Sepekan, Ratusan Batang Kayu Illegal Diamankan, Hutan Pessel Rusak


Senin, 17 Desember 2018 - 12:09:53 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Sepekan, Ratusan Batang Kayu Illegal Diamankan, Hutan Pessel Rusak KAYU ILLEGAL : Bupati Pessel, Hendrajoni, bersama pihak TNKS, jajaran Polsek Lengayang, Satpol PP dan Damkar, Tagana, saat mengamankan kayu puluhan batang kayu yang diduga illegal. Bahkan dalam sepekan terakhir sudah ada ratusan batang yang diamankan pemerintah setempat. OKIS

 

PAINAN, HARIANHALUAN.COM – Dalam satu pekan terakhir Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebarakan (Satpol PP dan Damkar) Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) berhasil mengamankan ratusan batang kayu yang diduga illegal di beberapa lokasi di daerah itu.

Kepala Satpol PP dan Damkar, Kabupeten Pessel, Dailipal, mengatakan, pihaknya berhasil mengamankan ratusan batang kayu yang diduga illegal ini di Kecamatan Lunang Silaut dan Kecamatan Lengayang. Dimulai dengan temuan sebanyak 56 batang kayu jenis Meranti (Timbalun) di perairan sungai Kampung Ganting Kubang, Nagari Kambang Utara, Kecamatan Lengayang,  Rabu (12/12).

Dilanjutkan dengan temuan 33 batang yang diangkut truk di Kampung Ganting Kubang, Nagari Kambang Utara, Kecamatan Lengayang dan sebanyak 25 kubik batang kayu balok jenis Timbalun sepanjang 4 meter, yang diamankan pada Sabtu (12/12.

“Penemuan kayu ini berdasarkan informasi masyarakat yang resah akibat maraknya aktivitas ilegal logging di daerah itu. Dan kita seusai dengan arahan pimpinan akan menertibkan aktivitas pembalakan liar yang memicu terjadinya banjir,” katanya kepada media kemarin di Pessel.

Ia menjelaskan, kayu temuan tersebut langsung diamankan dan dibawa pihaknya ke kantor Bupati Painan, dan akan dijadikan sebagai barang bukti.  "Nanti untuk proses hukumnya tetap kepada pihak kepolisian," katanya.

Lanjutnya, kayu balok gelondongan sekitar 25 kubik lebih itu, milik KSU Wahana Lestari dengan penanggung jawab Karya Sumarna, warga Nagari Pondok Perian, Kecamatan Lunang.

Sementara itu, Bupati Pessel, Hendrajoni, meminta Dinas Kehutanan Provinsi Sumbar, agar mengevaluasi kembali izin usaha kayu (somel) yang ada di Pesisir Selatan. Sebab, kayu temuan sebanyak 56 batang balok jenis Timbalun, di hulu sungai Kecamatan Lengayang, diduga akibat pembiaran.

"Saya meminta kepada Dinas Kehutanan Sumbar, jangan sembarangan mengeluarkan izin somel. Jika perlu, cabut saja semua izinnya," ujarnya, saat meninjau lokasi penemuan kayu tak bertuan di Nagari Kambang Utara, Kecamatan Lengayang beberapa waktu lalu.

Ia menegaskan, tidak ada kompromi terhadap oknum yang membekingi kegiatan ilegal loggingg, termasuk pengusaha pengusaha kayu yang melanggar aturan. Sebab, kegiatan itu sudah jelas melanggar aturan dan merugikan masyarakat banyak. "Kami pemerintah daerah sudah berkomitmen kuat untuk memberantas ilegal logging. Tidak ada lagi pembiaran. Siapa saja pelakunya harus ditindak tegas," ucapnya.

Bupati berharap, agar izin pengusaha kayu yang ada di daerah itu, di cek kembali oleh Dinas Kehutanan Provinsi Sumbar. Sebab, hal itu sama saja membuka peluang kepada mereka untuk membeli kayu ilegal. "Persoalan ini nanti akan saya laporkan ke Dirjen Kehutanan di Jakarta. Sebab, temuan kayu ilegal ini diduga kuat akibat praktek illegal logging. Mereka tidak satupun yang mengaku sebagai pemiliknya," katanya.

21 Ribu Hektare Hutan TNKS Rusak di Pessel

Terpisah, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Kerinci Seblat, Wilayah III Kabupaten Pesisir Selatan, Sumbar, mencatat seluas 21 ribu hektare hutan TNKS di Pesisir Selatan sudah mengalami degradasi.

Sahyudin, selaku Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Kerinci Seblat Wilayah III, mengatakan, persoalan perusakan hutan TNKS di Pesisir Selatan harus menjadi perhatian semua pihak. Sebab, degradasi lahan terjadi, akibat proses di mana kondisi lingkungan biofisik berubah akibat aktivitas manusia terhadap suatu lahan.

"Perubahan kondisi lingkungan tersebut cenderung merusak dan tidak diinginkan. Selain karena tingginya tuntutan ekonomi masyarakat, juga dipicu kepentingan pribadi para pemodal," ucapnya kepada wartawan di lokasi penemuan kayu tak bertuan di Nagari Kambang Utara, Kecamatan Lengayang.

Ia menjelaskan, dari luas 260 ribu hektare hutan TNKS yang ada di Pessel, 21 ribu hektare sudah dinyatakan terdegredasi. "21 ribu hektare itu, merupakan data estimasi yang terpantau melalui citra satelit kami," katanya.

Lebih lanjut kata dia, terjadinya degradasi atau kerusakan hutan TNKS di daerah itu, yang terparah terdapat di Kecamatan Lengayang. Sebab, selain banyak perambahan hutan untuk pembukaan lahan baru, juga dipicu akibat maraknya praktik pembalakan liar. "Benar, perambahan hutan yang paling banyak terdapat di Lengayang, Sutera, Batangkapas. Kalau ilegal logging di Kecamatan Tapan, Lunang dan Silaut," tuturnya. (h/mg-kis)

 

 

 



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

BERITA TERPOPULER Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM