Irigasi Batang Bawan Rusak Sejak 2015, Ribuan Haktare Lahan Mati


Jumat, 21 Desember 2018 - 11:04:27 WIB
Irigasi Batang Bawan Rusak Sejak 2015, Ribuan Haktare Lahan Mati Ilustrasi (haluan)

PADANG, HARIANHALUAN.COM – Kerusakan Irigasi Batang Bawan telah berlangsung sejak 2015 lalu. Dampak yang diderita oleh masyarakat, terutama petani, tak tanggung-tanggung. 1.223 hektare (ha) lahan pertanian mati total, setidaknya sepuluh hektera kolam ikan tak lagi berfungsi untuk berternak, pengairan MCK masjid dan musala terganggu, dan demam berdarah terus mengintai warga. Pemkab Agam diminta bangun dari “tidur panjang” pembiaran.

Irigasi Batang Bawan berada di Nagari Bawan, Kecamatan Ampek Nagari, Kabupaten Agam. Sejak runtuh karena banjir bandang pada 2015 lalu, warga setempat kehilangan fungsi irigasi untuk mengairi persawahan, sehingga lambat laut warga beralih pada aktivitas menanam jagung demi meneruskan hidup. Meski kenyataannya, hasil yang dicapai jauh dari harapan.

Baca Juga : Terjun ke Jurang Kelok Sembilan, Satu Unit Dump Truck Meledak dan Terbakar

Wali Nagari Bawan, Kamiruddin mengatakan, hingga saat ini belum ada tanda-tanda upaya perbaikan dari pemerintah terhadap Irigasi Batang Bawah. Padahal di satu sisi, warga sebelumnya teramat bergantung pada keberadaan irigasi tersebut. Bahkan, surat yang telah dilayangkan warga ke berbagai tingkatan dalam struktur pemerintahan, hingga kini masih sia-sia belaka.

"Bendungan itu runtuh karena banjir bandang awal Januari 2015. Sampai saat ini belum diperbaiki. Kami sudah ajukan surat mulai ke camat, bahkan sampai ke pemerintah provinsi," kata Kamiruddin, Rabu (19/12).

Baca Juga : Astaga! King Kobra Lepas dari Paket Pengiriman, Nyaris Bunuh Kurir

Kamiruddin merincikan, dari 1.223 hektare lahan pertanian yang mati total karena tak lagi memperoleh air tersebut, 915 hektare di antaranya memiliki peran amat vital bagi masyarakat. Selain itu, banyak dampak buruk lain yang dirasakan warga setempat dan merugikan kehidupan, terutama sisi perekonomian warga yang tetap harus bertahan dalam keterbatasan.

“Sepuluh hektare kolam tak bisa dimanfaatkan lagi untuk untuk beternak ikan. Ada satu masjid dan enam musala yang kesulitan air untuk mandi cuci kakus (MCK). Selain itu, Puskesmas setempat juga mendata ada 19 warga yang terkena demam berdarah (DBD) yang terindikasi juga disebabkan irigasi yang tak lagi mengalir," katanya lagi.

Baca Juga : Potongan Kepala Korban Sriwijaya Air Ditemukan di Pantai Kis Tangerang

Dengan kondisi memprihatinkan itu, kata Kamiruddin lagi, sebagian warga memutar haluan dari sawah menuju perladangan dan mulai menanam jagung. Namun, hasil usaha itu tak pernah maksimal.

"Irigasi itu sangat kami butuhkan. Apalagi untuk mengairi sawah. Kami berharap ada tindakan dari pemerintah untuk perbaikan irigasi itu," ucapnya lagi.

Baca Juga : Parah! Kalah Main Mobile Legends, Eks Timnas U-19 Ini Pukul Pacarnya

Di sisi lain, Camat Ampek Nagari, Roza Syafdeianti ikut menyampaikan, pihaknya telah melewati rangkaian tahap untuk mengajukan bantuan perbaikan Irigasi Batang Bawan. Upaya itu telah ia lakukan sejak dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Agam hingga Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumbar.

"Surat pengajuan itu sudah kami berikan. Kami, terutama warga setempat, berharap irigasi itu segera diperbaiki irigasi. Namun saya juga meminta agar masyarakat agar jangan saling menyalahkan karena kecamatan dan kabupaten juga sudah berupaya," ucapnya.

Melihat kondisi irigasi rusak itu ke lapangan pada pekan lalu, Wakil Ketua DPRD Sumbar, Guspardi Gaus mendesaka agar Pemprov Sumbar segera mencari jalan keluar untuk memperbaiki Irigasi Batang Bawah tersebut.

"Itu memang musibah. Akibat bendungan runtuh itu sawah jadi tidak bisa diairi. Di sisi lain, dana perbaikan memang tak bisa lagi dianggarkan pada APBD Provinsi 2019, karena sudah disahkan 30 November lalu. Untuk itu, kami meminta dinas terkait menyampaikan hal ini ke pemerintah pusat, karena kalau ada dana dari pusat itu penanganannya dapat lebih bagus,” sebut Guspardi.

Di sisi lain, Wakil Ketua DPRD Agam, Lazuardi Erman, mengatakan ia telah meninjau kondisi Irigasi Batang Bawan yang rusak tersebut. Ia juga telah meminta wali nagari setempat untuk membuat proposal dan dikirim ke Dinas PU Agam dan PSDA Provinsi Sumbar. "Irigasi Batang Bawan sudah kami tinjau. Perbaikannya akan kami kawal terus karena ini terkait dengan kebutuhan dasar masyarakat," sebutnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Provinsi Sumbar, Rifda Suriani mengatakan, Irigasi Batang Bawan merupakan kewenangan Kabupaten Agam, sehingga pihaknya tidak bisa asal mengambil tindakan, termasuk untuk melakukan pemulihan.

"Kewenangan kabupaten itu, kami enggak bisa masuk. Pengerjaan irigasi aturannya ketat sekali. Karena bukan kewenangan PSDA Sumbar, ya, kami tidak bisa melakukan upaya apa pun," ucapnya. (h/len/yat)

 

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]