Intensitas Kiriman Terus Meningkat, Sumbar Siap-siap Terima Asap


Rabu, 20 Maret 2019 - 12:34:09 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Intensitas Kiriman Terus Meningkat, Sumbar Siap-siap Terima Asap Ilustrasi

 Kami mengimbau masyarakat untuk menghindari aktivitas pembakaran, apakah itu membakar sampah, jerami, apalagi lahan. Kemudian jika kabut terlihat semakin tebal, gunakanlah masker bila ingin ke luar rumah. Khususnya bagi anak-anak yang paling rentan terkena dampak. (KEPALA SEKSI DATA DAN INFORMASI GAW KOTOTABANG, MANAP)

PADANG, HARIANHALUAN.COM—Telah lebih dari sepuluh hari kabut asap melayang-layang di langit Sumatera Barat. Stasiun Pemantau Atmosfer Global atau Global Atmosphere Watch (GAW) Kototabang memperkirakan, bahwa intensitas kabut asap kiriman dari Riau tersebut akan semakin meningkat dalam dua hingga tiga hari ke depan.

"Kabut asap yang melanda Sumbar saat ini berasal dari beberapa titik api yang terpantau di Riau. Dari informasi terakhir yang kami dapat, ada sekitar 15–20 titik api yang menyebabkan munculnya partikel-partikel yang mengandung asap. Nah, angin dari arah timur laut kemudian membawa partikel-partikel tersebut menuju Sumbar dan menyebabkan Sumbar dilanda kabut asap," kata Kepala Seksi Data dan Informasi GAW Kototabang, Manap kepada Haluan, Selasa (19/3).

Ia menyebutkan, berdasarkan pantauan alat kualitas udara BAM 1020 Particulate Monitor pada 18 Maret 2019 pukul 00.00 sampai 23.00 WIB, didapati bahwa kandungan partikel PM10 di Sumbar telah mencapai kategori sedang atau sudah di atas 50 μg/m3.

"Dalam sepuluh hari terakhir, nilai PM10 yang kami pantau terus meningkat secara signifikan, bahkan sempat mencapai 75 μg/m3. Artinya, ketebalan kabut asap di Sumbar akan terus bertambah, setidaknya dalam dua atau tiga hari ke depan," tuturnya.

Manap mengatakan, pada awalnya kabut asap di Sumbar hanya muncul pada pagi hari dengan intensitas yang tidak terlalu tinggi dan akan menghilang dengan sendirinya pada siang hari. Namun, seiring dengan meningkatnya kandungan PM10 di udara dalam beberapa hari terakhir, kabut asap menjadi semakin terlihat jelas, bahkan justru hingga sore menjadi semakin tebal.

Salah satu penyebabnya, kata Manap, karena Indonesia tengah berada dalam musim kemarau. Apalagi, angin yang melewati wilayah Sumbar tidak bergerak dalam kecepatan tinggi. Sehingga menyebabkan kabut asap tidak bergerak menjauh dan akan terus berputar-putar di langit Sumbar.

"Kami memperkirakan kabut asap ini baru akan benar-benar menghilang ketika sudah masuk musim penghujan, mungkin sekitar April atau Mei," ucapnya.

Oleh sebab itu, ia mengimbau masyarakat Sumbar siaga kabut asap. Dengan semakin meningkatnya akumulasi PM10 dari hari ke hari, maka jelas masyarakat patut waspada. "Paling utama kami mengimbau masyarakat untuk menghindari aktivitas pembakaran, apakah itu membakar sampah, jerami, apa lagi lahan. Kemudian jika kabut terlihat semakin tebal, gunakanlah masker bila ingin ke luar rumah. Khususnya bagi anak-anak yang paling rentan terkena dampak kabut asap," ujar Manap.

“Tetangga” Berselimut Asap

Sementara itu, BMKG telah mencatat adanya 156 hotspot atau titik panas di Riau berdasarkan pantauan satelit, Selasa (19/3) sore. Titik panas itu tersebar di 11 kabupaten dan kota di provinsi tetangga itu. Banyaknya titik panas mengindikasikan kebakaran hutan dan lahan masih luas, sehingga berdampak pada munculnya kabut asap. Kota Dumai paling parah diselimuti kabut asap dengan jarak pandang hanya empat kilometer.

"Kebakaran menyebabkan visibility (jarak pandang) di Kota Dumai hanya empat kilometer," kata prakirawan atau Forecaster on Duty BMKG Stasiun Pekanbaru, Sanya Gautami, sebagaimana dikutip dari okezone.com.

BMKG menyebutkan, hotspot terpantau di Kabapaten Bengkalis sebanyak 38 titik, Kabupaten Kepulauan Meranti 29 titik panas. Kemudian di Kabupaten Kampar ada dua titik. "Di Kota Dumai yang diselimuti asap terpantau 16 titik, Kabupaten Pelalawan 37 titik dan Kabupaten Siak terdeteksi ada tujuh hotspot," ujarnya.

Titik panas juga terdeteksi 17 titik di Kabupaten Rokan. Di Kabupaten Rokan Hulu ada dua titik, Kabupaten Indragiri Hilir ada tiga titik. Sedangkan di Pekanbaru terpantau satu hotspot dan Kabupaten Indragiri Hulu ada empat titik. Hanya Kabupaten Kuansing tidak ditemukan titik panas.

Jumlah titik panas sore ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan tadi pagi banyak hanya terpantau 86 titik. Provinsi Riau saat ini sudah berstatus darurat kabut asap. Sepuluh helikopter dan satu pesawat sudah dikerahkan membantu penanggulangan kebakaran hutan dan lahan.

Sejauh ini, luasan lahan yang terbakar diperkirakan juga terus meluas. Saat ini, diketahui, 2.038 hektare lahan di Provinsi Riau terbakar. Angka itu terhitung sejak Januari hingga saat ini. Dampaknya, kabut asap mulai menyelimuti beberapa daerah, terutama di Rengat; Kabupaten Inhu; Pangkalan Kerinci; Pelalawan; dan Pekanbaru.

"Paling luas di Kabupaten Bengkalis yang mencapai seribu empat puluh lima koma empat puluh tiga hektare dan didominasi di daerah Pulau Rupat," ujar Kepala BPBD Riau, Edwar Sanger, Selasa (19/3) sebagaimana dilansir oleh jawapos.com.

Hingga kini, kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) masih terus terjadi di Riau. Tim Satgas Karhutla baik yang di darat maupun udara masih melakukan upaya pemadaman. Terutama di wilayah pesisir seperti Bengkalis, Dumai, Rokan Hilir dan Meranti, hingga Kota Pekanbaru dan Kampar. Untuk di Rokan Hilir, luas lahan terbakar tercatat hingga 294 hektare.

Di Dumai, luasnya mencapai 146 hektare; Kepulauan Meranti mencapai 216.4 hektare; dan Siak 139.75 hektare. Sementara di Pelalawan luasnya mencapai 46 hektare; Indragiri Hilir 66.1 hektare; dan Indragiri Hulu 31.5 hektare.

Edwar menjelaskan, kebakaran lahan di sejumlah daerah tersebut sebagian sudah padam. Namun, untuk di beberapa daerah lain api justru masih menyala dan juga timbul kebakaran lahan yang baru terjadi. "Daerah yang masih terjadi kebakaran lahan di antaranya Rokan Hilir; Dumai; Bengkalis; Siak; Pekanbaru; Kampar; dan Indragiri Hilir," sebutnya.

Upaya pemadaman karhutla dengan melibatkan TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni dan masyarakat masih terus berlangsung. Pemadaman tidak hanya dilakukan oleh tim darat, tetapi juga diperkuat operasi pengeboman air dengan melibatkan 11 helikopter. Baik dari pemerintah maupun bantuan pihak swasta. (h/mg-dan) 



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com
BERITA TERKAIT

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM