PANGLIMA TNI DI SUMBAR

Ulama, Santri, dan Ponpes Adalah Benteng NKRI


Jumat, 15 Maret 2019 - 10:51:49 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Ulama, Santri, dan Ponpes Adalah Benteng NKRI Panglima TNI Masekal, Hadi Tjahjanto bersama Kapolri Jenderal Tito Karnavian menghadiri kuliah umum di Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB), Kota Padang, Kamis (14/3). Irham

Sementara itu, Ketua Yayasan Pesantren Nurul Yakin, Idarussalam mengatakan, Pesantren Nurul Yakin merupakan salah satu pasantren salafiah yang saat ini masih mempelajari kitab-kitab klasik. Ia mengaku amat senang dengan kesediaan kunjungan Panglima TNI dan Kapolri ke ponpes tersebut.

"Alhmdulillah, hingga saat ini kami masih mempelajari kitab-kitab lama sesuai dengan apa yang dipelajari oleh ulama terdahulu. Saat ini di Sumbar, Pesantren Nurul yakin sudah memiliki 20 cabang yang tersebar di beberapa kabupaten/kota," katanya.

Di UNP, Ajak Akademisi Rawat NKRI

Sementara itu, Saat kunjungan ke Universitas Negeri Padang (UNP), Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan, Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dengan keberagaman suku, budaya, bahasa, dan agama. Potensi besar dan bisa hidup berdampingan dengan toleransi yang tinggi itu perlu dirawat dari pengaruh dan potensi yang dapat memecah belah.

“Ini merupakan nikmat tuhan yang paling besar bagi Bangsa Indonesia. Meski beragam, tetap masih bertahan semenjak 1945 hingga sekarang dengan segala kekurangannya,” kata Kapolri Jenderal Tito Karnavian, di hadapan ribuan peserta Konaspi ke-IX di Auditorium UNP Kamis (14/3).

Tito juga membandingkan kondisi ketentraman di Indonesia yang dihuni oleh 714 suku dan 1.100 bahasa, hal yang jauh berbeda dibanding Afganistan yang hanya memiliki tujuh suku, tetapi mengalami perang saudara hingga 40 tahun lebih. “Tentunya kita bertanya, nikmat tuhan yang mana lagi yang akan kita dustakan,” ujarnya.

Untuk Indonesia, katanya, dengan berbagai perbedaan yang besar itu, mengandung potensi konflik. Namun, dari sekian banyak perbedaan yang mengandung potensi konflik, agama mengandung potensi konflik paling besar, karena kerap mengaatasnamakan Tuhan. “Dengan kondisi seperti itu, perlu dicari jalan keluar agar agama tidak ikut menimbulkan potensi konflik,” ujarnya.

Di kancah internasional sendiri, sebutnya, Indonesia menjadi negara seksi dengan potensi terbesar keempat di dunia. Bahkan di Asia Tenggara, posisi Indonesia sangat diperhitungkan dibanding negara lainnya.

“Saat ini, kondisinya berada di tengah dua negara Adidaya, Amerika Serikat dan China. Di mana Indonesia tengah diperebutkan oleh dua kekuatan ini. Namun, kita masih bisa ikut kedua kekuatan ini, tapi harus pintar-pintar dan jangan mau diatur, seperti orang Aceh atau orang Minang lah,” katanya di depan Panglima TNI, Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno, dan Rektor UNP, Prof Ganefri.

Tantangan ke depan, katanya, bagaimana untuk menjaga stabilitas keamanan terutama memasuki tahun politik. Selain itu, akademisi juga diharapkan akan memberikan sumbangan bidang ekonomi dan pendidikan untuk memajukan Indonesia. “Dengan meningkatnya edukasi dan ekonomi, maka Indonesia akan dipenuhi SDM produktif. Bonus demografi pada 2045 akan menjadi modal besar untuk menjadi negara kuat,” ungkapnya.

Sementara itu, Rektor UNP Prof Ganefri mengatakan, kunjungan Panglima TNI dan Kapolri merupakan sejarah bagi UNP dan Sumbar. Apalagi, UNP juga tengah menggelar Konvensi Pendidikan Nasional Indonesia (Konaspi) ke-IX, yang dihadari oleh 12 LPTK se-Indonesia. “Isu-isu yang kuat diduga akan memecah belah diharapkan akan dapat disampaiakan di LPTK yang hadir,” ucapnya. (h/mg-hen/isr)



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com
BERITA TERKAIT

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM