Kasus Pilubang Berdarah, Mantan Anggota Dewan Divonis MA 5 Tahun Penjara


Kamis, 15 November 2018 - 09:38:44 WIB
Kasus Pilubang Berdarah, Mantan Anggota Dewan Divonis MA 5 Tahun Penjara Ilustrasi (haluan)

PAYAKUMBUH, HARIANHALUAN.COM – Setelah menjalani persidangan yang panjang dan berbelit di tingkat peradilan pertama hingga ke Mahkamah Agung (MA), akhirnya kasus Pilubang berdarah yang menyeret mantan anggota DPRD Limapuluh Kota, Tedi Sutendi ke dalam penjara, inkrah. MA telah mengeluarkan putusan yang berkekuatan hukum.

Dalam putusannya, hakim agung memperingan vonis penjara yang dijatuhkan Pengadilan Tinggi Padang kepada Tedi Sutendi. Jika sebelumnya Tedi vivonis 10 tahun penjara, MA memangkasnya menjadi lima tahun penjara.

Putusan ini dibenarkan Kepala Kejaksaan Negeri Payakumbuh, Nur Tamam, Rabu (14/11) pagi. “Putusan kasasi Tedi Sutendi dan adiknya, Primtito memang telah keluar. Tedi divonis 5 tahun dan adiknya Primsito 8 tahun," Nur Tamam.

Kasi Intel Kejari Payakumbuh, Nazif Firdaus mengaku pihaknya sudah menerima putusan. “Kalau dibandingkan dengan putusan Pengadilan Tinggi Padang memang rendah. Di PT Padang dulu diganjar 10 tahun penjara, sekarang lima tahun. Tapi putusan ini sudah berkekuatan hukum tetap, dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) tidak ada lagi upaya lain. Diterima saja,” tutur Nazif yang didampingi jaksa Hadi Saputra, Widia dan Indra.

Awal April lalu, Pengadilan Negeri Tanjung Pati menjatuhkan vonis terhadap Tedi dan adiknya karena terlibat kasus perkelahian di tanah ulayat perbatasan Nagari Taram dan Nagari Pilubang. Tedi Sutendi dan Primsitto dijatuhi vonis masing-masing empat tahun penjara. Karena tidak merasa bersalah, Tedi Sutendi melalukan banding terhadap vonis dirinya.

Pada pertengahan Mei lalu, Pengadilan Tinggi Padang malah mengeluarkan putusan yang tak diinginkan Tedi. Hukuman Tedi yang empat tahun diperberat menjadi 10 tahun. Primsitto diganjar 8 tahun penjara. Beranjak dari putusan itu, kedua kakak beradik tersebut melakukan upaya kasasi. Hasilnya hukuman keduanya diperingan.

Kasus ini dipicu oleh sengketa lahan antara dua kelompok dari Negeri Taram yang dipimpin Tedi serta adiknya dan warga Pilubang. Keduanya sama-sama mengklaim tanah yang ada diperbatasan sebagai milik mereka. Puncaknya, pada 12 September 2017, rombongan Tedi Sutendi dari Nagari Taram yang berjumlah mencapai 40 orang datang ke lokasi dan untuk melarang kelompok Nagari Pilubang menggarap lahan di perbatasan tersebut. Namun, warga Pilubang menganggap apa yang mereka lakukan tidak salah, serta yang digarap merupakan lahan milik mereka.

Kedua kubu sempat terlibat perang mulut, hingga akhirnya Primsitto yang merupakan adik dari Tedi Sutendi  emosi dan melakukan pemukulan terhadap Damirun, anggota kelompok Nagari Pilubang. Pemukulan itu berlanjut ke penganiayaan hingga melibatkan tersangka Tedi Sutendi. 

Saat itu, datang korban Erwinsyahputra membawa golok dan menusuk punggung Tedi Sutendi. Karena kondisi terluka, Tedi Sutendi secara spontan menarik golok milik korban Damirum yang sebelumnya sempat dipukul oleh  Titto. Tedi pun membacok korban Erwinsyahputra dengan golok milik Damirum. Pembacokan dilakukan berulang kali hingga Erwinsyahputra tewas. (h/ddg)





Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com
BERITA TERKAIT

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM