PENYALURAN JAMAK TAK SESUAI PERUNTUKAN

BBM Warga sumbar Direnggut Jeriken


Senin, 11 Maret 2019 - 13:56:25 WIB
BBM Warga sumbar Direnggut Jeriken Antrean di SPBU (Dokumentasi Haluan)

PADANG, HARIANHALUAN.COM - Antrean mengular telah jadi pemandangan biasa di setiap Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), terutama SPBU yang masih menyediakan BBM jenis premium yang sangat diminati warga karena harga yang lebih murah. Namun celakanya, tak sedikit pelanggaran aturan penjualan premium yang masih terjadi. Pembiaran terjadi seolah tanpa solusi, sehingga penyaluran premium kerap tak sesuai peruntukan.

Salah seorang warga Lagan, Kecamatan Linggo Sari Baganti, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) berinisial D (24), mengaku sangat kesal melihat praktik penjualan premium di SPBU Lagan yang ia yakini menyalahi aturan. Hampi setiap hari secara terang-terangan, ia dan pelanggan BBM lain melihat pengelola SPBU Lagan memfasilitasi beberapa unit mobil pick-up yang datang membawa puluhan jeriken untuk mendapatkan BBM berbagai jenis.

Baca Juga : Cara Mengatasi Bau Mulut, Banyak Minum Air Putih saat Berbuka

“Sudah pemandangan biasa. Seperti sekarang, satu mobil merek colt membawa puluhan jeriken setinggi gunung yang ditutupi terpal ke SPBU. Petugas SPBU mengisi penuh jeriken itu. Sementara di pompa lain, puluhan kendaraan masyarakat mengantre untuk mendapatkan BBM. Ini saya rasa tidak sesuai aturan. Saya kira ini alasannya di SPBU Lagan BBM cepat habis,” kata DV kepada Haluan, Rabu (6/3).

D berharap, para pemangku kepentingan terkait penyaluran BBM bagi masyarakat menindaklanjuti praktik yang sangat meresahkan masyarakat tersebut. Ia pun menyebutkan, banyak orang berpengaruh di daerah itu yang diam, karena diduga mendapatkan keuntungan pribadi dari praktik penjualan BBM yang menyalahi aturan tersebut.

Baca Juga : Hadiri Wirid di Perumda AM Padang, Hendri Septa Ajak Tingkatkan Kepedulian

“Orang yang bagak (berani.red) saya dengar sudah dapat jatah dari aktivitas di SPBU ini. Makanya tidak ada yang berani komplain. Untuk di SPBU ini, mobil yang datang bawa puluhan jeriken ini kadang mengisi premium, pertalite, bahkan kadang solar juga,” sebutnya lagi.

Hal senada disampaikan warga berinisial IP (30) di Kota Padang beberapa waktu lalu. Ia mengaku pernah ditawari oleh salah seorang petugas SPBU di kawasan Khatib Sulaiman, untuk membawa jeriken sebanyak-banyaknya untuk diisi BBM dengan tawaran khusus.

Baca Juga : Pemko Padang Gelar Bimtek PPRG Tahun 2021

“Waktu itu saya bawa satu jeriken ke SPBU karena mobil di rumah habis bensin. Saat itu saya ditanya, apa ini untuk dijual. Saya jawab iseng memang untuk dijual. Lalu ditawari untuk bawa lebih banyak jeriken dengan syarat bayar Rp5 ribu per jeriken kepada petugas itu. Bahkan sebelumnya, teman saya yang jual minyak ketengan (eceran) ngaku juga pernah beli premium di SPBU itu, dengan syarat bayar Rp10 ribu per jeriken. Tapi sekarang SPBU itu sepertinya tidak ambil premium lagi,” kata IP.

Menyikapi keresahan masyarakat, kalangan DPRD Sumbar meminta agar pihak-pihak terkait melakukan pengawasan yang lebih ketat terhadap penjualan BBM bersubsidi di SPBU, termasuk untuk penjualan yang menggunakan jeriken, demi menghindari kecurangan dan antrean mengular yang berakibat pada kelangkaan BBM.

Baca Juga : Pandemi Belum Reda, Warga Padang Takut Berobat ke Puskesmas

Anggota Komisi III DPRD Sumbar, Yulfitni Djasiran berharap agar Pertamina melakukan pengawasan secara lebih baik, sehingga tidak ada pembelian BBM bersubsidi yang melanggar aturan. "Jika ada yang membeli dengan jeriken, harus ada surat pengantarnya. Kemudian berapa kali sehari yang dibolehkan, tidak boleh di luar itu. Kalau tidak diawasi, ini akan merugikan masyarakat," ujar Yulfitni.

Ia menambahkan, pihak Pertamina diyakini memiliki otoritas untuk melakukan pengawasan dalam hal ini. Sedangkan untuk SPBU yang tidak bisa menaati aturan, harus bisa diberi sanksi yang salah satunya dalam bentuk mencabut izin operasionalnya.

"Jika pertamina akan mengizinkan juga pengisian dengan jeriken, sediakan saja satu SPBU khusus untuk itu. Pasalnya, bisa dilihat di SPBU-SPBU, memang kerap penuh dan antre karena ada yang ngisi pakai jeriken," katanya lagi.

Anggota DPRD Sumbar yang lain dari Fraksi PKS, Mockhlasin juga menuturkan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penjualan BBM bersubsidi. Pertama, pengguna tidak boleh dari kalangan yang mampu atau yang memiliki mobil di luar kualifikasi layak menerima BBM bersubsidi.

"Orang-orang bermobil ini kan rata-rata orang berpunya, tapi tidak sedikit mereka yang rela ngantre hanya untuk mendapatkan premium. Sementara bahan bakar yang ada itu kan bukan premium saja, makanya terjadi antrean," tuturnya.

Selain adanya kalangan mampu yang masih berbondong-bondong menggunakan BBM bersubsidi, menurutnya hal lain yang juga sering memicu terjadinya antrean memang pembelian BBM menggunakan jeriken yang kerap menyalahi aturan.

"Untuk yang membeli dengan jeriken, itu harus punya rekomendasi dari dinas terkait. Kalau orangnya datang tanpa surat rekomendasi, kemudian dilayani, ini memang bisa menyebabkan antrean. Penegakan hukum harusnya jalan di sini, baik dari pertamina atau kepolisian," tutupnya.

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]