Fenomena Tanah Bergetar di Pila Tarok

BPBD Padang Lempar ke ESDM Sumbar


Rabu, 23 Januari 2019 - 12:04:56 WIB
Reporter : Tim Redaksi
BPBD Padang Lempar ke ESDM Sumbar Ilustrasi (net)

PADANG, HARIANHALUAN.COM – Pemerintah belum kunjung menyikapi laporan warga Pila Tarok, Kelurahan Pasar Ambacang, Kuranji, Kota Padang, terkait fenomena tanah bergetar yang meresahkan warga setempat dalam setahun belakangan. BPBD Sumbar telah meminta BPBD Padang turun pada Senin (21/1) lalu, tetapi urung dilakukan karena BPBD Padang menilai Dinas ESDM Sumbar yang lebih cocok untuk melakukan peninjauan.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang, Edy Hasmi, kepada Haluan  menyebutkan, pihaknya memang belum turun ke lokasi karena fenomena tanah bergetar itu diduga berkaitan erat dengan persoalan geologi, sehingga Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Sumbar dinilai sebagai pihak yang lebih tepat untuk datan ke lokasi.

" BPBD Kota Padang belum ada turun ke lapangan. Itu lebih tepatnya ahli geologi. Jadi, saya menyarankan untuk menghubungi Dinas ESDM Provinsi Sumbar. BPBD tidak ada keahlian tentang geologi untuk menangani hal itu," kata Edi, Selasa (22/1).

Sementara itu, sebelumnya Kalaksa Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar, Erman Rahman menyatakan akan mengutus tim dari BPBD Kota Padang bersama pakar untuk mengadakan penelitian terkait fenomena getaran aneh di Pila Tarok tersebut.

"Memang fenomena itu sudah terjadi sejak setahun yang lalu. Namun, sampai sekarang kami belum tahu persis penyebabnya. Untuk itu, saya sudah memerintahkan kepada BPBD Padang dan mungkin juga dengan membawa beberapa orang pakar dari Unand untuk meneliti fenomena itu. Insya Allah, hari Senin (21/1) sudah ada tim yang turun ke lokasi," katanya kepada Haluan, Jumat (18/1).

Terkait pernyataan Edy Hasmi yang menyebutkan bahwa Dinas ESDM Sumbar sebagai pihak yang seharusnya turun ke lapangan untuk melakukan pengecekan, Kalaksa BPBD Sumbar melalui Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Rumainur menjelaskan, secara teknis fenomena tersebut memang menjadi tugas Dinas ESDM Sumbar.

“Namun, karena laporan ini masuk ke BPBD Kota Padang, maka seharusnya memang BPBD Kota Padang yang turun dulu ke lapangan melakukan pengecekan,” kata Rumainur, Selasa (22/1).

Haluan kemudian mencoba mengonfirmasi hal itu kepada Kepala Dinas ESDM Provinsi Sumbar, Hery Martinus. Ia pun menyatakan pihaknya dalam status menunggu laporan dari warga sebelum menurunkan tim ke lokasi.

"Sebelum tim diturunkan, informasi yang didapatkan harus jelas. Di mana lokasinya. Apa yang terjadi. Bagaimana kronologisnya. Baru kami cek secara teori. Untuk itu, kami menunggu laporan langsung dari warga, dan kami minta datang ke sini untuk menjelaskan kronologinya. Kalau sekarang kan belum jelas. Bagaimana kami akan turunkan tim," kata Hery kepada Haluan, Selasa (22/1).

Hery kembali menegaskan, pihaknya baru akan melakukan peninjauan ke lapangan untuk memastikan fenomena itu setelah masuknya laporan dari warga atau RT-RW setempat kepada pihaknya.

"Nanti akan kami cek secara data spasial dengan mengambil titik koordinatnya. Setelah itu akan dikonfirmasi melalui data geologi. Apa tipikalnya di sana. Apakah posisi gerakan tanahnya melintas di situ atau bagaimana. Insya Allah akan cepat ditindak lanjuti karena ESDM Sumbar punyai ahli geologi,” tutupnya.

Pakar Menduga Limpasan Air

Sebelumnya, pakar gempa Universitas Andalas (Unand), Badrul Mustafa Kemal, menduga bahwa fenomena tanah bergetar di Pila Tarok terjadi akibat limpasan air hujan yang jatuh ke aliran sungai Batang Kuranji, yang saat ini telah didam menjadi bendungan.

"Saya belum bisa memastikan fenomena itu karena baru mengetahui informasinya baru-baru ini. Namun, dari informasi itu, saya simpulkan tanah bergetar itu sudah terjadi lebih dari satu tahun belakangan dan semakin kencang saat hujan deras. Saya hanya dapat berasumsi bahwa energi air hujan yang jatuh lebih besar, dan terjadi penambahan limpasan air di sungai yang telah dibuat bendungan itu. Itu penyebabnya," ucap Badrul kepada Haluan, Minggu (20/1).

Badrul menduga, sebagaimana dituturkan beberapa warga setempat yang merasakan langsung getaran tersebut, bahwa fenomena itu berkait paut dengan pembangunan bendungan di aliran batang kuranji, yang membuat daerah tangkapan hujan di kawasan itu mengalami degradasi.

"Kaitannya dengan air limpasan, karena beralihnya fungsi lahan, yang tadinya tidak ada bangunan menjadi lahan yang telah dibetonisasi. Air yang masuk ke dalam tanah berkurang dan beralih ke sungai yang mengalir, dan membuat debit air di permukaan menjadi lebin besar sehingga terjadilah degradasi di daerah tangkapan hujan itu," katanya lagi.

Lebih lanjut Badrul menyebutkan, volume air yang bertambah besar yang berkaitan dengan energi air hujan yang cukup kuat itulah yang akhirnya menimbulkan getaran-getaran yang terasa di rumah-rumah warga terdekat dengan bendungan. Terutama rumah-rumah yang berada di kawasan Pila Tarok.

Badrul menduga, sebagaimana dituturkan beberapa warga setempat yang merasakan langsung getaran tersebut, bahwa fenomena itu berkait paut dengan pembangunan bendungan di aliran batang kuranji, yang membuat daerah tangkapan hujan di kawasan itu mengalami degradasi.

"Kaitannya dengan air limpasan, karena beralihnya fungsi lahan, yang tadinya tidak ada bangunan menjadi lahan yang telah dibetonisasi. Air yang masuk ke dalam tanah berkurang dan beralih ke sungai yang mengalir, dan membuat debit air di permukaan menjadi lebin besar sehingga terjadilah degradasi di daerah tangkapan hujan itu," katanya lagi.

Lebih lanjut Badrul menyebutkan, volume air yang bertambah besar yang berkaitan dengan energi air hujan yang cukup kuat itulah yang akhirnya menimbulkan getaran-getaran yang terasa di rumah-rumah warga terdekat dengan bendungan. Terutama rumah-rumah yang berada di kawasan Pila Tarok. (h/mg-yes)



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Ahad, 03 Februari 2019 - 19:14:57 WIB

    Pasca Gempa Mentawai, BPBD Pessel Imbau Masyarakat Tetap Waspada

    Pasca Gempa Mentawai, BPBD Pessel Imbau Masyarakat Tetap Waspada PAINAN, HALUAN.Com - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), menghimbau masyarakat agar mewaspadai jika sewaktu-waktu terjadi gempa susulan di daerah itu..
  • Senin, 21 Januari 2019 - 22:16:51 WIB

    Mobil BPBD Tabrakan di Solsel

    Mobil BPBD Tabrakan di Solsel SOLOK SELATAN, HARIANHALUAN.COM -- Satu unit mobil operasional BNPB di Solok Selatan (Solsel) tabrakan dengan mobil Avanza di Sungai Barameh Ganting, Nagari Lubuak Gadang Selatan, Kecamatan Sangir, Senin (21/1) 16.00 WIB. Dik.
  • Senin, 15 Oktober 2018 - 14:38:09 WIB

    Rawan Banjir, BPBD Pasaman: Tiga Sungai Perlu Dinormalisasi

    Rawan Banjir, BPBD Pasaman: Tiga Sungai Perlu Dinormalisasi PASAMAN, HARIANHALUAN.COM--Dilintasi sejumlah sungai besar, Kabupaten Pasaman sangat rawan terjadinya bencana banjir dan tanah longsor. Ditambah lagi, sungai-sungai tersebut, kini mulai mengalami pendangkalan serta penyempita.
  • Senin, 09 Juli 2018 - 22:28:06 WIB

    Berduaan dengan Wanita di Kamar Hotel, Mantan Pejabat BPBD Sumbar Diciduk Pol PP

    Berduaan dengan Wanita di Kamar Hotel, Mantan Pejabat BPBD Sumbar Diciduk Pol PP PADANG, HARIANHALUAN.COM—Dinas Satpol PP Sumbar menciduk mantan pejabat BPBD Sumbar bersama seorang perempuan yang bukan istrinya di salah satu hotel di kawasan Ulak Karang, Kota Padang, Senin (9/7). .
  • Sabtu, 23 Juni 2018 - 22:10:25 WIB

    Pengunjung Pulau Angso Duo Masih Terjebak, BPBD: Kami Belum Bisa Evakuasi

    Pengunjung Pulau Angso Duo Masih Terjebak, BPBD: Kami Belum Bisa Evakuasi PARIAMAN, HARIANHALUAN.COM--Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pariaman belum bisa mengevakuasi pengunjung yang terjebak badai di Pulau Angso Duo, Kota Pariaman, Sabtu (23/6). .

BERITA TERKINI Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM