Miris! Kisah Anak yang Diikat di Bawah Pohon Beringin


Kamis, 08 November 2018 - 09:39:21 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Miris! Kisah Anak yang Diikat di Bawah Pohon Beringin ANAK DIIKAT TALI—Seorang anak yang diduga mengalami keterbelakangan mental sengaja diikat ke pohon di Taman Imam Bonjol, Padang, Rabu (7/11). Hal itu dilakukan oleh orang tuanya agar tidak mengganggu dan membuat resah masyarakat di kawasan tersebut saat lepas dari pantauan orang tuanya berjualan setiap hari. TIO FURQAN

Oleh : Yessi Deswita/Akmal Saputra

 

Malang betul nasib "Si Kriwil" (bukan nama sebenarnya). Bocah itu mesti melewati hari-hari dalam keadaan pinggang terikat kuat. Mirisnya lagi, Kriwil diikat oleh ibu sendiri.

Ia diikat ibunya di tengah kota, tepatnya di salah satu pohon beringin di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Taman Imam Bonjol atau berjarak sekitar 100 meter dari Mapolresta Padang. Tak jauh dari gedung bekas kantor Balai Kota Padang.

Bertahun-tahun sudah tali pengikat yang merupakan sambungan dari potongan-potongan kain itu melilit badan Kriwil yang kecil dan jauh dari kata bersih. Selain tampak kusam dan kumal, Kriwil pun berdiri tanpa alas kaki.

Informasi yang dihimpun Haluan di lapangan, Ibu Kriwil yang sehari-sehari menjadi pedagang asongan di Pasar Raya Padang sengaja mengikat anaknya karena tidak dapat lagi mengendalikan si anak yangsering mengamuk dan merusak apa pun yang ditemuinya.

"Kalau tidak diikat, ia sering mengamuk. Sementara kalau ditinggal di rumah tidak ada yang menjaga. Rumahnya sudah dua kali ia bakar. Pagar itu (pagar RTH Imam Bonjol), patah karena ulahnya. Bayangkan saja saat ia mengamuk, bisa hancur semua yang ada di sekitarnya. Dari pada ditinggal di rumah, ibunya memilih mengikatnya di pohon itu agar tetap bisa mencari uang penyambung hidup," kata seorang tukang parkir di kawasan tersebut, yang enggan namanya dituliskan.

Sumber Haluan yang lain, Herman yang berprofesi sebagai pedagang buah di kawasan RTH Imam Bonjol mengatakan, sudah bertahun-tahun Kriwil selalu diikat di tempat itu. Biasanya, setiap pukul 17.00 WIB ikatan itu baru dilepas oleh ibunya. “Selain itu setiap jadwal makan siang, dibawa ibunya pergi makan. Disuapi karena tidak anak itu tidak pandai mengurus diri sendiri," kata Herman.

Keberadaan "Si kriwil" tentu menjadi pemandangan yang tidak biasa dan cenderung ironi di tengah pusat kota yang juga ibukota provinsi ini. Meski tidak semua orang yang lewat peduli dan peka dengan "Si kriwil", tetapi tak sedikit pula orang yang tertarik untuk lebih dekat menyaksikan kondisi bocah berambut keriting dengan tatapan mata yang kosong itu.

"Sebagai manusia, seharusnya kita juga anggap anak itu manusia. Tak seharusnya diikat seperti itu. Di tengah-tengah keramaian pula. Hewan saja tidak diikat seperti itu. Ini manusia. Masih kecil juga. Saya tak habis pikir," kata Sami, salah seorang pengunjung pasar yang saat itu tengah mengamati Kriwil.

Menurut penuturan Herman lagi, petugas dari Dinas Sosial dan bahkan Wali Kota Padang pernah menawarkan bantuan kepada ibu Kriwil untuk pengobatan jika memang Kriwil mengalami gangguan kejiwaan. Namun, si ibu menolak karena menurut pertimbangannya, ia adalah orang pasar yang harus bekerja mengais rezeki.

"Wali Kota Padang sekarang baik. Dulu Pak Mahyeldi datang dan menawarkan bantuan agar Kriwil disekolahkan di SLB dengan biaya ditanggung. Agar ibunya tidak perlu berjualan dan fokus merawat anaknya. Juga diberi biaya hidup, agar Kriwil lebih terurus. Namun itulah, mungkin karena terbatasnya pemahaman, Ibunya menolak. Sebagai ibu, itu memang hak dia," ucap Herman lagi.

Masyarakat setempat juga berharap agar ada solusi penanganan terhadap Kriwil dengan cara yang lebih manusiawi. "Kasihan. Dia masih kecil dan tentu tidak mengerti apa-apa. Anak seumuran dia seharusnya bisa berlari dengan riang dan bermain dengan penuh keceriaan. Kenyataannya, ia terkungkung pada seutas tali yang melilit badannya," ujar Herman.

Saat dihubungi Haluan, Kepala Dinsos Kota Padang, Amasrul mengatakan, Pemerintah Kota (Pemko) Padang sudah beberapa kali membujuk orang tua dari anak terduga disabilitas itu agar anaknya dibawa untuk mendapatkan pemeriksaaan kesehatan.

"Kami dari Pemko juga tidak mau lepas tangan. Namun, orang tuanya selalu tidak mau mengizinkan kami untuk memeriksa anaknya. Apabila memang ada gangguan jiwa, akan kami bawa ke rumah sakit jiwa," katanya.

Bahkan, kata Amasrul, Wali Kota Padang pun pernah langsung turun untuk membujuk dan meyakinkan orang tua anak tersebut.

"Tapi itu, orang tuanya sampai berteriak-teriak agar kami tidak membawa anaknya. Tentu kami tidak bisa melakukan penanganan yang lebih jauh karena orang tuanya sendiri tidak mengizinkan," ujarnya. (*)



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Jumat, 22 Januari 2016 - 03:52:05 WIB

    Miris! Warga Kota Besar Belum Terjamah Listrik

    Ternyata masyarakat yang sama sekali be­­lum terjamah listrik bukan saja di Nagari Ga­rabak Data, Kabu­paten Solok. Tetapi masyarakat yang belum beruntung, karena tidak bisa menikmati tegangan listrik juga ada di Ibukota .
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM