TRADISI ORANG MINANG MENGINTAI MALAM QADAR


Jumat, 31 Mei 2019 - 20:37:54 WIB
TRADISI ORANG MINANG MENGINTAI MALAM QADAR Dr. Drs. M. Sayuti Dt. Rajo Pangulu, M.Pd  (Ketum Pucuk Pimpinan LKAAM Sumbar)

Dr. Drs. M. Sayuti Dt. Rajo Pangulu, M.Pd 
(Ketum Pucuk Pimpinan LKAAM Sumbar)
 

 

TRADISI orang Minangkabau mengintai malam qadar sudah ditanamkan oleh orang tua-tua dahulu. Setelah Ramdhan masuk orang tua – tua dulu sudah memberi aba- aba kepada anak cucu kemenakan melalui malin adat. Aba – aba itu adalah bahwa kita semua anak cucu kemenakan di nagari ini yang berbadan sehat supaya bersiap-siap mengintai malam qadar. Karena malam qadar adalah malam yang amat mulia. Kemuliaannya adalah lebih baik dari seribu bulan. Terlihat di sini kata – kata sehat. Rupanya orang tua – tua dulu tau kalau kita tidak sehat sulit beribadah  secara sempurna. Oleh karena orang tua – tua dulu selalu berdoa yang berbunyi dalam ungkapan adat, hendaknya kita seluruh anak cucu kemenakan, umua panjang ateh sehat, razaki banyak ateh halal atau ‘umur panjang atas sehat, rizki banyak atas halal’. Itulah sekilas doa orang tua – tua kita dulu di Minangkabau. Tradisi mengintai malam qadar ini tidak akan terlaksana dengan baik dan mendekati sempurna jika badan tidak sihat, ekonomi pun tidak kuat. Sampai sekarang menyapa kawan yang ditanya itu biasanya adalah, “ …. (Bapak, Mamak, Uda, Ongah, Uncu, Aciak) lai (ada)  sehat – sehat saja?”Muncul pertanyaan itu sering ditemui  baik di dunia nyata ataupun di dunia maya. Rupanya yang utama dijawab dalam tradisi sapaan orang Minang adalah ‘sehat’.  

Tradisi itu terlihat pada kedatangan malam qadar. Kedatangan malam qadar dinyalakan lampu buluah ‘bambu’ yang pakai ruas dan buku. Ruas buluah itu diberi lubang sebanyak 27 yang mencerminkan diperkirakan malam qadar itu masuk di anatar malam ganjil. Tetapi orang tua – tua dulu cendrung mengintai malam qadar itu pada malam ke 27. Bambu yang sudah dilubangi tadi diberi sumbu dengan kain berisi minyak tanah. Sehingga malam 27 itu kampung terlihat terang benderang yang ditarok di atas pagar depan rumah masing-masing di kampung yang bersangkutan. Tradisi ini sebagian besar masih dilaksanakan oleh anak nagari di Minangkabau. Falsafahnya adalah, walaupun malaikat tak butuh lampu terang benderang, tetapi begitulah orang Minang meminta malaikat naik ke rumahnya. Mereka mengharap mendapat rahmat dan nikmat dari malaikat dengan izin Allah dengan menyalakan lampu 27.  

Tradisi mengintai malam qadar itu dapat juga diambil dari Kitab Perukunan Melayu diterbitkan oleh Yayasan Sosial dan Penelitian Islam, tidak ditulis nama pengarang dan diterbitkan oleh MA. Jaya Jakarta tanpa tahun terbit, halaman 43, yang menyebutkan kemungkinan malam qadar yang diteliti oleh Sekh Abu Al Hasan sejak dia balig sampai meninggal dunia dan terus didapatinya malam qadar itu. Kemudian Imam Al-Ghazali  dan kawan kawannya mengamalkan pendapat Sekh Abu Al-Hasan sekaligus mengintai malam qadar juga hampir selalu ditemuinya malam qadar. Sehingga Imam Al-Ghazali berpendapat   “bahwasanya telah diketahui lailatul qadar itu dengan awal ramadhan, jika awal ramadhan ahad  atau arba’a maka diintai malam kesembilan likur (malam kedua puluh sembilan). Jika awal ramadhan senin maka diintai malam kedua puluh satu. Jika awal ramadhan selasa atau jumat maka diintai pada malam kedua puluh tujuh. Jika awal  ramadhan itu kamis maka diintai malam kedua puluh lima. Jika awal ramadhan itu sabtu maka diintai malam kedua puluh tiga. Jadi, kalau kita lihat pendapat Imam Al-Ghazali ini terlihat pada malam ganjil diintainya, yaitu malam ke 21, 23, 25, 27, dan 29. Pendapat ahli lainnya mengatakan, bahwa malam qadar itu diintai sepuluh malam terakhir ramadhan, dan dianjurkan untuk banyak-banyak itikaf di masjid. Karena malam qadar itu malam yang amat mulia, malam ampunan,baik dari seribu bulan,hapus segala dosa, malaikat turun ke bumi sampai terbit fajar dengan izin Allah ta’ala.   

Shalat yang dilakukan pada malam-malam ganjil tersebut di atas adalah, selesai shalat Isha beserta shalat sunatnya awal dan akhir dilakasanakan shalat tarwih. Shalat tarwih ini ada pilihan rakaatnya. Ada rakaatnya 8 shalat tarwih tambah 3 rakaat shalat witir jumlahnya 11 rakaat. Ada rakaatnya 20 ditambah shalat witir 3 rakaat jumlahnya 23 rakaat. Khusus malam ganjil tersebut dilaksanakan shalat sunat ‘lailatul qadar’ sebanyak 4 rakaat. Niatnya, aku shalat sunat lailatul qadar empat rakaat karena Allah Ta’ala, Allahu Akbar. Selesai doa iftitah dan baca surat alfatiha maka dibaca surat at-takasur/surat ke 102 sampai akhir satu kali langsung baca surat al-ikhlas / surat ke 112 hingga akhir sebanyak tiga kali berturut-turut, begitu seterusnya keempat rakaatnya dengan satu takbiratul ihram dan satu salam. 

Malam 27 ramadhan selesai shalat Isha dan shalat sunat lainnya, shalat tarwih, shalat witir dan shalat lailatul  qadar seperti tersebut di atas dilanjutkan dengan shalat istna‘ashyara (shalat 12) rakaat. Pelaksanaannya, pasang niat, aku shalat sunat dua belas rakaat karena Allah ta’ala, Allahu Akbar. Selesai baca doa iftitah dan fatiha dibaca surat al-qadr/surat ke 97 satu kali sampai akhir, dilanjutkan membaca surat al-ikhlas sebanyak 15 kali, begitu sampai sebanyak 12 rakaatnya, dengan satu takbiratul ihram dan satu salam, (Hadist Nabi Muhammad SAW). Anjuran Imam Al Ghazali juga Imam Abdul Kadir Jailani sebaiknya shalat pada malam ganjil tersebut dilaksanakan pukul 12 malam atau tengah malam ke atas. Jadi lama kita mengintai malam qadar itu lebih kurang 5 jam hingga jangan tidur semalam itu dan berakhir dengan shalat subuh. Hitungan matematikanya membaca surat al ikhlas 3x4 shalat sunat lailatul qadar sama dengan 12 kali. Shalat sunat istna‘ashyara (shalat 12) rakaat membaca surat al ikhlas 12 rakaat x 15 surat al ikhlas sama dengan 180 kali membaca surat al ikhlas. Imam syafii, menganjurkan pelaksanaan shalat sunat sebaiknya tengah malam ke atas. Shalat sunat tarwih 23 rakaat tambah  shalat sunat lailatul qadar 4 rakaat tambah shalat istnah‘asyara  12 rakaat, terkhir witir 3 rakaat dilakukan dengan pelan dan bersenang senang. Selesai semua shalat sunat itu dilakukan sesuai dengan tartib shalat seperti tersebut di bawah ini, tak lama segera subuh masuk. Shalat witir dilaksanakan tetap terakhir. Sahur disarankan ditiadakan malam ganjil itu cukup minum air saja boleh tambah makanan ringan tidak mengandung gas. Dulu tradisi orang tua – tua kita di Minang membawa beras rendang lamak tidak mengandung gas sehingga wuduknya lama bertahan). Kalau wuduk bertahan di tempat duduk tentu intaian malam lailatul qadar sakijok indak parnah lalai - sadatiak bapantang lengah atau ‘sekejap tidak pernah lalai – sedetik berpantang  lengah’. Semakin tinggi konsentrasi, ikhlas, khusu’ dan tawadu’ kita kepada Allah semakin besar pula  kemungkinan mendapat malam qadar, Insya Allah.
 
Diterangkan pula dalam hadist Nabi Mummmad SAW faedahnya, barang siapa melakukan syalat sunat di atas, maka: (1) mudah rohnya keluar waktu sakratal maut; (2) lepas dari azab kubur; (3) diberi Allah ta’ala nur dan mahligai dalam surga yang sangat menyenangkan; (4) Doanya dikabulkan Allah sesuai permintaannya; (5) Senang hidupnya di dunia dan di  akhirat.    

Tartib mengintai malam qadar ini menurut Buya Engku Imam Salam Sitiung (1974), antara lain adalah: (1) harus suci dari hadas kecil dan hadas besar (berwuduk tak boleh putus); (2) konsentrasi penuh hanya kepada Allah SWT; (3) Dianjurkan menyendiri di rumah ibadah (rumah Allah).  Penjelasannya, Nabi Muhammad SAW menerima wahyu dan malam qadar di tempat yang sepi. Gua Hirak adalah tempat yang sepi. Tak punya kawan dan tak punya lampu, istri, keluarga, harta, sahabat, jabatan, rumah ditinggalkannya sementara; (4) dianjurkan lampu tidak terlalu terang benderang agar tidak pecah konsentrasi; (5) membaca magfira, membaca tasbih, tahmid, takbir, tahlil, membaca Alquran, dan salawat kepada Nabi Muhammad SAW masing-masing  ribuan kali sampai fajar; (6) Rumuskan doa dengan baik, jelas, dan tepat sasaran kepada Allah SWT. Penjelasannya, karena waktu qadar hanya sekejap mata. Dianjurkan pula jangan lupa banyak - banyaklah  Zakat – Infak – Sedekah (ZIS) malam –malam ganjil itu. 

Guru saya Engku Kadirun ahli baca kitab kuning di daerah batang hari Sungai Dareh (1974), mengatakan kepada kami muridnya di Surau Dt. Angku Kuat Kuaso Batang Hari di Nagari Sipangkua, Kab. Dharmasraya, bahwa malam qadar itu ditandai siang hari terlihat mendung, malam hari terasa sejuk, kemudian dalam waktu sekejap seluruh makhluk baik yang bernyawa ataupun yang berpucuk tunduk melata semuanya, air pun beku hanya saja dalam waktu tidak lama dari sekedip mata. Malam itu tidak boleh tidur. Jika kita tertidur sekedip mata saja maka sulitlah kita mendapatkannya. Itulah tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah yang tak terhingga dilihatkan-Nya malam qadar itu. Ada pula tradisi  orang memasukan kakinya ke dalam air sungai atau air laut untuk merasakan air beku. Tradisi lainnya ada orang meletakan air di gelas ditarok di depannya untuk menandai air beku, wallahu ‘alam bissawaf. Cara menghitung rakaatnya kalau sulit mengingatnya ada orang tua-tua dulu mentradisikan pakai batu kerikil putih sebesar jagung, setiap rakaat berakhir dipisahkan dari tumpukannya. Ada pula tradisi orang tua – tua dulu kalau batu shalat lailatul qadar itu di tanam bersama tumbuh-tumbuhan, maka buahnya akan lebat dengan izin Allah. 

Namun kita sebagai umat cinta Islam dan rajin beramal, tidak boleh patah semangat. Malam qadar itu hak kita, harus kita intai terus pada sepuluh malam terakhir, karena malam qadar itu pasti datang, walaupun tidak kita dapati. Kata guru saya Engku Imam Djamal di suraunya (1970), umpama orang-orang duluan makan dari kita; makannya enak, nasi panas, sambal baru, sayur segar mudo-mudo, kemudian kita datang, sekurang kurangnya kita dapat juga makan walaupun orang-orang sudah duluan. Yang pasti kita dapat makan. Seperti itu permisalannya bahwa kita harus optimis malam qadar itu setidak tidaknya ada sekitar  kita mungkin waktu datangnya duluan atau kemudian ketika kita lengah sekejap mata atau tertidur sekejap mata atau hilang kendali amal sekejap mata. Hanya orang wali Allah atau orang karamatullah yang diperioritaskan dapat malam qadar atau orang yang mendapat hidayah yang akan dapat malam qadar. Walaupun kita tidak menemukan pas sekedip mata, kita harus berjuang dan terus itikaf di Masjid ditamakan atau di Surau, di rumah juga dapat dilakukan pada tempat yang dikhususkan asal tidak ada yang mengganggu kosentrasi ibadah kita. Semoga doa kita langsung diijabah Allah Subhanahu wata’ala, 

Keistimewaan malam qadar itu kata guru saya Engku Khatib Bakar Koto Baringin (1974), antara lain adalah: Jika sekejap mata itu kita dapati, maka semua doa dan permintaan kita dikabulkan Allah langsung secara nyata. Tidak ada keredit permintaan, tidak ada tunggakan keingnan, tidak ada cicilan doa, semua permintaan, keinginan, dan  doa dibayar tunai oleh  Allah Subhanahu wata’ala malam itu, Allahu Akbar.

Editor: DNJ  
 





Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com
BERITA TERKAIT

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Jumat, 14 Juni 2019 - 22:51:30 WIB

    'Ratik Tagak' Tradisi Adat Sikaladi yang Masih Terjaga

    'Ratik Tagak' Tradisi Adat Sikaladi yang Masih Terjaga HARIANHALUAN.COM-Unik dan sudah ratusan tahun turun-temurun,  itulah cara dan tradisi yang dilaksanakan masyarakat Jorong Sikaladi Nagari Pariangan, Kecamatan Pariangan Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat dalam menyambut '.
  • Rabu, 31 Oktober 2018 - 23:48:09 WIB

    Menjaga Tradisi Tenun dari Kolong Rumah Gadang

    Menjaga Tradisi Tenun dari Kolong Rumah Gadang Pada Sabtu siang yang terik, sekelompok wanita berbincang, sambil sesekali melepas gelak tawa di bawah kolong rumah gadang di Desa Lunto Timur, Kecamatan Lembah Segar, Kota Sawahluto. Bunyi ketukan monoton alat tenun dari bal.
  • Sabtu, 02 Juli 2016 - 03:25:52 WIB
    Di Kabupaten Agam

    Bantai Berantam, Tradisi Jelang Lebaran yang Tak Pernah Lekang

    Bantai Berantam, Tradisi Jelang Lebaran yang Tak Pernah Lekang Indak takicok dinan anyia. Demikian sebuah ungkapan orang tua-tua di berbagai tempat di Kabupaten Agam terhadap keluarga miskin yang tidak pernah atau jarang memakan daging hewan, entah itu daging sapi, kerbau atau daging kam.
  • Sabtu, 18 Juni 2016 - 07:22:40 WIB

    Tradisi Mudik Masyarakat Urban

    Tradisi Mudik Masyarakat Urban Beberapa hari ke depan, umat muslim tampak jelas mempersiapkan diri untuk pulang ke kampung halaman. Pulang ke kampung halaman merupakan moment yang dinanti-nanti kedatangannya. Bahkan, momen ini menjadi tradisi setiap tahun .
  • Selasa, 24 Mei 2016 - 05:40:54 WIB
    Perajin Balango Galogandang

    Tradisi dari Generasi ke Generasi

    Tradisi dari Generasi ke Generasi Ratusan periuk dan kuali tanah terhampar berjejer di depan sebuah pondok. Sementara di dalamnya, seorang wanita setengah baya dan satu perempuan tua, tampak sedang menikmati kegiatan mereka ‘bergelut’ dengan tanah liat. T.
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM