Aspidum Kejati DKI Jakarta Ditetapkan KPK Sebagai Tersangka Suap


Sabtu, 29 Juni 2019 - 20:58:24 WIB
Aspidum Kejati DKI Jakarta Ditetapkan KPK Sebagai Tersangka Suap Jumpa pers KPK tetapkan Asisten Pidana Umum (Aspidum) Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, Agus Winoto (AWN) tersangka terkait dugaan suap penanganan perkara. (Kompas.com)

JAKARTA,HARIANHALUAN.COM-- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Asisten Pidana Umum (Aspidum) Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, Agus Winoto (AWN) tersangka terkait dugaan suap penanganan perkara di Pengadilan Negeri Jakarta Barat Tahun 2019.

"KPK meningkatkan status penanganan perkara ke penyidikan dan menetapkan Asisten Pidana Umum Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, Agus Winoto (AWN) tersangka," ujar Wakil Ketua KPK Laode M Syarif dalam jumpa pers di Gedung KPK, Jakarta, Sabtu (29/6/2019) dikutip cnnindonesia.

Baca Juga : Tampar Supir Truk, Ketua DPRD Pasaman Barat Dipolisikan

Selain Agus, KPK juga menetapkan dua tersangka lainnya yakni Pengacara, Alvin Suherman (AVS) dan Sendy Perico (SPE).

Agus sebagai penerima, disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Baca Juga : Apes! Kebut-kebutan, Rombongan Moge Dihadang Paspampres

Sedangkan, Alvin dan Sendy sebagai pemberi disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Penetapan tersangka ini merupakan pengembangan dari operasi tangkap tangan KPK pada Jumat (28/6) sore. 
Dalam operasi senyap itu KPK menangkap lima orang. Mereka adalah dua pengacara yakni Sukiman Sugita (SG) dan AVS pengacara, dan Ruskian Suherman (RSU) dari pihak swasta. 
Dua orang lainnya berasal dari Kejaksaan Tinggi DKI yakni Kasubsi Penuntutan Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta Yadi Herdianto (YHE) dan Kasi Kamnegtibum TPUL Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta Yuniar Sinar Pamungkas (YSP) 
Kasus ini bermula ketika SPE melaporkan pihak lain yang menipu dan melarikan uang investasinya sebesar Rp11 miliar. 
Sebelum tuntutan dibacakan, kata Syarif, SPE dan AVS telah menyiapkan uang untuk diserahkan kepada Jaksa Penuntut Umum, yang diduga untuk memperberat tuntutan kepada pihak yang menipunya. 
Namun saat proses persidangan masih berlangsung, SPE dan pihak yang ia tuntut sepakat berdamai. 
"Setelah proses perdamaian rampung, pada 22 Mei 2019, pihak yang dituntut meminta kepada SPE agar tuntutannya hanya satu tahun," kata Syarif.

Baca Juga : Polda Sumbar Kerahkan Ditreskrimsus Kaji Unsur KKN pada Kasus Dugaan Penyelewengan Dana Covid-19

AVS kemudian melakukan pendekatan kepada Jaksa Penuntut Umum melalui seorang perantara. 
"Sang perantara menginformasikan kepada AVS bahwa rencana tuntutannya adalah selama dua tahun. AVS kemudian diminta menyiapkan uang Rp200 juta dan dokumen perdamaian jika ingin tuntutannya berkurang menjadi satu tahun," ujar Syarif.

Selanjutnya AVS dan SPE menyanggupi permintaan itu dan berjanji menyerahkan syarat-syarat tersebut Jumat, 28 Juni 2019, sebelum pembacaan tuntutan pada Senin, 1 Juli 2019. 

Baca Juga : Kasasi Ditolak MA, Bupati Pessel Rusma Yul Anwar Klaim Belum Terima Surat Salinan

Jumat pagi, SPE menuju sebuah bank dan meminta RSU mengantar uang ke AVS di sebuah pusat perbelanjaan di Kelapa Gading. Setelah mendapat uang Rp200 juta AVS menemui YHE di kompleks perbelanjaan yang sama, untuk menyerahkan kantong kresek berwarna hitam yang diduga berisi uang haram itu dan dokumen perdamaian. 

"Dari YHE, uang diduga diberikan kepada AGW sebagai Aspidum yang memiliki kewenangan untuk menyetujui rencana penuntutan dalam kasus ini," ujar Syarif.

Dalam operasi tangkap tangan ini KPK juga mengamankan barang bukti berupa uang tunai dalam bentuk valuta asing berkisar Sin$21 ribu. 

"Terdapat barang bukti uang tunai dalam mata uang asing yang kami amankan dari lokasi, yaitu sekitar Sin$21 ribu. Proses perhitungan secara rinci sedang dilakukan," kata Syarif. (*)

Editor : DNJ | Sumber : CNNIndonesia.com
TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]