Tiket Pesawat Bikin Ekonomi Lesu


Senin, 11 Februari 2019 - 10:46:29 WIB
Tiket Pesawat Bikin Ekonomi Lesu Dokumentasi Haluan

PADANG, HARIANHALUAN.COM—Kenaikan harga tiket penerbangan domestik dan pemberlakuan bagasi berbayar oleh sejumlah maskapai, ditengarai menyebabkan terjadinya penurunan jumlah penikmat layanan transportasi “burung besi” tersebut. Selain memengaruhi usaha/jasa sektor wisata, pengamat menilai kondisi ini akan memicu kenaikan biaya hidup dan biaya produksi hingga mengurangi daya beli masyarakat.

General Manager (GM) Bandara Internasional Minangkabau, Dwi Ananda, tak menampik bahwa saat ini memang terjadi penurunan pergerakan penumpang dan pergerakan pesawat. “Untuk penurunan penumpang (load factor), masih berada di kisaran 30 persen. Sedangkan untuk pergerakan pesawat (frekuensi) mengalami penurunan hingga 20 persen dibanding tahun lalu,” kata Dwi Ananda kepada Haluan, Minggu (10/2).

Seiris dengan itu, District Manager Sriwijaya Air Padang, Yudo mengaku telah terjadi penurunan jumlah rata-rata penumpang per hari sekitar 15 persen akibat kenaikan harga tiket penerbangan. Namun begitu, hal itu tak lantas membuat Sriwijaya Air mengurangi frekuensi penerbangan dari atau menuju BIM.

"Saat ini, tingkat keterisian (load factor) kami hanya berkisar antara 80–85 persen, turun sekitar 15 persen dari sebelum harga tiket naik. Akan tetapi, bicara revenue, ada sedikit kenaikan walau tidak terlalu signifikan," kata Yudo kepada Haluan, Minggu (10/2).

Meski jumlah isian turun, sebut Yudo, dari segi frekuensi penerbangan ia mengaku tidak ada perubahan. Setiap hari, Sriwijaya Air tetap terbang sebanyak tiga kali, yakni dengan rute Padang (PDG) menuju Jakarta (CKG) sebanyak dua kali, dan Padang (PDG) menuju Medan (KNO) sebanyak satu kali.

Hal senada juga disampaikan District Sales Manager Citilink Padang, Jerrimiaz. Bahkan, terjadinya penurunan jumlah penumpang membuat pihaknya harus mengurangi frekuensi penerbangan yang semula berjumlah empat kali menjadi tiga kali per hari.

"Tingkat isian kami tetap stabil di angka 85 persen. Hanya saja memang kami harus membatasi jumlah penerbangan. Jika semula ada empat penerbangan per hari, yakni PDG–CGK sebanyak dua kali, PDG–HLP sebanyak satu kali, dan PDG–BTH sebanyak satu kali. Nah, sekarang untuk rute PDG–CKG kami batasi jadi satu kali saja," ujarnya.

Lebih lanjut ia mengungkapkan, terjadinya penurunan tingkat isian tak hanya terjadi lantaran kenaikan harga tiket penerbangan. Akan tetapi, juga karena saat ini penerbangan tengah memasuki masa low season, dan menurutnya hal itu lumrah terjadi setiap tahunnya.

Pengaruhi Segala Sektor

Atas keadaan itu, Pengamat Ekonomi Universitas Andalas (Unand), Syafruddin Karimi menilai, kenaikan harga tiket pesawat dan kebijakan bagasi berbayar akan membawa dampak yang luas terhadap perekonomian masyarakat. Sebab, penumpang pesawat datang dari berbagai kalangan, seperti untuk kepentingan pribadi mau pun untuk kepentingan bisnis.

"Karena datang dari berbagai kalangan, kenaikan harga pesawat dan bagasi berbayar pastinya membawa pengaruh. Ini memicu kenaikan biaya hidup dan biaya produksi. Kenaikan biaya hidup akan mengurangi daya beli. Selanjutnya, permintaan untuk barang dan jasa yang harganya meningkat, akan berkurang karena daya beli yang turun," papar Syafruddin.

Selanjutnya imbuh Guru Besar Ekonomi Unand itu, calon penumpang pesawat yang tidak dalam keadaan sangat terpaksa, tentu sementara waktu akan memutuskan untuk tidak bepergian menggunakan jasa penerbangan, sehingga banyak sektor ekonomi yang akan terpengaruhi oleh pembatalan rencana berpergian tersebut, terutama sekali sektor wisata.

"Bisnis airline sepertinya juga mulai merasakan dampaknya. Masak ada dalam pemberitaaan, pesawat Padang-Jakarta hanya diisi tiga penumpang. Apa ini tidak sama dengan bunuh diri dalam bisnis. Kita makin tidak paham mengapa semua ini terjadi dan tanpa ada perhatian serius dari pihak berwenang yang mengatur harga tiket," ucapnya.

Ia juga memandang, tingginya harga tiket pesawat dan kebijakan bagasi berbayar juga akan mengurangi belanja konsumen saat berkunjung ke suatu daerah, mau tidak mau hal itu akan berpengaruh pada industri kecil menengah, karena kurangnya permintaan atas produksi yang dihasilkan.

"Kenaikan harga tiket pesawat dan bagasi yang berbayar akan menciptakan krisis yang tidak perlu. Saya mohon ada kepedulian bisnis airline terhadap stabilitas ekonomi bangsa ini. Kita mohon juga pemerintah sebagai regulator segera mengendalikan bisnis airline agar kembali pada harga yang pantas," tutupnya.

Sementara itu, kalangan DPRD Sumbar ikut meminta agar lonjakan harga tiket pesawat yang terjadi beberapa waktu belakangan menjadi perhatian di DPR RI. Kementerian Perhubungan semestinya dipanggil untuk mencari solusi atas persoalan ini.

Anggota Komisi IV DPRD Sumbar, Rafdinal menyampaikan, seharusnya harga tiket pesawat tidak semahal saat ini, karena momen tahun baru dan libur sekolah sudah lewat. "Ini sudah isu nasional. Jadi harus disikapi pemerintah sebagai pengatur regulasi. Bukan persoalan kaya tidak kaya, ini berkaitan dengan kebutuhan masyarakat yang ingin cepat," kata Rafdinal.

Hal senada juga disampaikan Ketua Fraksi PDI Perjuangan, PKB, dan PBB, Albert Hendra Lukman. Ia menyebutkan, dengan berbagai pertimbangan yang ada pada perusahaan penerbangan, mereka memang punya hak menetapkan besaran harga tiket. Namun demikian, ia berharap kenaikan harga jangan terlalu tinggi sehingga membebani konsumen.

Sementara itu, anggota Komisi IV DPRD Sabar AS meminta Asosiasi Maskapai Dalam Negeri atau Indonesia National Air Carrier (INACA), untuk melakukan rapat dengan sejumlah unsur mencari jalan keluar persoalan ini. "Ini merupakan masalah serius dan berdampak buruk terhadap sejumlah sektor, " ujarnya.

Dia menambahkan, tingginya harga tiket pesawat akan mempengaruhi iklim perekonomian, di mana sektor pariwisata akan lesu serta tingkat hunian hotel akan rendah. Seperti diketahui, sektor pariwisata merupakan salah satu unggulan Provinsi Sumbar dan banyak memberikan kontribusi terhadap pengembangan daerah.

Dalam keprihatinan itu, ia menilai mesti ada langkah serius dari pemerintah daerah mencari jalan keluar. Mahalnya tiket penerbangan dinilai juga akan mengganggu iklim investasi, di mana para investor akan berpikir ulang untuk menanamkan modal di Sumbar. "Permasalahan ini jangan sampai berlarut larut, mesti ditanggapi serius oleh pihak terkait," tukasnya.

Tinjau Ulang Bagasi Berbayar

Permintaan untuk meninjau ulang kebijakan bagasi berbayar yang diambil sejumlah maskapai penerbangan juga menjadi perhatian oleh kalangan DPRD Sumbar. Wakil Ketua DPRD Sumbar, Arkadius Datuak Intan Bano mengatakan, pemberlakukan bagasi berbayar akan membebani penumpang. Sebab saat bawaan banyak, kebijakan itu bisa membuat harga bagasi penumpang lebih mahal dari harga tiket yang dibeli.

Ia menambahkan, maskapai memang punya hak untuk menghapuskan layanan bagasi cuma-cuma, tetapi semua itu tentu akan sangat mengganggu bagi konsumen. Politisi Partai Demokrat itu menilai, penerapan bagasi berbayar juga sangat berdampak terhadap pengembangan pariwisata. Wisatawan yang memiliki rencana tinggal lebih lama dipastikan membayar bagasi dengan harga lebih mahal, sebab barang yang mereka bawa juga akan lebih banyak dibanding hanya berkunjung dalam waktu singkat.

"Kita memang tidak bisa mengintervensi kebijakan yang diambil maskapai, tapi hendaknya ini ditinjau lagi. Jika tetap dilanjutkan, orang-orang akan meninggalkan maskapai yang memberlakukan kebijakan itu," katanya Arkadius.

Sementara itu, Sekretaris Komisi IV DPRD Sumbar, Taufik Hidayat menuturkan, kalau dilihat dari sisi bisnis, maskapai memang punya hak untuk menerapkan bagasi berbayar, tetapi jika dilihat dari sisi konsumen, hal itu jelas sangat memberatkan. "Harapan kami, hendaknya maskapai mengakomodir kebutuhan konsumen, kalau semuanya bayar, susah juga jadinya," tutur Taufik. (h/len/mg-dan/mg-pic)



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com
BERITA TERKAIT

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Sabtu, 04 Mei 2019 - 18:33:08 WIB

    Harga Tiket Masih Tinggi, Tingkat Kunjungan ke Sumbar Turun 20 Persen

    Harga Tiket Masih Tinggi, Tingkat Kunjungan ke Sumbar Turun 20 Persen PADANG, HARIANHALUAN.COM - Masih tingginya harga tiket pesawat saat ini makin mempengaruhi kunjungan di Bandara Internasionla Minangkabau (BIM). Dibanding tahun 2018 lalu, penurunan kunjungan tahun ini dari dan ke BIM sekitar.
  • Selasa, 19 Februari 2019 - 10:41:23 WIB

    Upaya Dorong Kebijakan Harga Tiket, APPSI Tunggu Presiden di Sumbar

    Upaya Dorong Kebijakan Harga Tiket, APPSI Tunggu Presiden di Sumbar PADANG, HARIANHALUAN.COM—Sumatera Barat ditunjuk menjadi tuan rumah Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI) Tahun 2019. Iven yang digelar di Hotel Grand Inna Padang pada 20–2.
  • Selasa, 22 Januari 2019 - 11:55:39 WIB

    Harga Masih Fluktuatif, Tiket Pesawat Pengaruhi Perjalanan Dinas

    Harga Masih Fluktuatif, Tiket Pesawat Pengaruhi Perjalanan Dinas PADANG, HARIANHALUAN.COM — Sebagian besar maskapai penerbangan sepakat menurunkan harga tiket penerbangan yang sempat membubung di awal 2019. Namun dalam penerapannya, masih terjadi fluktuasi harga di mana harga tiket sewak.
  • Kamis, 11 Agustus 2016 - 12:42:56 WIB

    Kontingen Pospeda Pasaman Raih Tiket ke Banten

    Pasaman, Haluan — Alhamdulillah, santri-santri pondok pesantren Pasaman mengukir tinta emas diajang Pospeda tingkat Sumatera Barat tahun 2016 di kota Padang..
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM