16 KABUPATEN/KOTA RENTAN

Tanah Sumbar Terus Merekah


Selasa, 05 Maret 2019 - 10:41:31 WIB
Tanah Sumbar Terus Merekah Ilustrasi (net)

SOLSEL, HARIANHALUAN.COM—Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumbar, setidaknya 400 jiwa masih bertahan di 120 titik pengungsian pascagempa Solok Selatan 28 Februari 2019. Berdasarkan dampak yang ditimbulkan, tampak realitas bahwa ancaman gempa darat sama seriusnya dengan potensi Mentawai Megathrust yang telah menjadi perhatian sejak lama.

Peneliti Sejarah Gempa Sumbar, Yose Hendra, kepada Haluan menyebutkan, Sumbar memang dihadapkan pada realitas berada di atas tanah yang terus merekah. Kenyataan ini menuntut agar upaya mitigasi bencana tak hanya fokus menanggulangi potensi Megathrust yang telah menjadi perhatian pemerintah sejak tingkat pusat.

Baca Juga : Pantauan Perkembangan Virus Corona di Sumbar: Positif 204, Sembuh 99, dan Meninggal Dunia 3 Orang

“Potensi gempa darat sama seriusnya dengan Megathrust, mau tidak mau perhatian yang diberikan, terutama untuk persiapan prabencana, juga harus sama besarnya. Dari 19 kabupaten/kota yang ada, hanya Payakumbuah, Tanah Datar, dan Dharmasraya yang sedikit lebih aman dari ancaman rekahan tanah akibat gempa darat zona sesar Sumatera. Selebihnya rentan. Hidup di Sumbar memang hidup di tanah yang terus merekah," kata Yose, Senin (4/3).

Solsel pada 28 Februari 2019 memang menjadi pengingat bahwa Sumatera Barat memang dalam ancaman serius gempa tektonik. Tak hanya berasal dari laut (subduksi) dan sesar Sumatera yang telah diketahui, tetapi juga dari patahan-patahan yang belum terpetakan.

Baca Juga : Pasca Oknum Pegawai Lapas Terlibat Narkoba, Kalapas Bukittinggi Gelar Razia dan Bentuk Tim Khusus

Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menemukan, pemicu gempa di Solok Selatan diduga berasal dari percabangan (splay) dari Sesar Besar Sumatra (The Great Sumatra Fault Zone), mengingat lokasi episenter gempa ini terletak sejauh 49 kilometer di sebelah timur jalur Sesar Besar Sumatra tepatnya dari Segmen Suliti.

Kepala Bidang Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Dr. Driyono mengatakan, hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa ini dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan mendatar (strike-slip).

Baca Juga : Aksi Pencurian Kotak Amal di Dharmasraya Ini Terekam CCTV

"Jika memperhatikan peta geologi di lokasi episenter, tampak terlihat adanya pola kelurusan yang berarah barat laut tenggara. Mengacu orientasi ini maka dapat dikatakan bahwa mekanisme gempa Solok Selatan ini berupa sesar geser dengan arah pergeseran menganan (dextral-strike slip fault)," katanya Jumat (3/1).

Episenter gempa terletak pada koordinat 1,4 LS dan 101,53 BT, atau tepatnya berlokasi di darat pada jarak 36 kilometer arah timur laut Padang Aro kedalaman 10 kilometer.(h/shq)

Baca Juga : Pemerintahan Kecamatan IV Jurai Lakukan Vaksinasi Covid-19

 

 

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]