Film Surau dan Silek Lengkap Jajaki Layar di 5 Benua


Senin, 03 Desember 2018 - 08:37:59 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Film Surau dan Silek Lengkap Jajaki Layar di 5 Benua Arief Malinmudo berbicara di ajang Indonesia Movie Week di Cinematheque Algerienne, Aljazair. Kebanggaan anak Minang. IST
 
PADANG, HARIANHALUAN.COM-Film Surau dan Silek sejak rilis pada 27 April 2017 hingga tahun 2018 ini masih ramai dibicirakan sebagai salah satu film anak dan keluarga yang ramah dalam menyajikan keberagaman budaya dan identitas kebangsaan Indonesia dalam sebuah karya film.
 
Film yang terlahir dari rahim budaya Minangkabau ini membuktikan bahwa nilai anak – anak sangatlah universal. Pesan sederhana tentang bagaimana hakikat beladiri membentuk kepribadian anak – anak ini kemudian meluas menjadi sebuah tontonan yang dinanti setiap penayangannya khususnya.  Karya sutradara Arief Malinmudo ini telah singgah di 5 Benua.
 
Membaca budaya sebuah Negara bisa dilakukan lewat film, begitu juga untuk mengenali Indonesia yang kaya akan berbagai budaya, bahasa, dan kearifan lokal bisa juga lewat film. Surau dan Silek sudah melintasi ruang budaya bahkan agama untuk menjadi sebuah tontonan yang dapat dilihat secara objektif.
 
 Di Australia, film ini berkemsempatan tayang di Melbourne, Sydney, Perth, Brisbane, Adelaide, Canberra. Selama masa tayang pada bulan Juli dan Agustus film ini ditonton masyarakat umum serta juga oleh siswa dan mahasiswa beberapa sekolah dan universitas di Perth dan Melbourne Australia seperti Duncraig SHS, Helena College, Corpus Christi College, Maranatha Christian School, St Bedes College.
 
Saat penayangan Film ini di Amerika Serikat, banyak muncul respon langsung yang diungkapkan para penonton kepada sang produser Dendi Reynando, mereka yang menganggap film ini penting sebagai pengenalan literasi budaya Indonesia khususnya bagi keturunan Indonesia yang sudah punya anak dan cucu yang lahir di Negri Paman Sam tersebut untuk mengenali akar budaya dan tanah leluhur mereka di Indonesia. Penayangan di Amerika berbasis komunitas ini juga terselenggara di Washington, Houston, Los Angles dan New York di Bulan Agustus 2017. Saat di New York, Imam besar Islamic Centre of New York,  Shamsi Ali memberikan sambutan bahwa nilai-nilai Islam di dalam film Surau dan Silek dihadirkan sangat komprehensif, meliputi kekuatan jasad, rohani, dan kekuatan berfikir yang terangkum dengan baik”.
 
Di dataran Eropa, film karya Mahakarya Pictures ini berkesempatan tayang di Festival de Cinema d’Indonesia di kota Florence, Italia pada bulan September 2017, berdekatan dengan penayangan khusus di Malaysia dan Hongkong di bulan yang sama. Menjadi pengamalaman baru bagi produser dan sutradara untuk dapat langsung bertemu dan berdiskusi dengan penonton.
 
Salah seorang penonton bernama Pietro bahkan mengungkapkan bahwa ia sangat terkesan dengan Film ini karena cerita dan keindahan alam yang membuka wawasan barunya terhadap Indonesia yang selama ini ia kenal hanyalah Bali. Hal ini cukup unik karena saat menjelang penayangannya di Indonesia sempat diragukan oleh beberapa pihak karena terlalu banyak bahasa daerah dan lokalitas daerah yang mungkin tidak bisa diterima secara nasional, namun ruang, waktu dan geografis lintas benua cukup menjawab pertanyaan dan prakiraan tersebut.
 
Film Surau dan Silek tayang di Benua Afrika November 2018. Di sini i film Surau dan Silek menjadi salah satu film yang dipilih oleh Pusat Pengembangan Film ( Pusbang Film) Kementerian Pendidikan dan Kebudyaan yang bekerjasama dengan Kedutaan Besar Indonesia untuk Aljazair ditayangakan kepada masyarakat Aljazair dalam program Indonesia Movie Week yang diselenggarakan 21 – 25 November 2018 di Cinematheque Algerienne, Aljazair.
 
Film Surau dan Silek menjadi film pembuka pada gelaran kegiatan tersebut. Pada malam itu hadir Duta Besar RI, Safira Mucrasah, Menteri Perdagadangan RI Enggartiasto Lukita, Tuan Saadene Ayadi, Direktur Kerjasama, Kementerian kebudayaan Aljazair, Dubes Bukina Faso, Vietnam, India, Rusia, Kenya untu Aljazair serta tentunya masyarakat Aljazair bertempat di Cinema Salle Ibn Zayduun, Riadh El Feth. Ratusan penonton menyaksisan kearifan lokal budaya Indonesia yang direpresentasikan oleh bingkai Minangkabau oleh Arief Malinmudo.
 
Sebelum pemutaran film, Arief Malinmudo didaulat keatas panggung untuk memberikan pandangan mengenai bingkai budaya Indonesia dalam film karyanya tersebut. Selain itu, mengejutkan bagi Arief Malinmudo, ketika diantara ratusan penonton ada anak – anak dari salah satu perguruan Silat di Aljazair datang menonton filmnya pada acara pembukaan tersebut. “ Saya sangat terkejut karena beberapa diantara mereka masih memakai seragam beladiri, dan kebetulan sekali seragam yang mereka kenakan itu ada dan sama persis dalam  satu adegan di dalam Film Surau dan Silek” .
 
Setelah itu, tanggal 24 diadakan sesi kedua penayangan film Surau dan Silek di pusat kota Cinematheque Algerienne. Sesi tanya jawab antara penonton dengan Sutadara cukup hangat, karena beberapa pertanyaan perihal budaya dan metode beladiri silat yang berbeda dengan apa yang dipelajari di Aljazair dapat diuraikan dengan baik oleh Arief yang memperkaya pengetahuan para penonton yang hadir tentang budaya dan filosofi Silat di Indonesia, khususnya yang lahir dari Minangkabau.
 
Arief menjelaskan hakikat falsafah “ secara lahiriah, tujuan belajar silat mencari kawan dan menjalin silaturahmi, secara bathin tujuan belajar silat adalah mendekatkan diri pada sang Pencipta”. Namun selain itu, tak sedikit juga Arief menerima kritik yang berimbang dari penonton yang hadir yang menyampaikan perspektifnya terhadap film karya Mahakarya Pictures ini.
 
Seusai pemutaran dan diskusi, Duta Besar Indonesia, Safira Muchrasah menyempatkan diri berfoto bersama dan memberikan merchandise kepada penonton yang hadir bersama perwakilan Pubang Film Ibu Prima Duria, Nina Nurfalah dan Abu Chanifah.
"Film pada dasarnya adalah ekspresi personal yang dibantu mewujudkannya oleh banyak pikiran, ahli, keringat dari banyak orang yang terlibat dalam produksi sebuah film, jadi sutradara tidak bekerja sendiri. Saya tidak pernah tau film ini akan berlabuh dimana lagi, namun dimanapun itu ,semoga saya bisa mendapatkan energi dari setiap yang menonton dan mendapatkan ilmu yang baru baik dari perspektif maupun kritikan terhadap karya sederhana ini," ungkap Arief Malinmudo. (h/dn)



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Jumat, 05 Oktober 2018 - 14:29:16 WIB

    Tayang Perdana, Penonton Film Liam dan Laila Membludak 

    Tayang Perdana, Penonton Film Liam dan Laila Membludak  PADANG, HARIANHALUAN.COM-Film Liam dan Laila  resmi mulai  tayang di seluruh Bioskop dari kotan Medan hingga Jayapura. Di kota Padang, ribuan penonton  membuldak dalam antrian  panjang  untuk menyaksikan film berlatar bu.
  • Rabu, 26 September 2018 - 14:16:43 WIB

    UNP Gelar Diskusi Film Liam dan Laila Bersama Sutradara Arief Malinmudo

    UNP Gelar Diskusi Film Liam dan Laila Bersama Sutradara Arief Malinmudo PADANG, HARIANHALUAN.COM-Secara seretak, film Liam dan Laila besutan sutradara Minang, Arief Malunmudo, mulai tayang 4 Oktber 2018.  Film layar lebar ini mengisyaratkan beratnya  perjuangan, sekaligus optimisme perempuan Mi.
  • Kamis, 08 Maret 2018 - 14:57:18 WIB

    Film Rocker Balik Kampung, Angkat Tradisi Budaya Jabar

    Film Rocker Balik Kampung, Angkat Tradisi Budaya Jabar BANDUNG, HARIANHALUAN.COM--  Setelah sukses dengan film perdananya “Guru Bangsa Tjokroaminoto” di tahun 2015 lalu, dan telah meraih 18 penghargaan termasuk Film Terbaik 2015. .
  • Senin, 04 Desember 2017 - 21:34:25 WIB
    DISKUSI AFE DENGAN RIRI RIZA DAN ARIEF MALIMUDO

    Potensi Film Lokal Mampu Bangun Film Nasional

    Potensi Film Lokal Mampu Bangun Film Nasional PADANG, HARIANHALUAN.COM—Pada pengujung perhelatan akbar Andalas Film Exhibition (AFE), diselenggarakan diskusi khusus dengan  tajuk “Film Regional dalam Membangun Nasional”. Narasumber diskusi tersebut adalah sutrad.
  • Senin, 09 Oktober 2017 - 23:38:29 WIB

    Defwita Zumara, Gadis Minang yang Belajar Otodidak di Dunia Perfilman

    Defwita Zumara, Gadis Minang yang Belajar Otodidak di Dunia Perfilman PADANG, HARIANHALUAN.COM -- Defwita Zumara, dara cantik kelahiran 1990 seorang artis pendatang baru di jagad perfileman Indonesia ternyata berasal dari Sumatra Barat (Sumbar). Gadis cantik yang biasa dipanggil Wita ini dulu.

BERITA TERKINI Index »

BERITA TERPOPULER Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM