Belasan Bangunan di Sikakap Rusak karena Gempa


Rabu, 06 Februari 2019 - 12:31:13 WIB
Belasan Bangunan di Sikakap Rusak karena Gempa Ilustrasi (net)

MENTAWAI, HARIANHALUAN.COM—Pascagempa beruntun yang melanda Mentawai pada Sabtu 2 Februari, Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Sikakap, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat (Sumbar merilis data sementara bahwa setidaknya terdapat 15 rumah warga, satu gereja, dan satu bangunan kelas SDN 02 Taikako yang rusak akibat guncangan gempa.

Menurut Camat Sikakap, Fransiskus Sakeletuk, data sementara dari 15 rumah yang rusak tersebut, 11 rumah di antaranya retak-retak, beberapa lainnya mengalami lantai turun, empat atap rumah jatuh ke lantai, satu gereja di Dusun Sikautek rusak berat, serta SDN 02 Taikako juga rusak.

Baca Juga : Lima Orang Lagi Ditangkap Terkait Kasus Pencurian Toko Plastik di Bukittinggi, Total Ada 7 Tersangka

“Untung bangunan SD itu setengah permanen,” kata Fransiskus, Senin (4/2), sebagaimana dilansir dari okezone.com.

Pendataan tersebut dilakukan oleh Camat Sikakap Fransiskus Sakaletuk, Kapolsek Sikakap Iptu Hendri, Danramil Sikakap Kapten INF Putra Damanik, dan Kamla Sikakap Peltu Dwi Wahyono pada Senin pagi. "Dari data sementara di Desa Taikako Kecamatan Sikakap dari 15 rumah, di Dusun Lajau Manai ada 11," ucapnya lagi.

Baca Juga : Ambroncius Nababan Ditangkap Bareskrim Polri Selasa Malam

Sementara itu, Kepala Dusun Lajau Manai, Sahrial Medis mengatakan, pascagempa Mentawai, membenarkan bahwa ada 15 rumah rusak di daerah tersebut. “Kerusakannya ada dinding yang retak, lubrik sapu-sapu atap jatuh kelantai, lantai rumah turun,” katanya.

Sedangkan pada salah satu gereja di Dusun Sikautek dengan luas 10 meter dan panjang 21 meter, terjadi kerusakan pada bagian menara depan. “Jemaat di sini ada 43 Kepala Keluarga (KK). Menara gereja rubuh akibat gempa keempat, di mana gempa itu sangat kencang kami rasakan," kata Ketua GKPM Dusun Sikautek, Desa Taikako, Kecamatan Sikakap, Trisno Sapalakkai.

Baca Juga : Bareskrim Polri Tetapkan Ambroncius Nababan Tersangka Rasis Terhadap Natalius Pigai

Jemaat Beribadat di Tenda

Sementara itu, masih pascagempa beruntun, Gereja Kristen Protestan di Mentawai (GKPM) Jemaat Kaute' Resort Sibaibai, Desa Taikako, Kecamatan Sikakap juga mengalami rusak parah. Ferdinan Salamanang, salah satu pendamping desa di Mentawai mengatakan, ia mengetahui gereja rubuh itu saat berkunjung ke Taikako pada Minggu 3 Februari 2019.

Baca Juga : Innalillahi, Dua Pemancing Tewas Terseret Arus Sungai

“Jemaat terpaksa menjalankan kebaktian minggu di halaman gereja dengan memakai tenda biru dan kursi-kursi dalam gereja dipindahkan ke luar,” kata Ferdinan.

Ferdinan menjelaskan, menurut keterangan warga, gereja tersebut rubuh pada pukul 17.59 WIB, saat gempa ketiga dengan magnitude 6 SR terjadi. Pada bagian depan gereja, menara gereja rubuh ke tanah.

“Bagian menara gereja itu yang rubuh dari bawah sampai ke atas, kemudian lantai gereja sudah retak dan terkelupas, tidak layak lagi dipakai. Tidak ada korban jiwa yang tertimpa berikut juga rumah di sekitar gereja itu tidak mengalami kerusakan,” sebutnya lagi.

Sikaute’ merupakan pemukiman baru setelah pada tahun 2010 lalu Mentawai dilanda gempa dan tsunami. Sebelumnya, penduduk setempat tinggal dekat dengan pantai. Pada 2004 saat gempa dan tsunami di Aceh, penduduk di daerah itu terkena imbas tsunami, kemudian pada tahun 2007 saat gempa, sebagian warga sudah mengungsi.

“Mereka baru relokasi mandiri sejak tahun 2010 lalu saat Mentawai di landa gempa dan tsunami,” katanya.

Jika dilihat jarak pusat gempa dengan lokasi gereja tersebut, memang begitu dekat sehingga bangunan tembok menjadi rusak karena guncangan gempa. Sementara itu hingga hari ini, warga yang sempat mengungsi sudah kembali ke rumah masing-masing dengan kondisi tetap waspada.

Sebelumnya diberitakan, sejak Sabtu 2 Februari lalu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat telah terjadi sebanyak 105 kali gempa yang menggoyang bumi Sumbar. Hasil analisis BMKG, gempa bumi dengan pusat Kepulauan Mentawai itu disebabkan aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia, tepatnya di zona Megathrust Segmen Pagai.

Kepala Seksi Data Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Padangpanjang, Ma'muri mengatakan, meski terjadi ratusan gempa, berdasarkan data yang ia himpun dari berbagai sumber, dampak gempa hingga saat ini hanya kerusakan ringan di Malakopa Pagai Selatan.

"Hanya kerusakan ringan saja, tidak berdampak terlalu parah. Satu bangunan Puskesmas di Sikakap rusak, dan satu unit mercusuar rubuh. " kata Ma’muri, Minggu (3/2) kemarin.

Ma'muri menyebutkan, dari 106 kali gempa yang tercatat itu, enam di antaranya bermagnitudo di atas 5 skala richter (SR), sedangkan sisanya berkekuatan di bawah 5 SR. "Memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, tampak bahwa gempa bumi yang banyak terjadi ini termasuk klasifikasi gempa bumi dangkal akibat aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia, tepatnya di zona Megathrust yang merupakan zona subduksi lempeng di Samudera Hindia sebelah barat Sumatra," katanya lagi.

Menurut Ma’muri, konvergensi kedua lempeng tersebut membentuk zona subduksi yang menjadi salah satu kawasan sumber gempa bumi yang sangat aktif di wilayah Sumatra. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi itu dipicu penyesaran naik (thrust fault).

Meski terjadi banyak kejadian gempa, Ma'muri berharap agar masyarakat Sumbar, terutama yang tinggal di wilayah pesisir pantai, agar tetap waspada dan tenang karena secara umum Sumbar memang identik dan rawan terhadap kejadian gempa.

"Mudah-mudahan dengan seringnya pelepasan energi atau gempa kecil-kecil itu, bisa mengurangi potensi terjadinya gempa yang besar. Namun, yang jelas masyarakat Sumbar yang tinggal di daerah rawan gempa tetap meningkatkan kewaspadaan karena gempa tidak bisa diprediksi," katanya lagi. (h/isq)

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]