DIREKTUR PT RMM, SYAIFUL BAKHRI

Tutupnya Gerai Minang Mart Hal Biasa dalam Bisnis


Rabu, 09 Januari 2019 - 11:05:06 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Tutupnya Gerai Minang Mart Hal Biasa dalam Bisnis Peresmian gerai Minang Mart yang berlokasi di Painan oleh Direktur PT RMM, Syaiful Bakhri, Jumat (4/1).

PADANG, HARIANHALUAN.COM –  Direktur PT Retail Modern Minang (RMM), Syaiful Bakhri menyatakan bahwa penutupan beberapa gerai Minang Mart di Sumbar bukanlah sesuatu yang layak digembar-gemborkan. Menurutnya, penutupan tersebut adalah hal yang wajar dalam dunia bisnis.

"Kita analogikan seperti sebuah pohon. Pohon itu, kalau ingin tumbuh dengan subur dan produktif, maka dia akan merontokkan beberapa helai daunnya yang tidak produktif. Begitu juga halnya dengan bisnis. Masalah tutup dan buka, untung dan rugi, itu hal biasa dalam bisnis," ujarnya saat dihubungi Haluan, Selasa (8/1).

Lebih lanjut ia mengatakan, tutupnya beberapa gerai Minang Mart bisa saja disebabkan berbagai macam hal, misalnya karena tidak produktif, tidak satu visi antara pengelola dengan pemilik gerai, pemilihan lokasi yang tidak strategis, dan lain sebagainya.

Meski pun demikian, ia berani menjamin bahwa hal itu sama sekali tidak mengganggu prospek pertumbuhan Minang Mart di Sumbar. Bahkan, pada 2019 ia memperkirakan tren pertumbuhan Minang Mart akan semakin membaik.

"Buktinya, baru-baru ini kami telah membuka dua gerai baru. Tanggal 21 Desember lalu kami membuka gerai express baru berkonsep Container Pimkopal Lamtamal II di Pasar Gaung, Teluk Bayur. Kemudian tanggal 4 Januari kemarin kami juga membuka gerai baru lagi di Painan," ucapnya.

Selain dua gerai tersebut, PT RMM selaku pengelola Minang Mart juga berencana membangun beberapa gerai baru lainnya. Akhir Januari tahun ini, ia juga berencana membangun gerai baru di Kota Padang dengan lokasi yang masih dirahasiakan.

Sehubungan dengan pembukaan gerai baru itu, Syaiful menuturkan bahwa pihaknya tidak mematok syarat-syarat khusus bagi pengusaha yang ingin bekerja sama. Hanya saja, ia juga menekankan pada aspek lokasi.

"Hal yang paling saya tekankan itu adalah lokasinya harus strategis. Tidak bisa asal memilih lokasi. Hanya itu. Tidak ada syarat-syarat lainnya. Dan kami pun tidak pernah memungut biaya bagi mereka yang ingin bergabung dengan Minang Mart," tuturnya.

Rencana, Implementasi, Evaluasi?

Sebelumnya diberitakan, sejumlah gerai Minang Mart di Kota Padang dan satu gerai di Kota Payakumbuh menghentikan kerja sama dengan PT RMM. Bahkan, salah satu gerai di kawasan Ampang Kota Padang telah berganti nama menjadi Minang Midi, serta beberapa gerai lain tutup dengan palang merk dikontrakkan di bagian pintu masuk.

Tutupnya sejumlah gerai Minang Mart menuai komentar dari banyak kalangan, selain dari Anggota DPRD Sumbar, komentar juga dilayankan oleh Guru Besar Ekonomi Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, yang mengaku sangat menyayangkan tutupnya sejumlah gerai Minang Mart tersebut

"Saya terkejut mendengar berita tidak gembira tentang kinerja Minang Mart. Saya awalnya menangkap kehadiran Minang Mart sebagai upaya kebijakan pro rakyat. Saya berharap kebijakannya benar benar membuka diri ke publik, terutama bila ada sangkut paut dengan BUMD Sumbar yang jelas sumber modalnya dari APBD Sumbar," kata Syafruddin Karimi kepada Haluan, Selasa (8/1).

Awal pembentukan Minang Mart, kata Syafruddin, ia melihat memang banyak kritik dan sorotan publik. Ia mengaku juga pernah menyampaikan masukan kepada Gubernur saat diskusi yang meminta pandangan saya “plan well, implement well, dan evaluate well”. "Saya ucapkan itu karena saya yakin bisnis di Sumbar sangat butuh reformasi kelembagaan," katanya.

Ia juga menilai, seluruh kekuatan publik Sumbar baik di eksekutif dan legislatif sudah memuluskan jalan lahirnya Minang Mart. Artinya ia menilai tidak ada alasan Minang Mart tidak sukses. "Kalau ternyata tidak seperti harapan, perlu ditinjau kembali apakah sudah direncanakan dengan benar. Saat rencananya sudah benar, apakah sudah diimplementasikan dengan benar. Lalu apakah sudah dievaluasi dengan benar. Siapa yang harus menjawab semua itu," ujarnya.

Sebelumnya, sejumlah kalangan DPRD Sumbar ikut mengomentari rontoknya sejumlah gerai Minang Mart. Ketua Fraksi PDI Perjuangan, PKB, dan PBB DPRD Sumbar, Albert Hendra Lukman melihat, Pemprov Sumbar seharusnya mengambil pelajaran dari kegagalan pengembangan Minang Mart. Ia berharap ke depan hal-hal serupa tidak terjadi lagi. Sebab, ide Minang Mart pertama kali dicetuskan oleh Pemprov dan nyatanya tidak berjalan sesuai rencana.

"Dari awal, saya mengkritisi konsep Minang Mart. Sebab, pemerintah daerah akan masuk pada bidang usaha yang sama yang sudah dijalankan juga oleh masyarakat. Namun, saat dipertanyakan, Pemprov bilang Minang Mart adalah business to business. Karena business to business, ya sudah, kami biarkan," kata Albert kepada Haluan.

Hal senada disampaikan Wakil Ketua DPRD Sumbar, Guspardi Gaus. Ia sudah mendapat informasi bahwa gerai Minang Mart sudah banyak yang tutup seperti di kawasan Kuranji, Kalumbuak, dan Belimbing. "Intinya, konsep dan pelaksanaan Minang Mart itu tak semudah itu. Dari awal pendirian juga sudah terjadi pro kontr. Saya saat itu lebih memilih tak berbicara banyak sebab latar belakang saya juga pengusaha ritel. Takutnya terkesan tak menyetujui ide Minang Mart oleh Pemprov,” katanya. (h/mg-hen/mg/dan)

 



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com
BERITA TERKAIT

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM