IMIGRAN CINA MASUK DARI BONJOL

Mengisai Hutan demi Emas Manggani


Kamis, 29 November 2018 - 22:50:31 WIB
Mengisai Hutan demi Emas Manggani Tambang Manggani (parintang rintang wordpress)

Untuk sampai ke lokasi bekas tambang Manggani dari Bonjol, para penambang asing tanpa surat-surat itu rela menempuh perjalanan menelusuri hutan lindung. Di Limapuluh Kota sendiri, terdapat dua perusahaan dengan status izin penanaman modal asing yang boleh mempekerjakan warga asing. Setidaknya 40-50 warga asing asal Cina dan India bergantung hidup di sana. Hebatnya, salah satu perusahaan diduga telah membeli tanah milik warga

 

Laporan: Dadang dan Ari

 

Potensi emas di lokasi bekas tambang Manggani agaknya betul-betul menggoda. Kalau tidak mana mungkin puluhan warga negara asing (WNA) asal Cina rela mengisai belukar di sepanjang hutan lindung dari kawasan Bonjol, Kabupaten Pasaman, menuju Jorong Pauah Data, tempat lokasi tambang berada. Gelagat kedatangan mereka ke Manggani sudah lama tercium oleh pemerintah setempat. Sayangnya, para pekerja tambang asing itu lekas kabur sebelum diciduk.

Kepala Bidang Ketenagakerjaan Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kabupaten Limapuluh Kota, Afrizal kepada Haluan menyebutkan, pihaknya telah lama memantau dan bersiap melakukan penindakan, tetapi bocornya informasi rencana penggerebekan diduga menjadi penyebab para penambang asing itu berhasil kabur.

“Sudah lama kami pantau. Dari masyarakat kami tahu mereka masuk ke lokasi sudah sejak sebulan lalu (Oktober). Mereka masuk ke lokasi bekas tambang emas Manggani awalnya bukan dari Koto Tinggi, melainkan dari Bonjol, Kabupaten Pasaman. Informasi yang kami dapat seperti itu,” kata Rizal, Rabu (28/11) kepada Haluan.

Informasi yang ia terima, katanya lagi, sebulan lalu terdapat rombongan warga asing yang masuk ke lokasi bekas tambang emas Manggani di Jorong Pauah Data, Nagari Koto Tinggi. Rombongan itu bahkan jauh lebih banyak dibandingkan jumlah yang sebelumnya disampaikan Kepala Jorong Pauah Data (9 orang).

“Awalnya, jumlah mereka 18 orang. Masuk melalui Bonjol dengan menelusuri hutan lindung di perbatasan Kabupaten Pasaman dan Limapuluh Kota. Ada yang masuk lalu keluar lagi, dan masuk lagi. Begitu terus sampai tersisa sembilan orang itu,” katanya lagi.

Untuk sampai ke lokasi bekas tambang Manggani dari Bonjol, kata Rizal, para penambang asing itu rela menempuh perjalanan yang hampir sama jauhnya dengan jarak ke lokasi tambang jika ditempuh dari Koto Tinggi. Lokasi bekas tambang emas itu memang dekat dengan perbatasan antara Pasaman dan Limapuluh Kota. Di dalam hutan, juga terdapat perkampungan kecil yang biasa disinggahi penambang lokal untuk beristirahat.

Rizal memastikan, belasan warga asing tersebut tidak memiliki surat dan izin apa pun saat memasuki kawasan bekas tambang emas Manggani. “Mereka tidak memiliki surat apa-apa. Kalau ada surat, pasti mereka lapor secara resmi. Kami juga heran, kenapa pekerja asing bisa masuk ke daerah sensitif seperti ke lokasi bekas tambang emas ini secara ilegal,” kata Rizal lagi.

Terkait pabrik pengolahan pinang di kawasan Talang, Kota Payakumbuh yang diduga Wakil Bupati Ferizal Ridwan sebagai tempat imigran Cina menyusun strategi, rupanya sudah disegel oleh jajaran Satreskrim Polres Payakumbuh. Penyegelan dilakukan karena perusahaan tersebut tidak memiliki izin resmi sebagai pabrik pengolahan pinang. Saat itu juga terungkap pabrik tersebut juga mempekerjakan WNA dari Cina.

Haluan mencoba mengunjungi pabrik tersebut, Rabu sore (28/11). Sampai di tujuan, pabrik terlihat ditutup pagar yang dikunci gembok. Suasana begitu sepi tanpa ada seorang pun di sana. Hanya terlihat beberapa drum, jerigen, dan slang besar. Meski demikian, sejumlah data didapat Haluan dari pemilik lahan tempat berdirinya pabrik pengolahan bernama Man (55).

Man yang ditemui di kedai kopi yang tak jauh dari pabrik mengatakan, lahan miliknya memang disewa oleh warga Cina melalui perantara Joni, warga Tanjung Pati Limapuluh Kota. "Disewa selama 5 tahun dengan bayaran Rp70 juta. Uangnya sudah dibayar lunas dengan perjanjian bangunannya nanti jadi milik saya," tuturnya.

Kata Man, sudah lebih kurang dua pekan pabrik tersebut dalam kondisi sepi. Hanya ada tukang masak bernama Linda dari Gando Piobang yang hampir tiap hari datang ke sini. Nama pekerja yang sama disebutkan oleh Wabup Ferizal. Sekitar sebulan yang lalu, pabrik pinang tersebut sempat menjadi tempat penyimpanan peralatan tambang. "Mereka sering kumpul di pabrik ini. Saya lihat mereka membawa mesin dompeng, alat pemecah batu, dan lainnya. Katanya mau menambang emas," ucap Man.

WNA dari Cina tersebut tidak bisa berbahasa Indonesia. Ketika berbincang dengan Man, WNA itu selalu didampingi oleh WNI keturunan yang bisa cakap bahasa. "Nama jubirnya Dodi. Ketika tahu temannya tak lagi berbisnis pinang, ia pulang ke Jawa. Sepertinya Dodi ini tak suka temannya main tambang," tuturnya.

Pengakuan WNA itu kepada Man, mereka akan menambang emas di Solok dan Dharmasraya. "Jadi saya terkejut juga, ternyata mereka ke menambang ke Manggani," ucapnya.

40-50 Pekerja Asing

Di sisi lain, Rizal memperkirakan, setidaknya jumlah pekerja asing yang berada di Kabupaten Limapuluh Kota saat ini mencapai 40-50 orang. Para pekerja tersebut berasal dari India dan Cina, tetapi hanya 29 orang saja yang memiliki surat dan dokumen administrasi lengkap, berupa surat izin atau kartu izin tinggal sementara (kitas) dengan jangka waktu enam bulan dan dikeluarkan oleh Kantor Keimigrasian

Rizal menyebutkan, para pekerja asing tersebut bekerja pada dua perusahaan yang terdapat di daerah itu, yaitu perusahaan tambang timah hitam PT Berkat di Nagari Tanjuang Bolik, Kecamatan Pangkalan, serta perusahaan pengolahan gambir PT Sri di Nagari Pangkalan, Kecamatan Pangkalan Koto Baru. “Di PT Berkat ada 18 pekerja asing asal Cina, dan di PT Sri ada 11 warga asing asal India,” katanya menegaskan.

Sementara itu, di perusahaan pengolahan pinang yang berada di Kecamatan Lareh Sago Halaban, saat ini memang tidak ditemukan warga asing yang bekerja di sana. “Dulu ada satu orang, tetapi dia bukan pekerja. Saat tim Pengawas Orang Asing (Pora) kesana, warga asing itu tidak ditemukan,” ucapnya lagi.

Rizal menyebutkan bahwa, perusahaan pengolahan gambir PT Sri dan perusahaan tambang timah hitam PT Berkat termasuk dua perusahaan dengan status izin penanaman modal asing yang boleh memperkerjakan warga asing, asal tetap harus disertai data izin serta administrasi lengkap.

Perusahaan Asing Beli Tanah

PT Sri di Nagari Pangkalan, katanya lagi, adalah perusahaan yang murni dimiliki oleh warga India. Rizal pun mengaku heran mengapa perusahaan asing tersebut bisa menguasai lahan berupa tanah. “Izinnya ada di provinsi dan kementerian. Tanah masyarakat malah sudah dibeli oleh perusahaan. Ini kami tidak mengerti mengapa bisa,” ucapnya lagi.

Sementara itu untuk PT Berkat, Rizal menyebutkan perusahaan tersebut berdiri atas kerja sama campuran pemodal asing dengan pemodal lokal. “Hasil tambangnya berupa timah hitam dibawa perusahaan arah ke Riau. Kami bersama tim Pora sudah mendatangi lokasi itu untuk mengecek pekerja asing di sana. Dari 30 pekerja di sana, 18 di antaranya pekerja asing,” tuturnya lagi.

Untuk sampai ke lokasi tambang timah hitam itu, sebut Rizal, tidaklah semudah yang dibayangkan. Sebab, ia harus menempuh perjalanan selama tiga jam, yang dimulai dengan medan penuh kerikil di perkampungan masyarakat kawasan Rimbo Data, dekat jalan negara Sumbar-Riau. Dari lokasi itu dibutuhkan waktu satu setengah jam untuk sampai di ujung jalan yang berbatasan dengan sungai.

“Di ujung jalan ini biasanya ada enam truk besar yang mengangkut hasil tambang timah hitam ke arah Riau. Namun, perjalanan tetap harus dilanjutkan menggunakan perahu kayu dan menelusuri aliran sungai selama setengah jam. Nama sungainya saya lupa. Sungainya tidak terlalu lebar, seperti Batang Agam," terangnya lagi.

Setelah menaiki perahu, ia dan rombongan kemudian berjalan kaki menelusuri hutan dan perbukitan selama satu jam. Untuk mengeluarkan hasil tambang dari lokasi itu, pihak perusahaan menggunakan perahu besi seperti tongkang yang kemudian dilansir ke atas truk dan dibawa ke arah Riau.

Dua Pintu Masuk

Rizal mengaku pihaknya telah memetakan pintu masuk bagi para pekerja asing untuk sampai ke Kabupaten Limapuluh Kota. Pertama, melalui Bandara Internasional Minangkabau (BIM), sebagaimana dilalui oleh para pekerja asal Cina, dan melalui Pekanbaru bagi pekerja asal India.

Dari BIM, pekerja asal Cina berangkat ke Bonjol, Kabupaten Pasaman, dan sebagian juga ada yang melewati jalan lintas Padang-Payakumbuh sebelum sampai ke Koto Tinggi. Hal itu turut dilakukan oleh penambang asing asal Cina yang datang kali terakhir ke lokasi bekas tambang emas Manggani. Sedangkan para pekerja India, lebih memilih masuk melalui Singapura dan Batam. Melewati Pekanbaru, dan berlanjut ke Pangkalan. Sebagian juga melewati Dumai sebelum melanjutkan perjalanan darat ke Limapuluh Kota. (h/ddg/ari)

 

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]