PENGANUGERAHAN GELAR PAHLAWAN NASIONAL

Disayangkan Pengajuan Nama Ruhana Kuddus Ditolak Pusat


Ahad, 11 November 2018 - 18:28:56 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Disayangkan Pengajuan Nama Ruhana Kuddus Ditolak Pusat Rohana Kudus. WIKI

PADANG, HARIANHALUAN.COM — Tahun ini kembali tidak ada nama pahlawan Asal Sumatera barat menghiasi album Pahlawan Nasional. Pemprov Sumbar telah mengajukan nama tokoh pergerakan perempuan Minangkabau, Ruhana Kuddus. Namun upaya tersebut gagal.

Kegagalan kali adalah untuk yang kedua kalinya. Tahun lalu, Rohana Kudus juga gagal mendapatkan gelar pahlawan nasional. Kepala Dinas Sosial Sumbar, Abdul Gafar mengatakan, pihaknya telah mengusulkan nama Ruhana Kuddus sejak jauh-jauh hari dan seluruh persyarakat yang berkaitan dengan hal tersebut telah terpenuhi.

 “Kami sudah berusaha maksimal. Syarat-syarat telah terpenuhi. Seminar-seminar tentang kiprah serta peranan Rohana Kudus dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tidak ada yang kurang. Hanya saja tentu keputusan akhirnya ada di tangan pemerintah pusat. Kami hanya bisa menerima,” ujarnya kepada Haluan, Jumat (9/11).

Selain itu, ia juga menambahkan bahwa pihaknya tidak mengetahui indikator yang dipakai oleh pemerintah pusat dalam mengangkat pahlawan nasional dan kenapa pemerintah pusat menggagalkan Ruhana Kuddus. Namun demikian, ia juga mengatakan bahwa keputusan ini bukanlah akhir segalanya. “Masih ada tahun depan. Nama Ruhana Kuddus masih bisa diajukan lagi untuk tahun 2019. Saya pikir tahun depan peluangnya justru lebih terbuka lebar,” ucap Abdul Gafar.

Dari surat yang diterbitkan oleh Dewan Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan (Dewan GTK) tertanggal 2 November lalu nomor M-10/DGTK/11/2018, terdapat 18 nama pahlawan yang diusulkan oleh pemerintah daerah untuk menjadi pahlawan nasional. Dari kedelapan belas nama tersebut, hanya enam orang berhak mendapat gelar pahlawan nasional yang diputuskan oleh presiden. Mereka adalah alm. AR Baswedan dari Yogyakarta, alm. Agung Hajjah Andi Depu dari Sulawesi Barat, alm depati Amir dari Bangka Belitung, alm. Mr. Kasman Singodimedjo dari Jawa Tengah, serta alm. Ir. H. Pangeran Mohammad Noor dari Kalimantan Selatan, dan alm. Brigjen K.H. Syam’un dari Banten.

Sementara itu, untuk 12 nama lainnya presiden belum menetapkan gelar pahlawan nasional pada 2018. Namun, Sekretaris Dewan GTK, Trisno Hendradi dalam surat tersebut mengatakan,  12 nama tersebut yang di dalamnya ada nama Ruhana Kuddus, dapat dipertimbangkan kembali pada 2019.

Terkait hal ini, sejawaran Gusti Asnan melihat bahwa pada pengangkatan pahlawan nasional tahun ini pemerintah pusat tengah mencoba memberi ruang kepada provinsi-provinsi baru. Hal in terlihat dari banyaknya jumlah pahlawan nasional yang bersal dari provinsi-provinsi baru. “Saya melihat pemerintah ingin memberikan kesempatan bagi provinsi-provinsi baru untuk menampilkan wajah-wajah pahlawan nasional dari daerahnya. Bisa jadi, daerah-daerah lain yang telah memiliki banyak pahlawan nasional, seperti Sumbar misalnya, agak ditahan. Istilahnya, agak mengalah sedikitlah,” ujar Guru Besar Universitas Andalas tersebut.

Namun demikian, kans Ruhana Kuddus untuk diangkat menjadi pahlawan nasional pada 2019 mendatang masih sangat besar. Hal tersebut karena tokoh jurnalis asal Minangkabau itu berbbeda dari pejuang-pejuang fisik yang melawan kolonialisme lewat senjata. Ruhana kuddus di sisi lain adalah seorang pejuang intelektual yang berjuang mencerdaskan dan memberdayakan kaum perempuan di Sumbar.

Akan tetapi, apabila Ruhana Kuddus kembali gagal diangkat sebagai pahlawan nasional, ia menyarankan kepada Pemprov Sumbar untuk mencari alternatif lain. Adalah Sutan Muhammad Zain, yang menurut Gusti Asnan berpeluang paling besar untuk diangkat menjadi pahlawan nasional. “Sutan Muhammad Zain bisa dibilang adalah seorang bapak Bahasa Indonesia. Dialah yang membawa dan memperkenalkan Bahasa Indonesia sebagai sebuah ilmu, tidak hanya sebagai sebuah bahasa pengantar.  Sangat banyak karya-karyanya yang mengkaji tentang Bahasa Indonesia. Apalagi kalau kita berbicara tentang Bahasa Indonesia sebagai identitas bangsa. Jadi memang sangat layak Sutan Muhammad Zain selaku bapak Bahsa Indonesia diangkat menjadi pahlawan nasional,” katanya.

Sementara itu, sejarawan Universitas Negeri Padang (UNP), Hendra Naldi melihat kegagalan ini sebagai rendahnya posis tawar Pemprov Sumbar terhadap pemerintah pusat. “Apa sih sesungguhnya upaya pemerintah daerah terkait hal ini. Apakah usaha yang dilakukan memang sudah benar-benar maksimal? Saya kira tidak,” ujarnya.

Ia melihat Ruhana Kuddus memiliki nilai ketokohan yang sangat tinggi. Ia adalah salah seorang tokoh yang mewakili perjuangan emansipasi perempuan di Indonesia. Bahkan hingga saat ini, masih relevan dipergunakan oleh para perempuan Indonesia. “Saya berharap Pemprov Sumbar dan para perantau yang punya kedudukan strategis agar terus bersemangat untuk mengepayakan hal ini,” kata Hendra. (h/mg-dan)



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

BERITA TERKINI Index »

BERITA TERPOPULER Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM