Setelah 1403 Masehi, Sumpah Sati Bukik Marapalam Kembali Dikukuhkan


Senin, 17 Desember 2018 - 12:26:09 WIB
Setelah 1403 Masehi, Sumpah Sati Bukik Marapalam Kembali Dikukuhkan PENANDATANGANAN :  Ketua MUI Sumbar, Gusrizal Gazahar, mewakili unsur alim ulama melakukan penandatanganan pada pengukuhkan kembali Sumpah Sati Bukit Marapalam di Puncak Pato, Lintau Buo Utara Sabtu (15/12). FERI MAULANA

TANAH DATAR, HARIANHALUAN.COM -- Sumpah Sati Bukik Marapalam yang melahirkan filosofi adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah (ABS-SBK) sebagai identitas masyarakat Minangkabau dikukuhkan kembali di Puncak Pato, Nagari Batu Bulek, Kecamatan Lintau Utara, Kabupaten Tanah Datar, Sabtu (15/12).

Unsur tigo tungku sajarangan yang terdiri dari ninik mamak, alim ulama, dan cadiak pandai, serta bundo kanduang di depan unsur masyarakat Minangkabau yang hadir, sepakat untuk menjaga amanah Sumpah Sati Bukik Marapalam ini. Isi Sumpah Sati Bukik Marapalam dibacakan Amir Syarifudin Dt Mangkudum Sati. Dimana isi sumpah itu adalah “Tagak kami indak bakisa, duduak indak baraliah, kok hiduik kadipakai, mati kaditumpang, kami pacik arek ganggam taguah, nan tabuhua takabek arek dalam pituah ABS-SBK, adaik bapaneh, syarak balinduang, syarak mangato adaik mamakai”.

Usai pembacaan sumpah, dilakukan penandatanganan yang dilakukan unsur ninik mamak yang diwakili Yunizal Yunus dari Badan Koordinasi (Bakor) KAN Sumbar, unsur alim ulama diwakili Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumbar, Buya Gusrizal Gazahar, unsur cadiak pandai diwakili Akademisi Mestika Zed, unsur bundo kanduang diwakili Prof Rauda Thaib.

Ketua MUI Sumbar, Buya Gusrizal Gazahar, mengatakan, walaupun pakar sejarah belum sepakat tentang kapan terjadinya peristiwa itu, namun nilai-nilai yang terkandung di dalam Sumpah Sati Bukik Marapalam telah menjadi baiat bersama masyarakat Minangkabau dalam mengimplementasikan tuntunan syariat dan menjalankannya kehidupan sehari-hari.

"Perlu diulang-ulang komitmen yang sudah disepakati bersama. Mengambil petunjuk dakwah dari para nabi yang membawa ajaran tauhid dari semenjak nabi Adam sampai Muhammad SAW, ternyata mengukuhkan nilai-nilai kebaikan yang menjadi prinsip hidup merupakan keharusan,” kata Gusrizal Gazahar mengutip Alquran Surat Annisa 163 dan hadis Rasulullah SAW.

Pengkuhan kembali Sumpah Sati Bukik Marapalam ini, katanya, juga menyikapi perkembangan terakhir masyarakat Sumbar yang saat ini sudah banyak terjebak dengan kemaksiatan seperti perzinaan, perbuatan kaum sodom (LGBT), narkoba, perjudian, dan lainnya, yang semakin menjadi-jadi. Untuk itu dengan sumpah ini dilakukan evaluasi terhadap kondisi dan mencari solusi ke depan.

“Muhasabah ini diharapkan bisa menjadi titik tolak lahirnya langkah-langkah ke depan untuk Ranah Minang yang ideal dalam cerminan ABS-SBK, Adat Mangato Syara Mamakai yang selama ini diagung-agungkan,” kata Gusrizal.

Sementara itu, Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno, mengaku menyambut baik agenda ini dan mendukung kegiatan penguatan kembali nilai-nilai ABS-SBK ini. “Tiap hari kita boleh berbaiat untuk menguatkan semangat, karena pengaruh buruk terus masuk, jadi perlu pemerintah, ulama, dan unsur lain perlu bahu membahu,” ujarnya.

Dikatakannya, masyarakat Minangkabau patut bersyukur karena memiliki bingkai hidup ABS-SBK, sementara ada daerah lain, pemerintah daerahnya kesulitan mengatur masyarakatnya ketika adat, budaya, atau seni berbenturan dengan ajaran agama Islam.

Bupati Tanah Datar, Irdinansyah Tarmizi, mengungkapkan, Sumpah Sati Bukik Marapalam diawali dari diskusi sederhana dengan Buya Gusrizal tentang ABS-SBK. Dari hasil diskusi itu munculah ide untuk menjabarkan kembali nilai-nilai ABS-SBK dan memastikan Sumpah Sati Bukik Marapalam itu benar-benar ada.

Dikhawatirkan kalau ini terus dibiarkan generasi muda nanti tidak paham tentang ABS-SBK, sejarah tempatnya di mana sumpah sati ini dicetuskan, karena ada yang mengatakan tidak di sana (Pato, red), kemudian tahun berapa terjadinya dan sebagainya. “Sehingga kami sepakat untuk mengkuhkan kembali hal ini,” katanya.

Menanggapi tentang Sumpah Sati Bukik Marapalam Sejarahwan UNP, Prof Mestika Zed, angkat bicara. Dikatakannya, secara metodologi ilmu sejarah konvensial memang belum ditemukan dokumen yang menyatakan peristiwa ini benar-benar terjadi.  

"Walaupun belum ada dokumen pasti, tapi saya menyakini peristiwa ini benar-benar ada karena ada metodologi sejarah alternatif yang menyebutkan bukan sejarah sebagai teks tetapi sejarah sebagai fakta sosial. Telah terbukti ada sintesis adat dan Islam dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, tumbuh, berkembang, dipakai dan mengakar sebagai identitas masyarakat Minagkabau," ujarnya sembari menyebutkan akan terus menggali sejarah ini,” katanya.

Sementara Asbi Dt Rajo Mangkuto menceritakan memiliki buku yang bertuliskan Arab Melayu tentang sejarah Bukik Sati Marapalam yang diperoleh saat menjadi Wali Nagari Baso tahun 1958. Peristiwa Sumpah Sati Bukik Marapalam, katanya, terjadi tahun 1403 M yang merupakan bentuk peralihan kerajaan Minangkabau menjadi Kesultanan Minangkabau. Sumpah Sati ini juga menginformasikan agar masyarakat Minangkabau harus waspada tentang perang Salib.

Asbi juga mengatakan, isi Sumpah Sati Bukik Marapalam terdiri dari 15 pasal, 90 ayat. Pada pasal 15 menyebutkan, ada kewajiban untuk menyampaikan isi baiat ini ke seluruh masyarakat Minangkabau.

Sumpah Sati Buki Marapalam ini sendiri merupakan acara puncak rangkaian milad ke-50 MUI Sumbar. Dimana sebelumnya digelar seminar yang mengangkat tema “Menguatkan Kembali Sumpah Sati Bukik Marapalam sebagai Prinsip Hidup Orang Minangkabau” dengan pemateri Ketua MUI Sumbar, Gusrizal Gazahar Dt Palimo Basa, Ketua Bundo Kanduang Sumbar, Prof Raudha Thaib, Sejarawan UNP, Prof Mestika Zed, Dr Yulizar Yunus, dan Asbir Dt Rajo Mangkuto, di Hotel Emersia Batusangkar.  (h/fma)

 

 

 

 



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com
BERITA TERKAIT

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Kamis, 01 November 2018 - 12:45:23 WIB

    Setelah Pengadilan Negeri,  Pengadilan Agama  Juga Hadir di Dharmasraya

    Setelah Pengadilan Negeri,  Pengadilan Agama  Juga Hadir di Dharmasraya DHARMASRAYA, HARIANHALUAN.COM- Sehari setelah beroperasinya Pengadilan Negeri Pulau Punjung Kelas II, kini pengadilan Agama Pulau Punjung secara resmi beroperasi di Dharmasraya..
  • Jumat, 22 Juni 2018 - 10:13:27 WIB

    Setelah Libur Panjang, 22 ASN Pemprov Bolos Kerja

    Setelah Libur Panjang, 22 ASN Pemprov Bolos Kerja PADANG, HARIANHALUAN.COM -- Dari 4.396 orang Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, terdata 22 orang ASN tidak hadir tanpa memberi keterangan pada hari pertama kerja pascalibur lebaran..
  • Rabu, 20 Desember 2017 - 11:56:25 WIB
    DIRESMIKAN GUBERNUR SUMBAR

    Setelah 26 Tahun, Askrida Kini Punya Gedung Sendiri

    Setelah 26 Tahun, Askrida Kini Punya Gedung Sendiri PADANG, HARIANHALUAN.COM--PT Asuransi Bangun Askrida, mencatatkan sejarahnya di Padang. Pada Rabu (20/12) mereka meresmikan pemakaian gedung baru Kantor Cabang Padang yang berlokasi di Jl. Pemuda No.37 Padang. .
  • Jumat, 17 November 2017 - 09:54:45 WIB

    Setelah Hawai, Pejabat Sumbar ke Belanda

    Setelah Hawai, Pejabat Sumbar ke Belanda PADANG, HARIANHALUAN.COM – Berbagai kritikan terkait keberangkatan ke luar negeri tak membuat para pejabat Pemprov Sumbar beserta Gubernur Irwan Prayitno dan DPRD Sumbar membatalkan rencana kunjungan ke luar negeri. Setelah.
  • Sabtu, 27 Agustus 2016 - 11:15:34 WIB

    Setelah Kapolri, Wapres Juga ke Sumbar, Ini Rangkaian Kegiatannya

    Setelah Kapolri, Wapres Juga ke Sumbar, Ini Rangkaian Kegiatannya PADANG, HALUAN – Setelah kedatangan Kapolri, Sumbar akan didatangi Wakil Presiden Jusuf Kalla. Orang nomor dua di republik ini dijadwalkan akan melakukan serangkaian kegiatan, selain menerima gelar Doktor Kehormatan dari Un.
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM