Di Padang Ada 500 Ribu Orang Tinggal di Zona Merah


Rabu, 26 Desember 2018 - 17:37:52 WIB
Di Padang Ada 500 Ribu Orang Tinggal di Zona Merah Ilustrasi (net)

 

PADANG HARIANHALUAN.COM - Pakar Gempa Indonesia yang juga pengajar di Universitas Andalas (Unand), Badrul Mustafa Kemal, menduga ada kelalaian pengamatan terhadap pergerakan Gunung Anak Krakatau sehingga tsunami datang secara tiba-tiba tanpa kesiapsiagaan sebelumnya di wilayah pesisir pantai Provinsi Banten dan Lampung.

"Secara ilmiah, tsunami di Selat Sunda terjadi akibat fenomena alam ganda, yaitu gelombang pasang saat bulan purnama dan aktivitas vulkanologi Gunung Anak Krakatau. Namun, yang membuat banyak orang heran, termasuk saya, jika adanya longsoran akibat erupsi Anak Krakatau di laut, tentu status gunung ditingkatkan. Status gunung api aktif itu ada empat level: Normal, Siaga, Waspada, dan Awas. Harusnya ada peningkatan status dan terjadi kehebohan karena itu,” kata Badrul kepada Haluan, Selasa (25/12).

Badrul menduga, petugas di pos pengamanan tengah abai atau sedang tidak berada di tempat jelang pergerakan gunung dan tsunami terjadi. Sebab dikabarkan, sebelum tsunami terjadi, didahului oleh gempa berkekuatan 5.1 SR yang tidak tercatat. Pos yang berada di tempat sepi dan jauh dari keramaian juga memungkinkan terjadinya kejadian petugas abai dalam pengamatan tersebut.

"Seperti di Sumbar, misalnya, yang masih aktif ada Gunung Talang, Gunung Merapi, dan Gunung Tandikek. Petugas yang ada di situ bisa melihat pemandangan yang hijau dan sebagainya tidak hanya di laut saja. Bisa dari mana pun terpantau," kata Badrul lagi.

Namun demikian, sambungnya, meski pun Gunung Anak Krakatau berada di tengah laut yang membuatnya berbeda dengan gunung api aktif lain di Indonesia, kewaspadaan tetap tidak boleh dihilangkan meski pun hanya beberapa kejap.

"Indonesia ini setidaknya memiliki 140-an gunung api aktif. Kita tak sepatutnya alfa dalam pemantauan. Ada alat pendeteksi gempa yang mencatat setiap gempa yang terjadi, bahkan saat kekuatannya hanya di bawah 2.0 skala richter. Selain itu, juga ada petugas di setiap pos penjagaan yang harusnya selalu memantau aktivitas gunung," sebutnya lagi.

Gunung api di Sumbar sendiri, sambung Badrul, memang memiliki perbedaan mencolok dengan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.

"Anak Krakatau letaknya di tengah laut. Termasuk salah satu dari lima gunung api aktif di dunia. Sedangkan gunung di Sumbar, posisinya di daratan. Kemungkinan terburuk letusan gunung akan menyebabkan tsunami itu di Wilayah Siberut Mentawai, baik di busur depan (forc-arc) dan busur belakang (back-arc)," katanya lagi.

Meskipun kemungkinan tsunami itu tetap ada, Badrul memprediksi tsunami yang terjadi tidak akan terlalu besar.

"Melihat kondisinya, di Siberut Timur itu, tak berapa material yang akan jatuh ke dalam laut. Tsunami terjadi biasanya ada pemicu lain. Misal, jika terjadi longsor di dalam laut, material longsor akan bergerak pelan. Di Sumbar, memang Kota Padang yang harus paling waspada menghadapi kemungkinan ini,” sebutnya.

Di Kota Padang, sambungnya, terdapat setidaknya 400 sampai 500 ribu penduduk yang tinggal di zona merah. Jika terjadi tsunami, butuh waktu untuk mengevakuasi sekitar 20 menit. Badrul mengimbau agar masyarakat waspada jika terjadi gempa dengan durasi lebih dari 30 detik. (h/mg-yes)

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]