Getaran Pila Tarok Diduga Akibat Limpasan Air


Senin, 21 Januari 2019 - 11:18:12 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Getaran Pila Tarok Diduga Akibat Limpasan Air Ilustrasi (net)

PADANG, HARIANHALUAN.COM – Pakar Gempa yang juga pengajar di Universitas Andalas (Unand), Badrul Mustafa Kemal, menduga bahwa fenomena tanah bergetar di Pilla Tarok terjadi akibat limpasan air hujan yang jatuh ke aliran sungai Batang Kuranji, yang saat ini telah didam menjadi bendungan.

"Saya belum bisa memastikan fenomena itu karena baru mengetahui informasinya baru-baru ini. Namun, dari informasi itu, saya simpulkan tanah bergetar itu sudah terjadi lebih dari satu tahun belakangan dan semakin kencang saat hujan deras. Saya hanya dapat berasumsi bahwa energi air hujan yang jatuh lebih besar, dan terjadi penambahan limpasan air di sungai yang telah dibuat bendungan itu. Itu penyebabnya," ucap Badrul kepada Haluan, Minggu (20/1).

Badrul menduga, sebagaimana dituturkan beberapa warga setempat yang merasakan langsung getaran tersebut, bahwa fenomena itu berkait paut dengan pembangunan bendungan di aliran batang kuranji, yang membuat daerah tangkapan hujan di kawasan itu mengalami degradasi.

"Kaitannya dengan air limpasan, karena beralihnya fungsi lahan, yang tadinya tidak ada bangunan menjadi lahan yang telah dibetonisasi. Air yang masuk ke dalam tanah berkurang dan beralih ke sungai yang mengalir, dan membuat debit air di permukaan menjadi lebin besar sehingga terjadilah degradasi di daerah tangkapan hujan itu," katanya lagi.

Lebih lanjut Badrul menyebutkan, volume air yang bertambah besar yang berkaitan dengan energi air hujan yang cukup kuat itulah yang akhirnya menimbulkan getaran-getaran yang terasa di rumah-rumah warga terdekat dengan bendungan. Terutama rumah-rumah yang berada di kawasan Pila Tarok.

Meski pun begitu, Badrul menilai getaran itu tidak akan menimbulkan kerusakan parah di rumah-rumah warga. "Dampak terburuk paling hanya retak-retak kecil di rumah-rumah warga. Kalau sampai runtuh seperti dampak gempa pada umumnya, untuk sementara ini mungkin tidak akan sampai begitu," tuturnya.

Ia menganalogikan, kekuatan getaran itu berkisar pada 2/3 Modified Mercalli Intensity (mmi), sehingga tidak akan sampai merusak rumah. Ada pun getaran yang sampai merusak bangunan rumah biasanya memiliki frekuensi hingga 6 mmi, dan itu pun hanya terjadi pada rumah dengan kualitas bangunan buruk. Sedangkan untuk rumah dengan kualitas pembangunan yang bagus diperkirakan tidak akan mengalami kerusakan.

Namun begitu, Badrul tetap mengimbau pemerintah untuk menindaklanjuti fenomena tersebut. Sebab, tidak sedikit warga yang merasa resah dan tidak nyaman saat fenomena itu terjadi.

"Kalau sudah lebih dari satu tahun, warga tentu merasa dirugikan. Terganggu dan tidak nyaman. Pemerintah perlu menindaklanjutinya agar warga jangan sampai cemas. Selain itu, perlu dicari solusi dan jalan keluar sehingga gangguan itu bisa dihilangkan atau paling dikurangi. Mungkin dengan memberikan kompensasi dan sebagainya. Saya juga akan sampaikan amatan saya tentang fenomena ini kepada pihak berwenang. Agar antisipasi dapat dilakukan sedini mungkin.

Tim BPBD Turun Hari Ini



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

BERITA TERKINI Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM