Operasikan Replika 'Mak Itam', Jalur dan Lubang Kalam Direvitalisasi


Selasa, 05 Februari 2019 - 21:24:32 WIB
Operasikan Replika 'Mak Itam', Jalur dan Lubang Kalam Direvitalisasi Sejumlah warga mengecek jalur kereta Lubang Kalam, Kota Sawahluto, Selasa (5/2). Jalur itu akan direvitalisasi sehingga bisa kembali dilalui oleh Kereta Api Mak Itam. RIKI YUHERMAN

SAWAHLUNTO, HARIANHALUAN.COM- Usai menghadirkan replika lokomotif uap Mak Itam, Pemerintah Kota Sawahlunto melalu Dinas Kebudayaan Peninggalan Sejarah dan Permuseuman segera melakukan revitalisasi jalur dan kawasan lubang kalam. Hal itu dilakukan untuk kembali mengaktifkan jalur kereta api untuk memanjakan wisatawan yang berkunjung ke kota ini.

Kepala  Dinas Kebudayaan Peninggalan Sejarah dan Permuseuman Kota Sawahlunto, Hendri Thalib mengatakan, pihaknya tengah melakukan revitalisasi lubang kalam dan akan mempercantik jalur mulai dari Museum Kerta Api hingga Lubang Kalam dengan berbagai aneka bunga.

Selain itu lanjut Hendri, pihaknya tengah mengurus setiap perizinan terkait operasional dari replika Mak Itam, mulai izin dari PT. Kereta Api Indonesia (KAI), Balai Teknik Perkeretaapian, dan Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan.

"Untuk Lokomotif uap Mak Itam sendiri, pihak kepala Divre PT KAI Sumbar telah berjanji akan mendatangkan tenaga ahli lokomotif uao dari Ambarawa, sehingga ikon pariwisata Sawahlunto itu bisa kembali jalan," katanya.

Terkait replika Mak Itam E 1060 tersebut dirancang mampu menarik 2 gerbong kapasitas 50 penumpang. Hal ini kita lakukan merupakan langkah untuk mensiasati kondisi lokomotif E1060 asli yang tidak mampu lagi berjalan.

Hendri menyebutkan, keberadaan kereta api di Kota Sawahlunto tidak bisa dipisahkan dengan hadirnya pertambangan batubara. Bahkan saat ini Sawahlunto juga memiliki icon pariwisata, yakni Lokomotif uap Mak Itam.

Batubara yang di eksploitasi oleh pemerintah Hindia Belanda kala itu menggunakan kereta api sebagai sarana transportasi utama untuk membawanya ke pelabuhan Emmahaven (sekarang Teluk Bayur), sebelum dibawa oleh kapal-kapal ke berbagai dunia.

Saat ini lanjutnya, Mak Itam yang asli terletak di Stasiun Sawahlunto sejak dipulangkan dari Museum Kereta Api Ambarawa tahun 2008. Namun jarang sekali beroperasi mengingat biaya yang harus dikeluarkan untuk satu kali jalan membutuhkan anggaran sekitar Rp15 juta. Anggaran yang besar tersebutlah yang selama ini menjadi alasan mak itam jarang beroperasi.

"Untuk itu, demi mengobati kerinduan masyarakat setempat dan juga untuk menarik wisatawan pemko berinisiatif membuat replika Mak Itam.Replika Mak Itam dibuat semirip mungkin dengan aslinya, namun dengan ukuran yang relatif berbeda," katanya.

Perbedaan yang signifikan dari Mak Itam asli dan replika yakni, ukuran Mak Itam asli panjangnya mencapai 15 meter, lebar satu setengah meter, dan tingginya 3,5 meter. Dari rodanya Mak Itam asli terdapat 10 roda yang keterkaitan satu sama lain. Sementara itu replika Mak Itam panjangnya sekitar 4 meter, lebar 1,5 meter, dan terdiri dari 4 roda dengan menggunakan mesin truk Toyota Dyna P 100. (h/rki).

 

 





Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com
BERITA TERKAIT

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM