Bagasi Berbayar Bisa Bunuh UMKM


Kamis, 10 Januari 2019 - 12:20:37 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Bagasi Berbayar Bisa Bunuh UMKM Dokumentasi Haluan

Nah, coba bayangkan saat wisatawan harus bayar biaya tambahan untuk bagasi agar bisa bawa pulang oleh-oleh. Mereka tentu tidak mau dan ujung-ujungnya tidak jadi beli oleh-oleh. UMKM yang menjual oleh-oleh akan kehilangan pembeli hingga akhirnya mati. (IAN HANAFIAH—ASITA SUMBAR)

PADANG, HARIANHALUAN.COM – Setelah Menteri Perhubungan (Menhub), Budi Karya Sumadi merestui Lion Air dan Wings Air untuk mencabut ketentuan bagasi 'cuma-cuma' bagi penumpang, kini giliran Citilink yang mengajukan perubahan serupa ke Dirjen Perhubungan Udara. Di Sumbar, penerapan aturan tersebut dikhawatirkan membunuh usaha kecil mikro dan menengah (UMKM).

Kepada Haluan, Direktur Utama (DZ) Citilink, Juliandra Nurtjahjo mengatakan, memang pihaknya tengah menunggu jawaban atas surat pengajuan perubahan free baggage (bagasi gratis) tersebut dari Dirjen Perhubungan Udara. Oleh karena itu ia belum dapat menjelaskan kapan ketentuan bagasi berbayar diberlakukan oleh maskapai tersebut.

“Karena tarif untuk low cost carrier (LCC/maskapai bertarif rendah) gak pernah naik aturan Dephubnya, sementara fuelnya (bahan bakar) naik terus. Kita masih nunggu jawaban surat pengajuan perubahan free baggage dari dirjen perhub. Kami sampaikan permohonan maaf kepada pelanggan Citilink,” kata Juliandra lewat pesan singkat.

Sebelumnya terkait Lion Air, Menteri Perhubungan, Budi Karya mengatakan, kementerian memperbolehkan maskapai tersebut mengubah aturan karena hal ini diperkirakan dapat meningkatkan tingkat ketepatan waktu berangkat dan tiba pesawat (On Time Performance/OTP). Pasalnya, dengan mengenakan biaya bagasi, penumpang tidak akan membawa barang bawaan terlalu banyak dan menghabiskan waktu untuk melakukan pelaporan bagasi.

"Dari pengamatan kami, OTP bisa naik karena selama ini mungin kalau pergi tidak dihitung (bawaannya), jadi mesti dihitung," ujarnya di Kompleks Istana Negara, Selasa (8/1), sebagaimana dilansir dari cnnindonesia.com.

Sementara terkait penerapan yang baru berlaku pada 22 Januari 2019, hal itu dimaksudkan agar pihak maskapai mempunyai waktu yang cukup untuk melakukan sosialisasi kepada penumpang. Hal itu sekaligus untuk melihat sejauh mana aturan baru ini diterima oleh penumpang. "Jadi dua minggu setelah tanggal 8 baru berlaku efektif. Saya minta dua minggu ini masa sosialisasi, tidak bayar," jelasnya.

Wisatawan Bakal Tak Belanja

Sementara itu, Asociation of The Indonesia Tour and Travel Agencies (ASITA) Sumbar menyatakan penolakan menolak tegas atas kebijakan bagasi berbayar yang bakal diterapkan oleh sejumlah maskapai penerbangan di Indonesia. Hal ini lantaran kebijakan tersebut dinilai berpotensi akan mematikan pertumbuhan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

“Coba pikir, orang pergi berwisata itu ngapain saja? Apa hanya sekadar pergi melihat pemandangan saja, lalu berswafoto, dan sehabis itu pulang. Kan tidak hanya itu. Mereka juga pasti akan berburu oleh-oleh, entah itu berupa produk kuliner atau pun cinderamata. Berburu oleh-oleh itu bisa dibilang agenda wajib pergi wisata. Nah, sekarang coba bayangkan saat wisatawan harus bayar biaya tambahan untuk bagasi agar bisa bawa pulang oleh-oleh. Mereka tentu tidak mau dan ujung-ujungnya tidak jadi beli oleh-oleh. UMKM yang menjual oleh-oleh akan kehilangan pembeli hingga akhirnya mati,” kata Ketua ASITA Sumbar, Ian Hanafiah dalam jumpa pers di J. Six Café, Rabu (9/1).

Selain bagasi berbayar, ASITA Sumbar juga menyoroti harga tiket penerbangan domestik yang jauh lebih mahal jika dibandingkan harga tiket penerbangan luar negeri. Menurutnya, kondisi ini akan berakibat kepada kecenderungan wisatawan lokal yang akan memilih berwisata ke luar negeri ke timbang ke dalam negeri.

Ia mengatakan bahwa indikasi ke arah itu sudah mulai terlihat. Agen-agen perjalanan yang ingin bertahan hidup memilih untuk menjual tiket perjalanan luar negeri, karena lebih murah sehingga gampang menarik pelanggan. “Jika hal ini terus dibiarkan, praktis semua program pemerintah daerah yang ingin menyejahterkan masyarakat lewat sektor pariwisata akan gagal total. Sebaliknya, negara lain justru akan diuntungkan dengan hal ini, karena banyak wisatawan lokal yang pergi ke luar negeri,” kata Ian.

Di samping itu, kebijakan Garuda Indonesia Group yang memberlakukan zero commission bagi agen perjalanan juga ikut mendapat sorotan. Ian mengungkapkan bahwa hal ini membuat agen perjalanan kehilangan sumber pemasukan. Ditakutkan, kebijakan ini bakal mematikan agen-agen perjalanan yang ada di Indonesia.

“Oleh karena itu, kami telah mengirimkan surat permohonan kepada Gubernur Sumbar untuk membicarakan hal ini dengan kementerian terkait. Untuk bagasi berbayar dan tiket pesawat, kami berharap kementerian terkait bisa setidaknya melakukan intervensi. Kalau bisa dibatalkan sekalian. Sedangkan untuk persoalan zero commission, kalau tidak bisa dibatalkan, setidaknya kami diberi kewenangan untuk menarik service charge atas tiket pesawat yang dibeli. Sehingga dengan begini agen perjalanan dapat bertahan hidup,” tutur Ian.

Sementara itu, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Polana B. Pramesti menjelaskan, Lion Air dan Wings Air tidak bisa mengenakan tarif bagasi kepada penumpang tanpa sosialisasi. Menurut Kemenhub, kebijakan maskapai memungut biaya bagasi baru bisa berlaku paling tidak dua pekan usai sosialisasi dilakukan.

"Setelah lakukan sosialisasi selama 14 hari atau dua minggu sejak perubahan Standard Operating Procedure (SOP), Lion Air dan Wings Air dapat memungut biaya atas bagasi tercatat penumpangnya," tutur Polana.

Pada Jumat (4/1), Lion Air mengumumkan akan memberlakukan kebijakan baru terkait kapasitas berat barang bawaan penumpang. Kebijakan itu tidak lagi memberlakukan bagasi penumpang secara cuma-cuma mulai 8 Januari 2019.

Corporate Communications Strategic Lion Air Danang Mandala Prihantoro mengatakan setiap calon penumpang (kecuali bayi) diperbolehkan membawa satu bagasi kabin dengan maksimum berat 7 kilogram (kg) dan satu barang pribadi, seperti tas laptop, perlengkapan bayi, bahan membaca, dan tas jinjing wanita.

Ketentuan maksimum ukuran dimensi bagasi kabin adalah 40 cm x 30 cm x 20 cm. Ini berarti, dimensi barang bawaan penumpang lebih dari ukuran yang dimaksud, dengan berat lebih dari 7 kg akan dikenakan biaya. Sebelumnya, penumpang Lion Air diizinkan membawa bagasi secara gratis hingga 20 kg untuk Lion Air dan 10 kg untuk Wings Air. (h/mg-dan)



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Jumat, 18 Januari 2019 - 10:24:42 WIB

    Bagasi Berbayar “Bunuh” UMKM di Sumbar

    Bagasi Berbayar “Bunuh” UMKM di Sumbar PADANG, HARIANHALUAN.COM – Direktur Utama PT Semen Padang Yosfiandri menyebutkan, kebijakan pemerintah tentang harga tiket dan zero commission yang diberlakukan salah satu maskapai membuat agen travel gulung tikar. Penerapa.

BERITA TERKINI Index »

BERITA TERPOPULER Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM