Kasus Penganiayaan Santri di Tanah datar Dilimpahkan


Kamis, 21 Maret 2019 - 09:58:26 WIB
Kasus Penganiayaan Santri di Tanah datar Dilimpahkan Sekelompok orang yang mengatasnamakan diri sebagai Alumni PPM Nurul Ikhlas melakukan aksi unjuk rasa di depan Mapolda Sumbar, menuntut percepatan pengusutan kasus penganiayaan berujung kematian salah satu santri di PPM Nurul Ikhlas, Tanah Datar, Rabu (20/3). PERI MUSLIADI

Sebelum pelimpahan berkas tahap I, kami telah lakukan sejumlah proses, mulai dari pemanggilan puluhan saksi dan melakukan pra rekontruksi atas kasus kekerasan terhadap anak di bawah umur di Tempat Kejadian Perkara (TKP), tepatnya di asrama Musa, PPM Nurul Ikhlas. (IPTU KALBERT, KASAT RESKRIM POLRES PADANG PANJANG)

PADANG, HARIANHALUAN.COM—Puluhan orang yang mengatasnamakan Alumni Pondok Pesantren Modern (PPM) Nurul Ikhlas, berunjuk rasa di depan Mapolda Sumbar, Rabu (20/3). Pendemo meminta Kapolda Sumbar mendesak penyelesaian kasus penganiyaan berujung kematian terhadap Robi Alhalim  oleh 17 santri di asrama pesantren itu. Di sisi lain, Polres Padang Panjang menyatakan berkas kasus itu telah dilimpahkan ke Kejari Padang Panjang pada Senin 18 Maret.

Koordinator aksi, Haprizal Rozi dalam orasinya mengatakan, mereka yang tergabung dalam aksi unjuk rasa itu merupakan bagian dari alumni PPM Nurul Ikhlas Padang Panjang, dan mewakili keluarga korban guna mendesak Kapolda Sumbar mengambil alih penanganan kasus kekerasan berujung kematian tersebut.

"Kami dari alumni dan mewakili keluarga korban, meminta Kapolda mengambil alih kasus pembunuhan ini. Jika Kapolda tidak ada komitmen dalam pekan ini, maka kami akan lapor ke Mapolri. Karena kami ingin masalah ini selesai secara objektif," kata Haprizal.

Ia mengatakan, saat ini proses penyidikan yang dilakukan oleh jajaran Polres Padang Panjang sudah berjalan lebih dari satu bulan, tapi hingga kini, proses hukumnya belum sampai ke kejaksaan. Sedangkan terhadap 17 pelaku yang merupakan santri PPM Nurul Ikhlas, juga tidak dilakukan penahanan. Padahal perbuatan mereka telah menyebabkan korban meninggal dunia.

"Selain mendatangi Mapolda, kami juga akan mendatangi kantor Gubernur Sumbar dan menghadap Dinas pendidikan, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumbar, Kejaksaan Tinggi Sumbar," sebutnya.

Menanggapi aksi unjuk rasa itu, Kabid Humas Polda Sumbar, Kombes Pol Syamsi menyebutkan, penanganan kasus kekerasan terhadap Robi Alhalim hingga hari ini tetap dilakukan oleh Polres Padang Panjang.

"Proses penanganan kasusnya masih di Polres Padang Panjang. Diharapkan pengunjuk rasa mempercayakan saja kepada penyidik. Tentu mereka akan melakukan proses penyidikan secara profesional," ucap Syamsi.

Ia juga mengatakan, penyidik pasti memiliki pertimbangan untuk tidak melakukan penahanan terhadap pelaku. Salah satunya mungkin karena memertimbangkan pelaku notabene masih tergolong anak di bawah umur dan masih belajar di pondok pesantren tersebut.

Sedangkan di Padang Panjang belum ada penahanan khusus bagi anak. Lalu juga ada permintaan orang tua agar anak mereka tidak ditahan. Dalam penanganan kasus pidana, sudah ada prosedurnya. Jadi, tidak bisa dikatakan penyidik lambat dalam menyelesaikan kasus. Karena ada pemeriksaan saksi, pelaku, dan alat bukti," katanya menutup.

Berkas Sudah Dilimpahkan

Sementara itu di tempat terpisah, Kasat Reskrim Polres Padang Panjang, AKP Kalbert Jonaidi menyatakan bahwa berkas perkara tahap satu, kasus kekerasan terhadap santri di PPM Nurul Iklas, Kecamatan X Koto, Tanah Datar, telah dilimpahkan penyidik kepada Kejaksaan Negeri (Kejari ) Padang Panjang pada Senin 18 Februari lalu untuk ditindaklanjuti.

“Berkas tahap satu telah kami limpahkan ke Kejari Padang Panjang Senin 18 Februari lalu untuk ditindaklanjuti. Saat ini kami masih menunggu petunjuk dari Kejari untuk tahap dua,” kata Kasat Reskrim Polres Padang Panjang, AKP Kalbert J saat dikonfirmasi pada Rabu (20/3).

Kalbert menyebutkan, sebelum pelimpahan berkas tahap I, penyidik telah melakukan sejumlah proses hukum, mulai dari pemanggilan terhadap puluhan saksi dan melakukan pra rekontruksi atas kasus kekerasan terhadap anak di bawah umur di Tempat Kejadian Perkara (TKP), tepatnya di asrama Musa, PPM Nurul Ikhlas.

“Kasus kekerasan terhadap anak dibawah umur ini telah dilakukan rekontruksi secara tertutup. Tidak hanya itu, penyidik juga telah melakukan pemanggilan terhadap sejumlah saksi-saksi, khususnya dari pihak ponpes, untuk dimintai keterangan atas kejadian itu,” tutur Kalbert.

Kasat Reskrim juga menjelaskan, kekerasan yang dilakukan secara belurang sehingga menyebabkan korban meninggal dunia ini diduga dilakukan oleh 17 rekannya sesama santri, pada hari Kamis 7 Februari, Jumat 8 Februari, dan Minggu 10 Februari 2019.

“Sebelum meninggal, korban sempat dilarikan ke RSUD Padang Panjang untuk mendapatkan pertolongan medis. Namun, karena cidera berat yang diderita, korban dirujuk ke RSUP M. Jamil Padang untuk penanganan lebih lanjut. Setelah dirawat di Padang, nyawa korban pun tidak tertolong lagi. Korban dioutopsi sebelum disemayamkan di rumah duka di Nagari Koto Laweh, Kecamatan X Koto, Tanahdatar,” kata Kalbert J. (h/pis/mg-pmi)

 




Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com
BERITA TERKAIT

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM