PT Hitay Dikawal Brimob, Ribuan Warga Salingka Gunung Talang Siaga


Senin, 19 November 2018 - 10:29:28 WIB
Reporter : Tim Redaksi
PT Hitay Dikawal Brimob, Ribuan Warga Salingka Gunung Talang Siaga Demo—Para warga yang mengatasnamakan masyarakat salingka gunung talang kembali menggelar demo, menyusul rencana dimulainya kegiatan pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi (geothermal) di kawasan Batu Bajanjang Kec. Lembang Jaya, Jum’at (16/11) YUTISWANDI

AROSUKA, HARIANHALUAN.COM—Warga di nagari Batu bajanjang Kecamatan Lembang Jaya, kembali memanas, menyusul dilanjutkannya rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi (geothermal) oleh PT Hitay Daya Energy di daerah itu.

Ratusan warga dari berbagai usia dan didomiasi oleh kaum ibu tersebut turun ke lokasi yang menjadi pintu masuk lokasi pengeboran panas bumi blok Bukitkili-Gunung Talang, Jumat (16/11).

Dari informasi yang dihimpun Haluan menyebutkan, kehadiran  rombongan PT Hitay dengan pengawalan seratusan anggota brimob polda Sumbar mengundang tanya dari warga setempat.

Pasalnya sebelumnya, pihak Komnas HAM bersama kementerian ESDM menggelar pertemuan dengan warga setempat menyikapi persoalan yang terjadi sebelumnya, dan berujung pembakaran mobil operasional perusahaan sehingga membuat  3 orang warga setempat divonis penjara dan beberapa orang lainnya masuk daftar pencarian orang (DPO) polisi.

Namun,  pertemuan yang dilaksanakan di Hotel grand Zuri padang pada 18 Oktober 2018 itu tidak berhasil mencapai kesepakatan. Karena tuntutan warga yang menuntut untuk pembebasan 3 orang warga yang kini mendekam di LP laing Kota Solok serta membebaskan warga lainnya yang menjadi DPO Polisi tidak mencapai kesepakatan.

“Para utusan warga Salingka Gunung talang yang hadir waktu itu, menuntut agar warga yang kini ditahan dan menjadi DPO agar dibebaskan. Pihak perusahaan PT Hitay juga diminta melakukan sosialisasi secara merata dengan masyarakat dan menggelar dialog meminta persetujuan apakah proyek ini dilaksanakan atau tidak. jika hal itu tidak dilaksanakan, perusahaan dilarang masuk ke lokasi. Namun hal itu tidak digubris,” kata salah seorang warga setempat.

Meski tak ada kesepakatan dalam pertemuan itu, namun direktur panas bumi Ida Nuryatin pada waktu itu tetap memerintahkan pihak perusahaan untuk kembali memulai pekerjaan sesuai aturan dan perundang-undangan yang berlaku. Atas alasan itu, kemudian PT Hitay menurunkan tim ke lokasi nagari Batu Bajanjang untuk memulai pekerjaan dengan pengawalan seratusan anggota Brimob Polda Sumbar.

Hal itu pun kemudian langsung mendapat respon penolakan dari warga yang mengatasnamakan diri sebagai masyarakat salingka Gunung Talang dan turun ke lokasi di kawasan Tabek Lanyek dengan membawa spanduk bertuliskan berbagai tuntutan warga. Sementara polisi yang awalnya berjaga-jaga di rumah warga yang jaraknya sekitar 1,5 kilometer dari lokasi itu, tiba –tiba diperintahkan ditarik ke Padang.

“Nyaris tak ada perlawanan dari pihak Hitay bersama aparat polda Sumbar, karena aparat berada sangat jauh dari lokasi demo warga. Jadi kalau ada yang bilang masyarakat diintimidasi oleh aparat, itu berita tidak benar,” kata Syafril salah seorang tokoh masyarakat setempat.

Terhadap kejadian itu, Senior project PT Hitay Daya Energy Novianto berharap peran aktif dari pemerintah untuk turun tangan meluruskan persoalan, agar persoalan ini tidak berlarut-larut. Pihaknya mengaku, sebagai kontraktor, PT Hitay justru menjadi pihak yang dirugikan, karena mengerjakan pekerjaan yang diperintahkan oleh pemerintah namun mendapat penolakan dari masyarakat.

“Jangan sampai masalah ini berlarut-larut, jangan sampai masyarakat menelan edukasi yang tidak benar. Kalau direktur panas bumi tidak dipercaya, siapa lagi yang mereka percaya,” ujarnya.

Saat ini Indonesia telah memproduksi energy terbarukan sampai 2000 MW bahkan di Garut, produksi energy panas bumi telah berjalan selama 30 tahun.

“ Kalau memang energy geothermal merusak lingkungan kenapa yang sudah produksi 2000 MW itu tidak dituntut..??,” ujarnya.

Sementara terkait tuntutan warga itu, pihaknya tak mau berkomentar banyak. Karena antara persoalan lingkungan dan produksi panas bumi berbeda dengan persoalan criminal yang kini membuat 3 orang warga mendekam di sel tahanan.

“Saya bukan orang hukum, mungkin LBH lebih paham duduk persoalan yang ada sekarang,” tutup Novianto. (h/ndi)



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com
BERITA TERKAIT

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

BERITA TERPOPULER Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM