Sempat Bekerja di Ladang, WNA Asal Uganda Diamankan Petugas Imigrasi Agam


Kamis, 21 Maret 2019 - 22:06:42 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Sempat Bekerja di Ladang, WNA Asal Uganda Diamankan Petugas Imigrasi Agam Kasi Wasdakim Deny Haryadi bersama WNA asal uganda  Abdulrashid Mitala, di Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Agam. Gatot

BUKITTINGGI, HARIANHALUAN.COM--Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Agam, mengamankan satu orang Warga Negara  Asing (WNA) asal Uganda yang berdomisili di Nagari Gadut Kecamatan Tilatang Kamang, Kamis (21/3).

Kepala Imigrasi Kelas II Non TPI Agam melalui Kasi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian (Wasdakim) Deny Haryadi mengatakan, petugas Imigrasi mengamankan  WNA asal Uganda  itu setelah mendapat informasi yang berkembang dari masyarakat,  tentang penduduk asing yang baru berdomisili di wilayah Nagari Gadut.

WNA asal Uganda  atas nama Abdulrashid Mitala itu,  datang ke wilayah Agam sekitar 3 bulan yang lalu dan ditampung dirumah warga atas nama  Ustad Arafig suku Jawa.. Sebelum datang ke wilayah Agam, awalnya WNA yang datang dari Urganda ke Indonesia,   karena anak dan istrinya dibunuh dan takut akan dirinya terncam dibunuh, maka WNA tersebut  lari menyelamatkan diri ke Indonesia.

Sesampai di Indonesia (Medan)  kata Deny,   Abdulrashid  melanjutkan perjalanan perjalanan hingga sampai  ke wilayah Surabaya. Ketika berada di Surabaya, ia  juga telah melangsungkan pernikahan  secara resmi dengan warga suku Jawa.

“Kami juga belum mengetahui pasti bagaimana ia bisa sampai ke wilayah Agam.  Namun demikian, selama ditampung dirumah Ustad Arafig di Nagari Gadut, Abdulrashid membantu mengerjakan ladang milik ustad, sambil menunggu donasi dana untuk ongkos pulang ke Surabaya,” ujar Deny.

Menurut Deny, setelah diamankan dan dilakukan pemeriksaan terhadap yang bersangkutan, ternyata yang bersangkutan pemegang surat pencari suaka yang dikeluarkan oleh United Nations High Commissioner For Refugees (UNHCR), yang masa berlakunya telah abis pada 10 Januari 2019.

Dalam surat UNHCR ini ungkap Deny, menyatakan bahwa yang bersangkutan telah mendaftarkan diri untuk mendapatkan status pengunggsi di Indonesia, sehingga yang bersangkutan menjadi perhatian dari UNHCR, dan secara khusus mendapatkan perlindungan  dari ancaman pendeportasian  paksa ke negara asal yang bersangkutan, tempat dimana kehidupan dan kebebasannya terancam.

“Karena satatusnya UNHCR, maka kita hanya melakukan pemerikasaan  sambil menunggu jawaban  surat dari UNHCR terkait status yang bersangkutan, apakah masih sebagai pengungsi atau permohonannya di tolak. Apabila permohonan status pengungsinya ditolak oleh UNHCR, maka kasus yang bersangkutan adalah Imigratoir, yaitu imigrasi yang diproses karna sudah dinyatakan sebagai pengungsi,” tutur Deny. (h/tot)

 

 



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com
BERITA TERKAIT

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM