Inventarisasi dan Identifikasi Sebaran, Upaya Mewujudkan Rumah Gadang dalam Kesatuan Basis Data


Jumat, 21 Juni 2019 - 22:50:23 WIB
Inventarisasi dan Identifikasi Sebaran, Upaya Mewujudkan Rumah Gadang dalam Kesatuan Basis Data Rumah Gadang. dok.Dafriansyah Putra

Oleh: Dafriansyah Putra

RUMAH Gadang, tidak hanya menjadi identitas masyarakat Minangkabau yang sarat akan makna dan filosofi, namun juga menjadi salah satu bentuk sumber daya budaya yang memiliki signifikansi; dari sisi arsitektur, teknis struktur, maupun lansekap wilayah. Kekhasan yang ada pada Rumah Gadang menjadi representasi pencapaian manusia pada masa silam dalam upaya memenuhi kebutuhan primer. Manusia pada saat itu tidak lagi sekadar berusaha mempertahankan hidup (survive) akan tetapi telah tumbuh kesadaran ekspresif. Terjadi loncatan besar dalam penciptaan wujud artistik yang melibatkan pemikiran, pengolahan dan pengerjaan dalam bentuk Rumah Gadang, sebagai ruang hunian yang dilingkupi berbagai maknawi dan hakikat khas Minangkabau.

Kelangkaan dan keunikan yang dimiliki pada masing-masing Rumah Gadang itulah menjadi nilai yang membuat Rumah Gadang mesti senantiasa dilindungi. Kondisi saat ini, keberadaan Rumah Gadang semakin berkurang, dari sisi kualitas maupun kuantitas. Banyak faktor yang menjadi pemicu. Dari sisi internal bangunan: komponen bangunan yang mengalami pelapukan dan kerusakan, kesulitan mencari bahan. Juga dari sisi eksternal: gencarnya pembangunan berorientasi modern, cara pandang terhadap Rumah Gadang yang kian rendah. Serta merta menjadikan Rumah Gadang mengalami degradasi secara fisik dan dekadensi dari sisi nilai.

Pelindungan Rumah Gadang sebagai bentuk sumber daya  budaya  di  dalam  suatu  kawasan  haruslah  didukung  oleh  kegiatan inventarisasi dan identifikasi. Pendokumentasian perlu sesegera mungkin dilakukan sebelum terjadinya aspek-spek yang dapat menyebabkan perubahan keasliannya. Belum terinventarisasi keseluruhan sebaran bangunan Rumah Gadang menjadi salah satu tantangan yang mesti segera disikapi. Dampaknya, ketidaktersediaan data inventaris secara langsung maupun tidak langsung akan kian melemahkan eksistensi Rumah Gadang secara kualitas dan kuantitas.

Rumah Gadang pada dasarnya tidak semata menjadi perwujudan karya adiluhung pencapaian manusia dalam membangun peradaban. Ditilik dari latar historis, Rumah Gadang betapa raya akan kekuatan cerita dan begitu kaya akan sejarah yang melatarbelakanginya. Sedangkan dari sisi kerupaan, Rumah Gadang hadir dalam berbagai bentuk wujud artistik yang tumbuh dari kesadaran ekspresif dari masa ke masa. Sejatinya hal tersebut betapa menarik untuk dipelajari dan dimaknai.

Pengimplementasian dalam berbagai ruang lingkup kekinian merupakan salah satu bentuk pengembangan ekspresif sebuah Rumah Gadang. Dalam berbagai upaya meningkatkan dan memperkaya objek pemajuan kebudayaan, selayaknya Rumah Gadang sebagai peninggalan budaya sedapat mungkin mempertahankan keaslian dari sisi bentuk, bahan, maupun metode pengerjaan. Hal ini identik dengan upaya adaptasi. Namun, kondisi yang kerap luput, pengembangan Rumah Gadang tidak lagi melalui tahap perencanaan yang menjunjung tinggi keaslian. Dari sisi teknik dan arsitektur, kerap ditemukan strukutur dan komponen Rumah Gadang berbaur ke dalam rupa masif: pembangunan pondasi, penggantian papan dengan bata, penambahan keramik, dsb. Sehingga nilai alam, metode pembangunan yang sarat nuansa kearifan lokal, dan segala bentuk karakter yang melekat dan kentara sebagai bahan pembentuk Rumah Gadang, kini tidak lagi identik dan menjadi impresif dari suatu perwujudan kelokalan.

Menapak Jejak Rumah Gadang Nagari Cubadak

Berjarak sekitar sembilan kilometer dari Batusangkar, Ibukota Kabupaten Tanah Datar, dan berkisar 100 kilometer dari Kota Padang, Ibukota Provinsi Sumatera Barat. Sebuah wilayah, sarat hamparan sawah nan menyejukkan mata. Adalah Nagari Cubadak, wilayah yang terdiri dari dua Jorong: Cubadak dan Supanjang. Siapa duga, di sini masih terjaga karya adiluhung nenek moyang dalam memenuhi kebutuhan ruang: dalam wujud Rumah Gadang. Sebaran Rumah Gadang di Nagari yang terletak di dataran rendah dengan ketinggian rata-rata 650 meter dari permukaan laut ini memiliki 15 bangunan, yang terdiri atas tujuh Rumah Gadang di Jorong Cubadak dan delapan Rumah Gadang di Jorong Supanjang.

Pada mulanya Rumah Gadang dibangun secara gotong royong yang dipimpin oleh niniak mamak dengan menghimpun potensi kaum yang ada. Kemudian Rumah Gadang akan dimiliki secara turun temurun dengan cara diwariskan. Hingga kini, meski terdapat beberapa yang lapuk dan tidak terawat akibat tidak lagi ditempati, masih terdapat Rumah Gadang yang dihuni dan kadangkala dimanfaatkan sebagai tempat perhelatan adat, seperti kegiatan pengangkatan datuk, tempat bermusyawarah pemangku adat, silaturahmi anak kemenakan, dan pesta pernikahan. Dalam berbagai wujud aktivitas, Rumah Gadang  masih menjadi simbol kekerabatan kaum sebagai media untuk mewariskan nilai-nilai adat.

Pada umumnya Rumah Gadang di Nagari Cubadak telah berusia lebih dari 100 tahun. Terdapat keberagaman secara fisik bangunan yang terlihat dari jumlah gonjong, posisi tangga dan pintu masuk, anjuang dan ukiran/ornamen yang menghiasi bangunan. Berdasarkan bentuk konstruksinya pun memiliki beberapa tipologi. Keseluruhan Rumah Gadang umumnya terbuat dari kayu dengan gaya dan ukuran yang beragam. Bentuk dasarnya berupa persegi panjang dengan konstruksi bangunan yang mengembang ke atas. Pada beberapa komponen Rumah Gadang ada yang telah dilakukan perbaikan maupun penambahan. Seperti perubahan tangga kayu menjadi tangga semen. Perubahan juga terlihat pada penambahan material baru seperti: penambahan kaca, plafon, cat maupun keramik. Penambagan serambi. Tidak hanya pada bangunan Rumah Gadang, perubahan atau modifikasi yang paling terlihat adalah perubahan lingkungan atau lansekap. Konsep keaslian keruangan pemukiman tradisional Minangkabau sudah mengalami degradasi dan tidak begitu jelas terlihat. Banyak Rumah Gadang di dalam kawasan yang  tertutup oleh bangunan baru. Perubahan ini terjadi karena beberapa faktor seperti pergeseran cara hidup masyarakat, kebutuhan akan ruang hunian baru, material arsitektur asli yang sulit untuk dicari, dan lain sebagainya. Perubahan ini juga dipicu oleh meningkatnya jumlah penduduk berdasarkan sumber dari BPS Kabupaten Tanah Datar, pada tahun 2009 jumlah penduduk Nagari Cubadak berjumlah 2.653 jiwa, pada tahun 2017 terdata sebanyak 3.193, dan pada tahun 2018 bertambah menjadi 3.288 jiwa.

Belum terangkumnya basis data sebaran Rumah Gadang adalah menjadi kegelisahan bersama. Upaya inventarisasi dan identifikasi sebaran bangunan Rumah Gadang menjadi solusi yang sesegera mungkin mesti dilaksanakan. Dengan mengetahui jumlah Rumah Gadang, maka akan teridentifikasi dan termonitor secara statistik kondisi kualitas dan kuantitas Rumah Gadang. Sehingga dapat menjadi data dasar guna menyusun upaya pelestarian tinggalan budaya.

Menjadi dambaan bersama tentunya, menyaksikkan bangunan Rumah Gadang senantiasa terlestari, tonggaknya masih kokoh berdiri, dinding papannya tetap tersusun rapi, gonjongnya terus menjulang tinggi. Sehingga anak-cucu kita nanti, di halamannya pun terlihat asyik berlari-lari. Bahagia menikmati hari. Dan, selamanya.... Rumah Gadang akan terus menjadi saksi. Sepanjang tumbuhnya generasi demi generasi. Semoga...

 


 Editor : DNJ


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM