Menakar Ekonomi Sumbar 2019, Sumbar Sudah Under Capacity


Jumat, 28 Desember 2018 - 10:20:14 WIB
Menakar Ekonomi Sumbar 2019, Sumbar Sudah Under Capacity Para peserta roundtable discussion yang digelar Fakultas Ekonomi Unand, Kamis (27/12) berfoto bersama di Ruang Seminar usai berdiskusi soal kondisi ekonomi Sumbar tahun 2019 mendatang. YESSI

PADANG, HARIANHALUAN.COM – Para pakar ekonomi menyangsikan ekonomi Sumbar bisa bangkit dengan cepat. Minimnya terobosan pemerintah, dan tumpulnya dorongan terhadap pengembangan UMKM, terutama oleh sektor perbankan, menjadi penghambat laju ekonomi. Sumbar diprediksi belum mampu untuk bersaing dengan provinsi-provinsi tetangga yang lesatan laju perekonomiannya lebih terukur. Ekonomi Sumbar Gagap.

  Prediksi para pakar itu disampaikan dalam Outlook Ekonom Sumbar 2019, yang digelar di Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Andalas (Unand), Kamis (27/12). Diskusi dipimpin dan dibuka dengan pemaparan Prof Dr Syafrudin Karimi, yang meyakini laju perekonomian Sumbar akan melambat tahun  2019.

"Sejak 1966 kita bisa mencermati perekonomian Sumbar dan menampilkan fluktuasi ekonomi yang terjadi di Sumbar. Pada 2018, inflasi di Sumbar berada pada peringkat 13 nasional. Kalau dilihat fluktuasi ekonomi Sumbar di 2019 akan terjadi kelemahan pertumbuhan ekonomi. Bahkan, untuk tahun ini saja, paling banter hanya bisa ditutup dengan laju pertumbuhan ekonomi hanya sekitar 5 persen," ucap Syafrudin membuka diskusi.

Ditambahkannya, sejak gempa 2009 lalu, Sumbar belum sepenuhnya mampu mengembalikan ke kondisi normal. “Sesunguhnya kapasitas perekonomian Sumbar ni lemah. Under capacity, tapi dibuat seolah-olah over capacity. Sumbar cenderung defisit dari daerah lain. Defisit bahkan sampai 11 persen. Ekonomi Sumbar belum bisa berdiri sendiri. Bergantung pada daerah lain. Ketergantungan pada daerah lain ini jarang dibahas,” ungkap Syafrudin.

Pakar ekonomi lain Wirzon juga meragukan perekonomian Sumbar akan tumbuh, terutama sektor UMKM. Dia menyoroti minimnya peran serta perbankan untuk mendongkrak pertumbuhan UMKM. Malahan, kecenderungan yang terjadi, pihak perbankan menghambat tumbuh kembang UMKM, dengan memberikan perizinan yang rumit.

"Kalau dari sisi lain, dari segi perbankan di Sumbar malahan mendorong perekonomian untuk tidak tumbuh. Kendalanya selalu izin, padahal izinnya sudah lengkap. Walau pemerintah membuat bantuan KUR tapi susah mendapatkannya. Pengembangan UMKM seakan hanya slogan. Gaungnya saja yang besar, tapi praktiknya minim," tuturnya.

Ketua Forum Komunikasi Magister Manajemen Indonesia (FKMMI) Wilayah Barat Masyhuri Hamidi menyampaikan kekhawatirannya terhadap kondisi ekspor dan impor Sumbar.

“Impor lebih besar dsri ekspor ini mengkhawatirkan dan akan menjadi penyumbang lambannya pertumbuhan ekonomi akan pada 2019. Butuh perumusan secara mendalam dan pencarian akar masalah dan penyelesaiannya. Kalau tidak, perekonomian akan lesu,” ungkap Masyhuri.

Pemerintah daerah, menurut Masyhuri sudah semestinya berpikir kreatif dan mencari peluang baru untuk mendongkrak perekonomian. “Harus kreatif. Kalau tidak seperti ini saja, UMKM tidak berkembang, wisata juga demikian. Padahal objek wisata Sumbar ini bernilai tinggi, namun karena dikeola kurang kreatif, akibatnya tertinggal dari daerah lain,” paparnya.

Mesti Berani Bertarung

Pakar ekonomi, Prof Firwan Tan menantang pemerintah daerah untuk berani mengambil resiko dan bertarung demi menyelamatkan perekonomian Sumbar. Sejauh ini, ekonomi Sumbar bergantung pada UMKM, disebabkan tidak adanya industri yang menjadi penggerak utama.

"Sangat disayangkan Sumbar tidak punya industri-industri yang dapat mensubstitusi apa-apa yang ada dari luar. Padahal Sumbar dikagumi dengan sangat luar biasa oleh orang luar. Sejak awal merdeka hingga saat ini, orang Minang dinilai memiliki otak dan gagasan yang cemerlang. Tokoh-tokoh lahir dari Ranah Minang. Dari konteks SDM luar biasa. Hanya saja ada hal yg barangkali kita renungi, Sumbar ini terbobok nina dari zaman Suharto. Sekarang minim gagasan," ujar Forwan Tan.

Lebih lanjut kata dia, seharusnya setelah reformasi Sumbar harus lebih berani untuk lebih baik. Ia juga megkritisi kondisi Sumbar yang telah menjauh dari sumber network investor. Dimana artinya hubungan Sumbar dengan wirausahawan luar hampir nol. “Nyaris tidak masuk hitungan. Padahal, dulu negeri ini menjadi intaian banyak investor. Tapi, karena tidak ada keberanian untuk memulai, akhirnya tidak tertata,” katanya.

Di sisi lain,Wakil Dekan III FE Unand, Vera Pujani memaparkan kaitkan perekonomian dengan teknologi. "Zaman sekarang kita tidak bisa lari dari penggunaan teknologi. Jika tidak memasukkan teknologi dengan aktivitas, kita akan hilang dari peredaran. Untuk itu perlu adanya konsultan khusus yg membantu dalam bidang teknologi informasi ini serta mengaitkannya dengan perekonomian,"

Disampaikan Vera, dari beberapa penelitian yang dilakukan, diakui UMKM yang ada di Sumbar sudah global minimal ke negara-negara luar seperti di Malaysia, namun tetap saja belum mampu mengoptimalkan penggunaan teknologi informasi. Teknologi informasi tidak hanya tentang promosi, tapi juga tentang aktivasi produksi. UMKM Sumbar gagap dalam hal ini.

Pakar ekonom lain, M Nazer mengatakan, jika melihat kondisi seperti sekarang, dikhawatirkan ke depannya retailer dan distributor di Sumbar tidak ada lagi. "Besarnya pengaruh teknologi, membuat kebanyakan pedagang di pasar-pasar hanya sebagai penjaga toko. Kalau tidak ada intervensi dari pemerintah retailer dan distributor tidak akan lagi ada. Di satu sisi memang memanjakan pelanggan, tapi di sisi lain ada orang-orang yang hilang kesempatannya," kata Nazer.

Lainnya, A Khaliq melihat adanya perbedaan budaya dan budaya bisnis. Dimana budaya kita bekerja sama, sedangkan budaya bisnis bersaing. “Perbedaan itu belum mampu dikombinasikan dengan baik, untuk mencapai tujuan perekonomian yang sesungguhnya,” kata Khaliq.

Ekonom Safrizal melihat kondisi perekonomian Sumbar yang mengkhawatirkan. Menurutnya, Sumbar harus memilih dan memilah. Ia melihat masih ada secercah harapan dari segi service sektor. "Ada peluang yang cukup besar dalam mengejar perekonomian di service sektor. Namun persoalan terbesar kita, budaya servis nya sangat rendah. Sangat sulit mengembangkan servis sebagai uggulan di Sumbar," jelasnya.

Hal lain disoroti akademisi dan pakar ekonomi Nasrizal. Ia tertarik dengan IT yang berkaitan dengan UMKM dan pelaku bisnis. "Mayoritas pelaku UMKM mengatakan pasar sulit, padahal kreatifitas dan inovasi yg harus lebih ditinggkatkan,” ujarnya.

Syafrudin kemudian menyimpulkan bahwa Sumbar butuh ekonomi yang cukup kuat serta perlu melakukan rekayasa kebijakan, mulai dari rencana pembangunan daerah dan cek dengan realitas. Selain itu pemerintah daerah seharusnya juga melakukan review kebijakan yang telah dibuat, dan mengevaluasi dimana ketinggalannya.

Tantang Para Pakar

Pemimpin Redaksi Harian Haluan Rakhmatul Akbar yang berkesempatan ikut dalam diskusi tersebut juga memaparkan sejumlah catatan yang bisa menjadi sumbangsih Haluan.

"Apa yg didiskusikan dalam ruangan ini harusnya menjadi kegelisahan bersama. Ada hal yang paling penting krusial terkait perekonomian di Sumbar, yaitu perihal infrastruktur. Mengingat bencana yang silih berganti pada waktu lalu yang membuat Kota Padang nyaris lumpuh dan berdampak terhadap perekonomian. Pembangunan infrastruktur mesti dilakukan tepat sasaran. Tidak bisa dinafikan, bagian infrastruktur menjadi bagian terpenting dalam membangun perekonomian," tuturnya.

Rakhmatul juga menantang Fakultas Ekonomi Unand (FEUA) dan mempertanyakan seberapa besar FEUA berperan untuk mendongkrak perekonomian di Sumbar. “FEUA dapat mendorong lompatan-lompatan teknologi yang berkembang hari ini, serta bagaimana pakar-pakar ikut dilibatkan dalam perubahan ekonomi Sumbar ke depan. Semuanya mesti memberikan sumbangan pemikiran untuk ranah yang sama-sama dicintai ini,” kata Rakhmatul.

Berharap Lebih Baik

Dekan FEUA, Harif amali Rivai berharap diskusi yang dilaksanakan mampu menjadi masukan dan Fakultas Ekonomi Unand bisa muncul ke permukaan, serta lebih mengkritisi pemerintah. Diakuinya, perubahan perekonomian Sumbar menjadi lebih baik adalah tantangan dari bersama. Dekan berharap roundtable disscusion ini dinilai sangat bermanfaat dan diupayakan bisa dilaksanakan setiap tahun.

Selain itu, Ketua Jurusan Ekonomi Endrizal Ridwan juga berharap diskusi dapat menjadi sumbangsih dalam menyongsong 2019. "Tujuan diskusi intelektual pada kesempatan ini adalah melihat perkembangan perekonomian di Sumbar yang ada saat ini dan bagaimana prospeknya. Outlook ekonomi perlu menjadi diskusi bersama karena para pakar ekonomi sudah ditugaskan oleh negara untuk memberikan informasi dan apa yang kita ketahui tentang ekonomi Sumbar. Sehingga kita merasa perlu membicarakan sesuatu seputar ekonomi sumbar dalam forum diskusi intelektual seperti ini," paparnya. (h/mg-yes)

 




Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com
BERITA TERKAIT

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM