Shelter di Padang Terkunci dan Tak Terawat, Mitigasi Bencana Berbuah Cemas


Rabu, 16 Januari 2019 - 11:40:36 WIB
Shelter di Padang Terkunci dan Tak Terawat, Mitigasi Bencana Berbuah Cemas LISTRIK SHELTER—Seorang warga menunjulan instalasi listrik yang rusak di shelter di kawasan Ulak Karang, Kota Padang, Senin (15/1). Fasilitas di shelter yang berfungsi untuk evakuasi stunami itu banyak tidak berfungsi, bahkan ada yang dicuri. TIO FURQAN

Itu kan sangat mencemaskan, ya. Coba kalau sirine tsunami berbunyi setelah gempa. Orang lari ke shelter, tapi terkunci. Padahal waktu untuk lari ke shelter itu sudah habis berapa lama. Tahu dikunci seperti itu, mending lari menjauh dari pantai – (WARGA)

PADANG, HARIANHALUAN.COM – Tempat Evakuasi Sementara (TES) atau shelter menjadi pilihan utama bagi masyarakat yang tinggal di sepanjang pesisir pantai atau zona merah untuk mengevakuasi diri saat terjadi bencana gempa bumi dan/atau tsunami. Namun, ketersediaan shelter di Sumbar sebagai daerah “supermarket bencana” belum memenuhi kebutuhan. Sementara shelter yang telah ada, tidak selalu dalam kondisi siaga jika sewaktu-waktu diperlukan.

Penelusuran Haluan ke sejumlah shelter utama di Kota Padang menunjukkan ketidaksiapan itu. Sebagaimana terpantau di shelter utama di kawasan Parupuak Tabiang, dekat asrama haji, Kota Padang, yang saat dipantau pada Selasa (15/1), tengah dalam keadaan terkunci. Tampak hanya beberapa unit mobil yang terpakir di lantai dasar bangunan itu.

Salah seorang warga bernama Diki, yang ditemui Haluan di dekat lokasi shelter, membenarkan bahwa shelter itu tengah terkunci. Menurutnya, shelter itu dikunci karena kerap menjadi tempat remaja berpacaran dan melakukan hal-hal lain yang dapat merusak bangunan dan komponen lain yang ada di gedung shelter.

“Selain jadi tempat maksiat, sering juga orang datang untuk merusak. Dulu saja pernah jendela di gedung itu hilang, entah siapa yang ambil. Dari pada menimbulkan masalah-masalah seperti itu, maka diputuskan shelter itu dikunci,” kata Diki.

Selain Diki, orang tuanya yang mengaku memegang kunci pintu shelter tersebut ikut menguatkan bahwa keputusan mengunci shelter itu lebih kepada menghindari penyalahgunaan yang tidak benar terhadap shelter itu. “Sore saya buka, karena ada latihan karate di sana. Masyarakat juga banyak yang menduplikat kuncinya. Jadi tidak usah khawatir soal itu,” katanya lagi yang enggan namanya dituliskan.

Lain shelter Parupuk Tabing, lain pula kondisi shelter utama di kawasan Ulak Karang, Kota Padang. Meski shelter tidak dalam keadaan terkunci, tetapi sejumlah fasilitas yang tersedia di shelter dengan cat biru kuning itu tampak sudah dipreteli satu per satu oleh tangan jahil. Hal itu terlihat oleh Haluan dari sejumlah sarang pemasangan bola lampu yang kosong sebagian, dan hanya sebagian saja yang terpasang bola lampu.

Begitu pun terpantau pada lokasi lampu taman di depan shelter yang juga telah raib. Beberapa lainnya, tampak sarang cangkang lampu yang telah pecah, sedangkan bola lampu di dalamnya sudah tak berada di tempat. Selain itu, Kabel-kabel yang menjadi penyambung arus listrik juga terlihat banyak yang putus.

Pengakuan beberapa warga yang tinggal disekitar shelter itu, memang banyak tangan jahil yang telah "menyelamatkan" fasilitas shelter itu untuk kebutuhan pribadi. Ari (21) salah seorang warga menuturkan bahwa lampu dan kabel yang ada di shelter itu sebagian memang telah diambil oknum warga.

"Iya, betul. Lampunya sudah banyak yang hilang. Ada yang mengambil tapi tidak tahu siapa. Kabel-kabel di lantai atas juga banyak diputus dan diambil orang. Paling yang hidup cuma satu lampu yang di bawah," tutur Ari.

Ia menduga, oknum yang mengambil fasilitas di shelter tersebut beraksi saat dini hari hingga sebelum subuh. Sebab, tidak seorang pun warga yang pernah melihat atau menangkap pelaku pengambilan aset-aset shelter tersebut.

Sementara itu warga lain bernama Anto (34) menyebutkan, saat sore hari, shelter itu beralih fungsi sebagai lokasi senam ibu-ibu kompleks, dan tempat latihan olah raga lain seperti taekwondo, sepakbola, dan bola basket. “Memang penjagaan dan perhatian terhadap shelter itu kurang. Warga setempat juga banyak yang tidak ngeh bahwa ada yang aset shelter yang dipreteli," tutupnya.

Shelter Terkunci Meresahkan

Kondisi shelter yang terkunci dan terkesan tak dirawat itu menimbulkan kecemasan bagi kalangan warga. Raffi, salah seorang warga Tabing mengaku sangat khawatir dengan kondisi shelter yang terkunci dan banyaknya aset yang hilang dicuri orang. Ia pun tak berani membayangkan jika bencana datang, sementara shelter yang dituju masih belum terbuka.

“Itu kan sangat mencemaskan, ya. Coba kalau sirine tsunami berbunyi setelah gempa. Orang lari ke shelter, tapi terkunci. Padahal waktu untuk lari ke shelter itu sudah habis berapa menit. Tahu dikunci mending lari menjauh dari pantai,” kata Raffi.

Hal serupa dikeluhkan Roni Nasution, warga Ulak Karang yang mengaku tak habis pikir jika kondisi shelter tidak memadai saat terjadi bencana. Menurutnya, shelter itu harus siap sedia setiap ada bencana. Dengan kondisi yang layak dan bisa ditempati untuk menyambung hidup saat situasi setelah bencana.

“Masak lampunya bisa hilang. Harusnya ada penjagaan polisi atau satpol PP di shelter yang ada. Jangan karena tidak ada penjaganya, shelter dikunci. Memangnya yang pegang kunci tahu kapan bencana datang,” ucapnya dengan nada mengeluh.

Belum Milik Daerah

Menanggapi kondisi shelter-shelter itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar, Rumainur mengatakan, pihaknya tidak bisa mengambil tindakan apa-apa terkait kerusakan dan kehilangan aset yang terjadi. Sebab hingga saat ini, belum dilakukan serah terima aset shelter itu dari pemerintah pusat kepada Pemerintah Kota (Pemko).

"Saya sudah hubungi Kadis BPBD Kota Padang dan beliau mau saja menganggarkan perbaikan dan perawatan. Namun, sampai saat ini belum ada serah terima yang dilakukan dari pusat," kata Rumainur kepada Haluan.

Rumainur pun mengaku provinsi pun tidak bisa memberikan bantuan perbaikan karena shelter tersebut masih terhitung sebagai aset nasional. Sehingga salah-salah menganggarkan dapat menjadi temuan dalam pemeriksaan keuangan.

Meski pun begitu, kata Rumainur, ia mengimbau masyarakat agar bisa menjaga shelter di kawasan tempat tinggal masing-masing. Sebab, shelter itu akan digunakan oleh masyarakat untuk kepentingan masyarakat itu sendiri.

Hal senada juga disampaikan Kepala BPBD Kota Padang, Edy Hasmi. Ia membenarkan bahwa shelter-shelter tersebut belum diserahterimakan oleh pemerintah pusat kepada Pemko Padang, sehingga pihaknya belum dapat menganggarkan perbaikan untuk shelter tersebut. "Kalau anggaran perbaikan shelter, ada sejumlah Rp20 juta. Tapi itu untuk perbaikan dan perawatan shelter yang lain," ujarnya.

Pessel Butuh Tambahan

Selain Kota Padang, beberapa daerah lain di Sumbar juga termasuk daerah rawan kejadian bencana gempa disertai tsunami. Salah satunya yang paling rawan adalah Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel). Namun kenyataannya hingga kini, daerah itu masih sangat membutuhkan penambahan infrastruktur kesiapsiagaan di sejumlah titik.

Kepala BPBD Pessel, Herman Budiarto menyebutkan, pihaknya masih membutuhkan penambahan shelter utama sebagai tempat evakuasi sementara bagi warga, jika sewaktu-waktu terjadi bencana alam seperti gempa bumi, banjir, atau tsunami.

"Hingga kini kami masih berupaya mengusulkan pembangunan shelter melalui dana APBD dan APBN. Namun, belum ada terealisasi," ucapnya kepada Haluan, Selasa, (15/1).

Herman menyebutkan, musibah atau bencana memang tidak dapat diprediksi kedatangannya. Namun, ia tetap mengimbau agar masyarakat selalu waspada dan siaga saat bencana itu datang. Menurutnya, tugas pemerintah adalah melindungi dan menjaga masyarakat dari segala bentuk ancaman yang akan melanda itu.

"Jadi, pembangunan shelter itu mesti disegerakan. Kita tidak tahu kapan bencana itu datang. Kami berharap dukungan dari semua pihak, termasuk pemerintah provinsi dan pusat. Sebab, jika hanya mengandalkan APBD daerah saja, anggarannya untuk shelter tidak akan mencukupi," katanya.

Herman menuturkan, hingga kini pihaknya terus berupaya bersosialisasi kepada masyarakat, khususnya mereka yang tinggal di sepanjang bibir pantai dan kawasan perbukitan, agar selalu meningkatkan kewaspadaan. "Upaya yang sudah kami lakukan adalah melakukan pembinaan kepada kelompok siaga bencana (KSB) di setiap kecamatan di Pessel. Sehingga kapan pun, masyarakat harus cepat melakukan evakuasi secara mandiri saat bencana terjadi," ujarnya.

Ia menambahkan, selain fokus melakukan pembinaan kepada kelompok siaga bencana, saat ini Pessel memilki sebelas unit alat peringatan bencana tsunami Early Warning System (EWS), empat unit shelter buatan, dan satu shelter alam. "Empat shelter buatan itu di Pasir Ganting, Pasar Kambang, Amping Parak, dan Surantih. Sedangkan shelter alam di Kota Painan," tuturnya.

Teti (48), salah seorang warga Painan mengatakan, kehadiran shelter di kawasan padat penduduk yang berada di zona merah tsunami merupakan kebutuhan penting yang tidak bisa dipandang sebelah mata. "Kami akui shelter sangat diperlukan. Harusnya ada di kawasan padat penduduk seperti Tarusan, Painan, Salido, Sago, dan Pasar Baru Bayang, yang jarang ada ketinggian," tuturnya. (h/kis/mg-pmi/mg-yes/mg-mal)



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com
BERITA TERKAIT

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Senin, 04 September 2017 - 02:36:16 WIB
    JEMBATAN PENGHUBUNG SEGERA DIBANGUN

    Akses Menuju Shelter Dipermudah

    PADANG, HALUAN--Kota Padang berada tepat di pinggir Samudera Hindia. Rawan bencana seperti banjir, gempa, dan lainnya. Agar warga tetap merasa nyaman dan terselamatkan jika terjadi bencana, Padang membangun banyak shelter..
  • Rabu, 26 April 2017 - 09:04:21 WIB

    Pemko Padang Canangkan Konsep Sekolah Shelter

    Pemko Padang Canangkan Konsep Sekolah Shelter PADANG, HALUAN -- Pemerintah Kota Padang saat ini sedang merancang konsep tentang pembangunan sekolah shelter. Konsep sekolah shelter tersebut nantinya akan dibangun pada daerah-daerah zona merah terutama disepanjang pesisi.
  • Senin, 24 April 2017 - 14:32:30 WIB

    Sekolah di Padang Bakal Pakai Konsep Shelter

    Sekolah di Padang Bakal Pakai Konsep Shelter PADANG, HARIANHALUAN.COM-- Kondisi Kota Padang yang rawan bencana, membuat pemerimtah harus memikirkan keselamatan warganya ketika terjadi gempa yang berpotensi tsunami..
  • Jumat, 09 September 2016 - 02:27:50 WIB

    Shelter Tak ‘Ramah’ Disabilitas

    PADANG, HALUAN — Shelter BNPB di Kota Padang masih kurang ramah untuk warga penyandang disabilitas. Pasalnya, landai shelter menuju lantai atas tidak memiliki tempat pegangan di bagian sampingnya..
  • Selasa, 12 Juli 2016 - 19:08:14 WIB

    Danlanud: Lanud Padang Siap Dukung Pemko Bangun Shelter di Kawasan Lanud

    Danlanud: Lanud Padang Siap Dukung Pemko Bangun Shelter di Kawasan Lanud PADANG, HALUAN - Komandan Pangkalan Angkatan Udara (Danlanud Padang) Kolonel Penerbang (Pnb) I Putu Gede Suastika kepada sejumlah awak media, Selasa (12/7) menyatakan bahwa pihaknya siap mendukung dan membantu Pemerintah Kota.
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM