Selangkah Lagi, OCMHS Jadi Warisan Dunia UNESCO


Senin, 01 Juli 2019 - 21:10:13 WIB
Selangkah Lagi, OCMHS  Jadi Warisan Dunia UNESCO Lobang Mbah Suroe, salah satu situs sejarah sebagai lubang tambang dalam batubara pertama di Indonesia. Nama Mbah Suroe diambil dari nama seorang mandor saat penambangan di jaman Kolonial Belanda. RIKI YUHERMAN

SAWAHLUNTO, HARIANHALUAN.COM- Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto atau Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto (OCMHS) selangkah lagi akan ditasbihkan menjadi Warisan Dunia United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO). Penentuan OCMHS sebagai Warisan Dunia akan diumumkan pada pertemuan World Heritage Commite (WHC) UNESCo ke -43 di Baku Azerbaijan hingga 10 Juli 2019.

Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto merupakan satu satunya perwakilan Indonesia dalam pengusulan atau nominasi warisan dunia UNESCO yang telah melewati tahap panjang hingga mencapai tahap akhir melalui Sidang WHC UNESCO. Berbagai cara dalam proses pengusulan telah dilakukan dengan mulai persiapan berkas nominasi, mengadakan pameran, workshop serta berbagai pertemua koordinasi lainnya

Walikota Sawahlunto, Deri Asta kepada Haluan mengatakan, sidang Komite Warisan Dunia UNESCO merupakan bagian akhir dari perjalanan panjang Sawahlunto, dalam mempersiapkan diri menjadi Warisan Dunia.
“Semua syarat dan proses administrasi sudah dilengkapi melalui tim penilai independen ECOMOS. Kini, 21 negara yang tergabung dalam Komite Warisan Dunia melakukan sidang, Sawahlunto tentu sangat berharap,” ujar Deri Asta.

Jika dalam Sidang ke-43 Komite Warisan Dunia di Baku, Azerbaijan, yang akan berakhir 10 Juli mendatang Sawahlunto dinobatkan sebagai warisan dunia tentu akan menjadi sebuah lompatan besar bagi kota tambang batubara tertua di Indonesia, dan mensejajarkan Sawahlunto dengan 11 situs warisan dunia di Indonesia yang sebelumnya sudah ditetapkan UNESCO.

Mulai dari Candi Borobudur, Prambanan, Taman Nasional Komodo, Taman Nasional Ujung Kulon, Situs Manusia Purba Sangiran, Taman Nasional Lorentz, Taman Nasional Sembilang, Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Nasional Kerinci Seblat, hingga Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, dan Cultural Landscape Subak Bali.
"Memegang status warisan dunia, tentu akan memberikan nilai lebih bagi Sawahlunto khususnya, dan daerah sekitar yang ada di Sumatera Barat pada umumnya. Semoga saja tiket menjadi warisan dunia itu diterima Sawahlunto dari UNESCO," ujarnya.

Wako juga mengungkapkan, kebijakan besar yang diambil Pemerintah Kota Sawahlunto pada 2004 silam, berupa revitalisasi aset bersejarah kota tambang, ternyata memiliki pengaruh besar, dalam mengantarkan Sawahlunto sebagai salah satu nominator situs Warisan Dunia UNESCO. Revitalisasi aset yang dilakukan di masa kepemimpinan Amran Nur itu, berupa kebijakan alihfungsi Komplek Dapur Umum menjadi Museum Goedang Ransoem, dan Stasiun Kereta Api jadi Museum Kereta Api. Museum Kereta Api itu, sekaligus tercatat sebagai museum kereta api kedua di Indonesia, setelah Museum Kereta Api Ambarawa. Setahun berselang, kedua museum itu kemudian diresmikan Wakil Presiden, HM Yusuf Kalla, 17 Desember 2005.

"Semuanya kita serahkan hasilnya pada sidang WHC UNESCO ini. Saya sendiri akan ikut hadir untuk mengikuti perkembangan dari sidang itu sendiri. Meski Indonesia tidak memiliki suara saat situs dari Indonesia itu disidangkan, akan tetapi kita berharap hasilnya bisa sesuai dengan yang kita harapkan bersama," tuturnya.(nto/rki).
 


Reporter : RIKI-NTO /  Editor : DNJ


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com
BERITA TERKAIT

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM