rugi imateril tersebut sekaligus menghidupkan kembali harapan Iwan yang sudah padam. Belasan tahun ia menunggu, berkali-kali Kapolda Sumbar berganti, namun haknya yang sudah ditetapkan secara hukum tak kunjung didapatkan. Iwan nestapa berkepanjangan, sebelum akhirnya Kapolda Sumbar, Irjen Pol Fakhrizal memberi kabar bahagia. Uang itu cair. “Ini soal nurani,” tutur Fakhrizal lirih, ketika memberikan uang tersebut.

Bibir Kapolda urang awak itu bergetar-getar ketika bersalaman dengan Iwan. Ada sedih bercampur haru yang dirasakan putra Agam tersebut. “Bayangkan kalau yang mengalami kejadian seperti Iwan ini keluarga kita semua, keluarga saya. Tak terbayangkan kesedihan yang ditanggung,” ucap Fakhrizal.

Dijelaskan Fakhrizal, ketika menerima kabar soal Iwan yang menuntut hak-nya, dia langsung memerintahkan Kapolres Pasbar untuk menjemput Iwan ke rumahnya, untuk dibawa ke Mapolda Sumbar. “Melihat Iwan yang tak bisa berjalan, dan hanya duduk di kursi roda, saya yang teriris rasanya,” lanjut jenderal bintang dua itu.

Tak berlama-lama, Kapolda langsung memberikan uang Rp300 juta kepada Iwan. Tak sampai di situ, Kapolda juga menitipkan masa depan Iwan kepada Kapolres Pasbar. Kapolda ingin memastikan kalau Iwan tak lagi hidup dengan kesedihan dalam kesepiannya. “Jangan biarkan Iwan sendiri. Tadi saya titip ke Kapolres agar menjaga Iwan, memperhatikannya. Iwan adalah korban, dan tanggung jawab moril pihak kepolisian memperhatikannya,” kata Fakhrizal.

Iwan Mulyadi menjadi korban penembakkan oknum anggota Polsek Kinali, Pasaman Barat pada 2006 silam. Akibat penembakan itu, Iwan Mulyadi lumpuh permanen. Secara hukum, oknum anggota kepolisian yang menembak Iwan Mulyadi terbukti melakukan perbuatan melawan hukum dan telah dijatuhi pidana penjara selama 1 tahun 6 bulan. Iwan juga bergak menerima ganti rugi imateril. Namun, pergantian tertunda dan nyaris mengalami kebuntuan.

Di tengah kebuntuan, pada 2 November 2018, PBHI Sumbar diundang Kabidkum Polda Sumbar pada 5 November 2018 di Ruangan Advokat Polda Sumbar untuk membicarakan pelaksanaan putusan pengadilan yang BHT tersebut. Pada pertemuan itu, Kabidkum Polda Sumbar menyatakan pembayaran ganti rugi immateril Rp300 juta untuk Iwan akan dilakukan melalui DIPA Polda Sumbar tahun 2018, dan sedang menunggu ACC dari Asrena Mabes Polri.

Irjen Pol Fakhrizal pun meminta pertemuan dengan Iwan Mulyadi dan Kuasa Hukumnya pada 6 November 2018. Iwan berangkat dari Pasaman bersama Kapolres Pasaman Barat dan Kapolsek Kinali. Pembayaran ganti rugi immateril senilai Rp300 juta untuk Iwan pun dibayarkan di hari pertemuan itu. Dananya diambil dari DIPA Polda Sumbar.

“Secara administrasi masih ada proses yang harus ditunggu, tetapi harus dilakukan hari ini juga. Persoalan administrasi jangan memperlambat akses keadilan, kasus ini sudah sangat lama. Jangan dibuat makin lama lagi. Kami bayarkan langsung hari ini, mengunakan dana lain. Secara admintrasi kami ikuti ketentuan perundang-undangan,” kata Irjen Pol Fakhrizal, yang dalam kesempatan itu juga memberi semangat dan santunan uang atas nama pribadi untuk Iwan.

Selepas menerima uang, Iwan yang ditemani ayahnya, Nazar serta pengacaranya langsung bergegas keluar Mapolda Sumbar dan menuju Kantor Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) Sumbar, di Jalan Belanti Barat VII No 101, RT 06, RW 04, Lolong Belanti, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, Selasa (6/11). Puluhan wartawan menunggunya dan menyimak harapan yang disampaikan Iwan.

“Padang Panas,” kata Iwan yang saat ditemui Haluan tengah berbaring tanpa baju, dan hanya berselimutkan selembar kain pada perut hingga menutupi seluruh kaki.

Iwan memang lumpuh total mulai dari pinggang ke bawah. Sehari-hari, Iwan hanya berbaring atau duduk di kursi roda di rumahnya di Kinali, Pasaman Barat. Hari-harinya cenderung lengang karena tak banyak aktivitas yang bisa dikerjakan. Sebagai penghibur hati, Iwan selalu menimang gawai pintar miliknya untuk membaca beragam informasi dan menikmati hiburan.

“Di rumah hanya tidur karena dari pinggang ke bawah memang mati. Empat tahun setelah kejadian itu, ibu saya meninggal. Saya tinggal dengan ayah dan saudara-saudara. Saya sempat pergi mengemis ke Pekanbaru selama sembilan bulan. Hasil mengemis dibagi dua dengan orang yang membawa,” kata Iwan, mengingat hari-hari yang telah ia lewati.



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

BERITA TERKINI Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM