Pemahaman Mitigasi Jadi Kunci


Kamis, 27 Desember 2018 - 11:04:27 WIB
Pemahaman Mitigasi Jadi Kunci Ilustrasi

PADANG, HARIANHALUAN.COM – Evakuasi saat terjadinya gempa dan/atau tsunami harus menjadi tindakan reflek yang dilakukan oleh warga yang tengah terancam jiwanya. Pemahaman masyarakat terhadap mitigasi atau serangkaian upaya pengurangan risiko bencana menjadi kunci untuk meminimalisir jatuhnya banyak korban jiwa. Patut diingat, shelter di Sumbar tidak cukup untuk menampung sekitar 400 ribu jiwa yang tinggal di wilayah pesisir pantai. Kabar baiknya, shelter dan perangkat mitigasi lainnya bukan jalan berlindung satu-satunya.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Sumbar, Rumainur mengatakan, saat ini memang jumlah tempat evakuasi sementara atau shelter di Sumbar tidak mampu menampung seluruh penduduk yang berada di zona merah. Namun ia menegaskan, hal itu tak perlu menimbulkan kerisauan, karena shelter bukan pilihan satu-satunya untuk menghidari tsunami.

"Shelter kan fungsinya untuk perlindungan bagi masyarakat yang berdomisili di sekitar pesisir pantai. Bagi masyarakat yang jauh dari pantai, tentu tidak memerlukan shelter. Shelter itu kan hanya untuk mereka yang tidak sempat menjangkau daerah yang lebih tinggi saat tsunami datang," ucapnya.

Dalam sosialisasi yang diadakan BPBD, katanya lagi, masyarakat telah dilatih, sehingga mereka dapat menentukan pilihan yang lebih masuk akal antara melarikan diri ke tempat tinggi atau berlindung ke shelter. "Jadi terserah masyarakat maunya yang mana. Kalau lari ke shelter, waktunya sekian menit dan kapasitasnya terbatas. Kalau lari ke daerah tinggi, waktunya sekian dan kapasitasnya tak terbatas, tergantung situasi saat kejadian," kata Rumainur.

Pakar Gempa sekaligus pengajar dari Universitas Andalas (Unand), Badrul Mustafa Kemal ikut mengatakan, hasil riset tim peneliti dari LIPI terkait skenario gempa dan tsunami di Kota Padang pada 2012 lalu, yang salah satunya menyebutkan bahwa tsunami tidak harus ditandai dengan surutnya air laut, memang benar adanya. Akan tetapi, hal itu harus disikapi dengan memperkuat pemahaman tentang mitigasi kepada pemerintah dan masyarakat.

"Ukuran terjadinya tsunami tanpa air laut yang surut itu adalah gempa besar yang membuat orang tidak bisa berdiri dengan durasi lebih dari 30 detik. Pemerintah bersama lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM), termasuk kami di Forum Pengurangan Risiko Bencana (F-PRB) Sumbar telah cukup lama melakukan sosialisasi terkait kemungkinan terjadinya tsunami tanpa surutnya air laut di Kota Padang,” kata Badrul.

Terkait upaya mitigasi dan kesiapsiagaan yang dilakukan pemerintah dan masyarakat sejauh ini, Badrul menilai telah sesuai dengan ketersediaan anggaran yang ada. Sebab, kerap kali upaya-upaya tersebut belum maksimal karena terbatasnya dana di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BPNB), di mana Sumbar harus berbagi dengan daerah lain yang juga rawan bencana, bahkan baru dihantam bencana.

“Contohnya, saat Bapak Gamawan Fauzi masih menteri, kami di Forum PRB bersama Pemprov di bawah Gubernur Irwan Prayitno sudah merancang perkiraan kebutuhan tempat evakuasi sementara atau shelter di sepanjang wilayah pesisir pantai di Sumbar. Setidaknya, Sumbar butuh 150 shelter induk. Namun, tentu anggaran lagi yang menentukannya. Sementara ini baru ada 3-4 shelter induk di Kota Padang,” kata Badrul.

Namun begitu, Badrul bersama Forum PRB dan pemerintah mengaku menerapkan pilihan lain untuk mengatasi keterbatasan anggaran pemerintah dalam melakukan upaya-upaya mitigasi. Seperti memproyeksikan gedung-gedung pemerintahan sebagai shelter utama, di samping gedung-gedung pemerintah dan swasta lain yang juga menjadi potential shelter.

“Kami berencana mengkaji jumlah kebutuhan shelter itu dalam waktu dekat. Sebab, warga yang tinggal di zona merah itu mencapai 400 ribu orang. Sejauh ini kami sudah rekomendasikan juga pilihan lain, seperti kantor-kantor lurah di pesisir pantai, itu bisa direhab jadi kantor bertingkat sampai empat lantai. Lantai tiga dan empat itu bisa jadi shelter utama. Jadi tidak perlu mikirkan tanah lagi untuk pembangunan shelter utama,” katanya lagi.

Ada pun terkait kesiapan masyarakat, Badrul menekankan bahwa masyarakat harus memahami alur evakuasi yang ideal dilakukan saat terjadi bencana gempa-tsunami di Sumbar, khususnya di Kota Padang. Ia mencontohkan, shelter utama harus lebih dulu diperuntukkan bagi manusia lanjut usia (manula), ibu hamil, anak-anak, dan warga berkebutuhan khusus.

“Bagi yang masih kuat lari, ada waktu untuk menyelamatkan diri keluar dari zona merah. Lari sejauh mungkin dengan mengikuti petunjuk arah keluar dari zona merah itu. Shelter utama dan shelter potensial, itu diutamakan untuk yang tidak kuat lari atau mereka yang kehilangan golden time (kesempatan) untuk berlari keluar dari zona merah tsunami,” sebutnya lagi.

Pemahaman atas upaya-upaya seperti itu, katanya lagi, perlu disampaikan kepada masyarakat dari waktu ke waktu sepanjang tahun. Sebab, jika bergantung pada sirine tsunami, shelter, dan perangkat mitigasi yang sifatnya sangat terbatas tersebut, cita-cita pengurangan risiko bencana akan jauh panggang dari api. (h/mg-yes/isq/mg-dan)



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com
BERITA TERKAIT

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Selasa, 28 Juni 2016 - 05:52:28 WIB
    Nuzul Quran di Dharmasraya

    Tingkatkan Pemahaman Agama Generasi Muda

    Tingkatkan Pemahaman Agama Generasi Muda DHARMASRAYA, HALUAN — Dalam rangka meningkatkan pemahaman generasi muda terhadap Islam, jemaah Musala Jama’aturrahmah Komplek Bumi Lawai Permai, Jorong Koto, Nagari Gunung Medan, berhasil menggelar empat cabang perlombaa.
  • Sabtu, 21 Mei 2016 - 04:36:45 WIB

    Kodim 0307/ Tanah Datar : ‘Bunuh’ Paham Komunis dengan Pemahaman Wasbang

    Kodim 0307/ Tanah Datar : ‘Bunuh’ Paham Komunis dengan Pemahaman Wasbang PADANG PANJANG, HA­LUAN — Dengan melibat­kan seluruh jajaran Koramil di wilayah teritorial Tanah Datar dan Kota Padang Panjang, Kodim 0307/ Ta­nah Datar mulai mengambil langkah cepat guna ‘mem­bunuh’ munculnya cikal.
  • Kamis, 25 Februari 2016 - 02:52:05 WIB
    Jelang Pilkada Payakumbuh

    KPU Akan Maksimalkan Pemahaman Penyelenggara

    PADANG, HALUAN — Meng­­hadapi pelaksanaan Pil­kada yang akan dilak­sana­kan 15 Februari 2017 men­datang, Ko­misi Pemilihan Umum (KPU) Kota Paya­kumbuh akan lebih memak­simalkan pada pemahaman penye­leng­gara di t.
  • Kamis, 17 Desember 2015 - 03:29:42 WIB
    Kurangi Dampak Bencana

    KSB Diharapkan Beri Pemahaman kepada Masyarakat

    PAINAN, HALUAN — Ka­bupaten Pesisir Selatan me­rupakan supermaket ben­cana alam di Sumbar. Be­r­bagai musibah bencana alam seperti longsor, banjir, gempa bumi, angin puting beliung, kebakaran lahan, sering terjadi. Da.
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM