Letjen Doni Monardo: Hukum Berat Pembabat Bakau


Kamis, 07 Februari 2019 - 22:51:17 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Letjen Doni Monardo: Hukum Berat Pembabat Bakau KEPALA BNPB-- Kepala BNPB Doni Monardo (kiri) dan Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit (kanan) saat menghadiri Rakor Mitigasi Penganganan Kebencanaan Sumbar di Auditorium Gubernur Sumbar, Kota Padang, Rabu (6/2). Dalam acara tersebut BNPB bersama BMKG menjelaskan kesiapsiagaan Sumbar menghadapi bencana alam. IRHAM

PADANG, HARIANHALUAN.COM — Keberadaan hutan atau pepohonan di sepanjang bibir pantai dinilai dapat meminimalisasi dampak gelombang tsunami. Oleh karena itulah, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen Doni Monardo meminta pemerintah daerah untuk menindak tegas para pembabat hutan bakau yang tumbuh di sepanjang bibir pantai.

"Belajar dari tsunami Selat Sunda, kami bisa melihat bahwa pepohonan yang ada di sepanjang pantai mampu menahan laju gelombang tsunami, sehingga kerusakan yang ditimbulkannya dapat diminimalisir. Saat saya mendengar hutan bakau di Sumbar oleh orang-orang tak bertanggung jawab, saya merasa sangat miris. Bagaimana tidak? Sumbar yang notabene adalah daerah dengan ancaman tsunami paling besar, hutannya yang bisa menjadi pelindung justru dibabat," katanya Doni Monardo saat menghadiri Rakor Mitigasi dan Penanganan Bencana Gempa dan Tsunami, di Aula Kantor Gubernur, Rabu (6/1).

Oleh karena itu, jenderal bintang tiga itu meminta pemerintah provinsi dan kabupaten/kota di Sumbar untuk bertindak tegas dan menghukum para pelaku pembalakan liar seberat-beratnya. Hal itu lantaran yang dirugikan dari tindakan tersebut tidak hanya satu pihak, melainkan keselamatan masyarakat Sumbar secara keseluruhan, terutama mereka yang tinggal di pesisir pantai.

Selain itu, untuk jangka panjang, ia menilai penanaman pohon-pohon yang mampu menahan serta mengurai gelombang tsunami adalah solusi yang paling tepat. Tidak hanya karena efektif, program ini juga tidak memakan biaya yang terlalu besar.

Doni mengatakan, pihaknya telah menyiapkan rencana untuk penanaman pohon-pohon besar di sepanjang garis pantai di Sumbar, di mulai dari kawasan pantai di sekitar Bandara Internasional Minangkabau (BIM). Sebab, BIM yang terletak tak jauh dari bibir pantai dipandang sangat rawan terdampak tsunami.

"Bayangkan kalau BIM yang punya posisi vital sebagai akses keluar-masuk Sumbar sampai hancur dihantam tsunami. Sudah pasti akses bantuan akan terputus. Hal ini jelas sangat besar dampaknya," katanya lagi.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa selain bakau ada beberapa tanaman lain yang dapat memecah gelombang tsunami, seperti cemara udang, palaka, pulai, mahoni, ketapang, beringin, dan lain sebagainya. Sementara pohon kelapa dan pinang dianggap tidak terlalu kokoh untuk menahan gelombang tsunami.

Doni pun kembali menegaskan, bahwa mitigasi bencana yang paling efektif adalah dengan kembali ke alam. “Sesuai pepatah Minang, alam takambang jadi guru. Masyarakat harus bersahabat dengan alam, bukan malah memusuhinya,” ucapnya menutup. (h/mg-dan)



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com
BERITA TERKAIT

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM