Alih Fungsi Lahan di Pasaman Picu Longsor


Selasa, 27 November 2018 - 11:14:27 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Alih Fungsi Lahan di Pasaman Picu Longsor RAWAN LONGSOR – Anggota kepolisian bersama warga membersihkan sisa material longsor yang melanda Kecamatan Duo Koto, Kabupaten Pasaman, awal November lalu. Longsor yang sering melanda Pasaman salah satunya diduga dipicu karena alih fungsi hutan menjadi lokasi perladangan. TRIBRATA

PASAMAN, HARIANHALUAN.COM – Alih fungsi lahan serta sistem perladangan yang berpindah-pindah diduga salah satu pemicu terjadinya bencana tanah longsor di Kabupaten Pasaman, beberapa waktu lalu. Alih fungsi dianggap mempengaruhi daya serap tanah terhadap air.

Kalaksa BPBD Kabupaten Pasaman, Maspet Kenedy menyebutkan, kondisi kontur tanah serta kemiringan topografi menjadi penambah faktor terjadinya pergerakan tanah setelah titik itu diguyur air yang berlebihan di lokasi tersebut. "Alih fungsi lahan dari hutan menjadi area perladangan menjadi pemicu terjadinya bencana longsor," ungkap Maspet saat dihubungi Haluan, Minggu (25/11).

Selain itu, sistem perladangan yang berpindah-pindah oleh sebagian masyarakat di wilayah itu juga menjadi penyebab terjadinya bencana longsor. Padahal, wilayah Pasaman adalah daerah tangkapan air. "Pasaman selama ini adalah merupakan daerah tangkapan air dan fungsi tersebut dari waktu ke waktu sudah semakin berkurang. Ini disebabkan sistem perladangan yang berpindah-pindah dari satu lokasi, pindah ke lokasi yang lain," terang Maspet.

Seperti, peristiwa tanah longsor yang melanda kampung Silalang, Jorong Pembaharuan, Nagari Cubadak, Kecamatan Duokoto, serta banjir di Rao, Rao Selatan, Panti serta Bonjol beberapa waktu lalu. "Jadi, sekali lagi dijelaskan, bahwa peristiwa bencana alam itu yah disebabkan itu tadi. Alih fungsi lahan dan perladangan yang berpindah-pindah," tukasnya.

Perkebunan serai wangi, adalah salah satu contoh peralihan peruntukan lahan dari hutan menjadi kebun (ladang). Hutan dibabat, digunduli untuk dijadikan area perladangan oleh masyarakat. Padahal jenis tanaman itu tidak bisa menahan air. "Serai wangi ini sedang menjadi primadona. Dari pantauan kami, ratusan hektar lahan hutan sudah beralih menjadi ladang serai wangi hingga dikemiringan 50 derajat. Kondisi itu sangat membahayakan dan rawan memicu bencana," ujarnya.

Dikatakan Maspet, sesuai aturan, areal yang boleh diolah menjadi perkebunan dan pertanian adalah hutan produksi dengan tingkat kemiringan mencapai 15 derajat. Namun, oleh masyarakat hal itu tidak diindahkan. "Kenyataan yang kita lihat saat ini adalah kawasan hutan lindung dengan kemiringannya diatas 15 derajat, bahkan sampai 45 derjat dijadikan perkebunan. Kalau ini tetap berlanjut sangat dikhawatirkan bencana banjir dan longsor yang lebih hebat lagi akan melanda daerah kita," katanya.

Alih fungsi lahan, kata Maspet akan mempengaruhi daya fungsi serapan tanah terhadap air. Sehingga akan mempercepat proses longsor. "Itu mempengaruhi daya fungsi tanah. Kalau dibikin ladang akan mempercepat proses terjadinya longsor," ujarnya lagi.

Meskipun peristiwa bencana di wilayah itu tidak menimbulkan korban jiwa, tapi warga patut waspada. Karena bencana susulan bisa terjadi kapanpun. "BPD hanya bisa mengimbau agar warga waspada. Saat ini musim penghujan, kapan saja bisa terjadi longsor susulan," ungkap Maspet. (h/yud)

 



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

BERITA TERKINI Index »

BERITA TERPOPULER Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM