Hutan Produksi di Pasbar Dirambah Lagi


Rabu, 27 Maret 2019 - 14:26:55 WIB
Hutan Produksi di Pasbar Dirambah Lagi Ilustrasi (haluan)

PADANG, HARIANHALUAN.COM—Kasus perambahan hutan produksi kembali terjadi di Sumatera Barat. Kali ini, tepatnya di kawasan hutan produksi di Nagari Aia Bangih, Kecamatan Sungai Beremas, Kabupaten Pasaman Barat. Kejadian perambahan hutan produktif di Pasbar merupakan kejadian berulang yang telah berkali-kali diingatkan dan ditindak

"Sebenarnya, kasus perambahan hutan produksi ini bukan kali pertama terjadi di Sumbar. Bahkan di Pasbar, kami juga sudah pernah inspeksi beberapa tahun yang lalu, dan menemukan kasus yang sama. Sudah kami tindak, sudah kami ingatkan, tetapi tetap diulangi," kata Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Sumbar, Yozwardi Usama Putra, kepada Haluan, Selasa (26/3).

Yozwardi mengatakan, perambahan hutan yang terjadi beberapa hari yang lalu itu saat ini tengah diproses oleh pihak Polres Pasaman Barat. Pelakunya, kata Yozwardi, adalah masyarakat sekitar dan beberapa orang yang datang dari luar Aia Bangih. Sebagian besar perambahan bertujuan untuk membuka ladang pertanian.

“Beberapa hari lalu, Polres Pasbar juga mengamankan satu unit alat berat yang digunakan untuk merambah hutan itu. Saat ini, kami sedang mendata siapa saja yang melakukan perambahan, serta berapa luas hutan yang dirambah. Setelah didata, dan terbukti melanggar peraturan perundang-undangan, akan langsung kami proses sesuai aturan hukum yang berlaku," ucapnya lagi.

Yozwardi melanjutkan, awal pekan lalu, Dishut Sumbar bersama Pemkab Pasbar telah melakukan sosialisasi kepada oknum masyarakat yang diduga melakukan perambahan hutan produksi di Aia Bangih.

"Sebenarnya mereka sudah paham bahwa memasuki, apa lagi merambah hutan produksi, dilarang oleh hukum. Tetapi di sisi lain, mereka mengaku selama ini sangat bergantung pada hutan tersebut sebagai sumber penghidupan," katanya.

Ancaman Deforestrasi

Dikutip dari bbc.com, Hutan Sumatera dan Hutan Kalimantan termasuk dalam 11 wilayah di dunia yang berkontribusi terhadap lebih dari 80% deforestasi (pengundulan hutan) secara global hingga tahun 2030. Data tersebut dirilis oleh organisasi lingkungan WWF Indonesia, beberapa waktu lalu.

Laporan yang merupakan bagian terakhir dari WWF Living Forest Report, menyebutkan lebih dari 170 juta hektar hutan diperkirakan akan hilang sepanjang 2010-2030, jika laju deforestasi tidak dihentikan.

Direktur Program Hutan WWF Internasional, Rodney Taylor menyebutkan, sejumlah ancaman deforestasi di wilayah-wilayah tersebut dalam kurun waktu sampai 2030, antara lain disebabkan pembukaan lahan pertanian.

"Pertanian kemungkinan merupakan ancaman terbesar bagi hutan, kadang untuk peternakan, pertanian skala besar untuk kedelai dan kelapa sawit, tetapi juga pelanggaran yang dilakukan petani kecil atau orang membuka kebun atau ladang kecil ini yang kita sebut sebagai kolonialisasi, juga untuk penebangan kayu yang berkelanjutan seperti ilegal logging, perkebunan yang menghasilkan bubur kertas, juga tambang," kata Taylor.

Dalam laporannya WWF memperkirakan, sedikitnya lima juta hektar hutan terancam hilang pada 2030, dengan tutupan hutan di kawasan Kalimantan, termasuk di wilayah Indonesia, Malaysia dan Brunei, hanya akan tersisa kurang dari seperempat pada 2020 dibanding luas saat ini, jika terjadi pembiaran deforestasi.

Menyikapi itu, Direktur Kebijakan dan Transformasi WWF Indonesia, Budi Wardhana mengatakan, meski angka deforestasi di Indonesia selama pengamatan 10 tahun terakhir ini menurun, tetap saja ada kecenderungan meningkat.

"Rata-rata selama 10 tahun kita mengumpulkan data deforestasi di Indonesia lebih banyak terjadi di kawasan yang tidak untuk ditujukan bagi kehutanan, sebagian besar untuk tujuan perkebunan infrastruktur, jadi bukan hal-hal yang berkaitan dengan pembangunan kehutanan," jelas Budi.

WWF memperkirakan peningkatan pertanian skala kecil juga akan menjadi penyebab utama deforestasi di Indonesia. Data WWF menyebutkan, 42% perkebunan sawit dikelola petani skala kecil, dan 80% dari jumlah tersebut merupakan petani swadaya yang tidak terkait dengan pengusaha serta cenderung merambah kawasan lindung atau area yang menurut peraturan tidak diperuntukkan untuk budidaya sawit.

Penelitian WWF selama 10 tahun menunjukkan laju deforestasi di hutan produksi juga cukup tinggi dan 13% kawasan lindung dan konservasi yang ikut terdeforestasi yang kemungkinan disebabkan karena minimnya pengawasan. (h/mg-dan)



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com
BERITA TERKAIT

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM